
Lama sekali menunggu kabar dari Cakra, atas penemuan pelaku pelemparan sudah ketemu atau belum. Walau sempat ingin marah sebab tak muncul juga, semua dapat terhindari akibat kesibukkanku mengurusi masalah perusahaan.
Tok ... tok, pintu telah diketuk.
"Masuk!" jawabku santai, sambil netra menatap serius ke arah lap top.
Ceklek, pintu telah terbuka.
"Gimana Cakra?" tanyaku saat dia masuk dalam ruangan kerja.
"Berhasil, Bos. Sekarang buka layarnya, nanti akan nampak gambar pelaku, sebab kini sudah kusambungkan dengan layar bukti dari CCTV," jelas Cakra yang langsung mengambil remot layar monitor.
"Perlihatkan sekarang!" perintahku tak sabar.
Kini nampak dua pelaku yang membuatku sempat tercengang, namun merasa heran dan ingin tahu apa yang sebenarnya pelaku inginkan.
"Apa benar itu pelakunya? Apa kamu tidak salah tangkap?" tanyaku tak percaya.
"Beneran, Bos. Lihat! Aku akan memperlihatkan video awal, ketika kamu baru keluar dari mobil, dan nampak si cewek itu telah melemparnya," jelas Cakra.
Kini layar berukuran jumbo, menampakkan seorang wanita pelaku utama sedang membawa ketapel, yang diikuti oleh seorang pria muda dari belakangya. Terlihat wanita itu begitu lihai mengayunkan ketapel, dengan telur-telur busuk itu tepat mendarat ditubuhku.
"Wah ... wah, berani sekali dia. Ternyata dia tangguh juga, untuk menghadapi sang Arjuna," pujiku dengan rasa penuh kekesalan.
"Aku juga sempat kaget dan itulah kenyataannya. Untung saja ada CCTV yang terpasang dari gedung sebelah perusahaan kita, jadi bisa dengan mudah mendapatkan bukti siapa pelakunya," terang Cakra.
"Memang siapa dia? Tak mungkin dia berani melakukan itu, tanpa tahu dulu siapakah diriku sebenarnya?" tanyaku sebab penasaran atas identintasnya.
"Dari hasil penyelidikan, mereka berdua adalah cucu dari sang pemilik tanah yang akan jadi sengketa kita nanti," jelas Cakra.
"Benarkah itu? Wah, ternyata mereka main nyerang secara diam-diam. Hahahah, tapi bod*hnya mereka terlalu gegabah, hingga kalah juga untuk menghadapi sang Arjuna. Dasar tak guna. Awas saja, akan kubuat kau malu dan menerima akibatnya, sebab telah berani menentang dan mempermalukan diriku," cakapku yang diiringi gelak tawa, namun setelah ingat pelaku yang ada, kini hanyalah emosi telah bersarang.
__ADS_1
"Kayaknya kita akan kesusahan menghadapi mereka semua, tapi mana kita tahu sebelum mencobanya. Benar tidak, Bos?" cakap Cakra.
"Benar juga, maka dari itu siapkan lima puluh anak buah kita, untuk segera datang ke tempat mereka. Suruh mereka untuk memaksa pemilik utama yang memegang tanah itu, untuk ikhlas segera menandatangani kepemindahan pemilik. Untuk masalah pelaku pelempar telur itu, lepaskan mereka sebab aku ada cara halus, untuk perlahan-lahan mempermalukannya balik dan tunduk dibawah kuasaku. Lagian tak level juga jika melawan wanita dan bocah ingusan itu," suruhku pada Cakra.
"Baik, Bos. Perintahmu akan aku laksanakan segera," jawab Cakra penurut.
Kini aku hanya seorang diri menatap sinis pemandagan luar lewat kaca perusahaan, saat Cakra sudah pergi untuk menjalankan perintah. Pikiran begitu dipenuhi oleh rencana-rencana yang licik, yang nanti bisa membuatku semakin terkenal dan dianggap diatas segalanya, jika berhasil merebut tanah itu.
*******
Tangan terus saja sibuk bergerak, menandatangani beberapa file-file yang menjadi tugasku. Semua perusahaan papa, kini telah menjadi milik dan semua telah dibawah kendaliku, sebab beliau sekarang sudah sakit-sakitan akibat penyakit strok telah datang pada beliau, hingga diharuskan duduk dikursi roda selamanya, sebab telah menyerang kakinya hingga tak bisa berjalan lagi.
Keluargaku sangat dihormati dan terkenal disemua kalangan pengusaha. Namun semua isi dalam keluarga tak membuatku bahagia, saat papa yang tak bisa berjalan itu telah menghianati mamaku tercinta, dengan menikah siri dengan wanita janda yang sudah mempunyai anak. Rasa sakit hatiku begitu dalam, saat tiap kali melihat mama telah menangis sendirian diatas pembaringan, sambil mengharapkan papa datang kala itu.
Rasa benci masih tersimpan dihati, walau diluar nampak baik-baik saja. Sifat papa yang egois begitu kubenci, saat masih sehat bugar telah melupakan kami keluarganya, namun setelah sakit kenapa dia kembali pada keluarga yang pernah dilupakannya dulu. Masa kelam kadang memang selalu menyakitkan, namun aku tak mau terus-menerus menatap ke arah belakang lagi, sebab ada sejuta sayatan rasa sakit itu.
Tok ... tok, sebuah ketukan pintu telah mengagetkanku, saat melamun mengenang kembali masa-masa tersulit kehidupan keluarga kami.
"Heeeh ... heeeh! Gawat ... gawat, Bos!" cakap Cakra yang sudah ngos-ngosan main masuk nyelonong saja.
"Apa maksudnya?" Keherananku bertanya.
"Huuufff ... huuuuf, gawat Bos. Ternyata mereka tak menyerah juga atas mempertahankan tanah itu. Mereka telah melawan kami, dengan cara melempar batu, memukul pakai kayu, hingga menyemprot tubuh kami dengan lumpur. Lihat ... lihat, tubuhku bonyok semua akibat ulah mereka," keluh Cakra tak suka.
Mataku melotot takjub, dengan mulut terus saja menahan tawa.
"Hahahahha, ck ... ck, sungguh malang nasibmu sekarang, Cakra. Mungkin itu memang pantas untukmu, ha ... ha ... ha!" jawabku malah mentertawakan dia.
__ADS_1
"Muka hancur gini malah diketawain, dasar Bos yang tak berperasaan. Ini semua awal-awalnya juga menuruti keinginan Bos juga kali," tutur Cakra tak suka, dengan baju sudah kotor semua.
"Hihiiihi, iya ... iya. Aku paham. Dasar mereka itu, ternyata ingin melawan dan membuktikan seberapa kuatnya perlawanan kita. Lihat saja! Pasti akan kubuat mereka jadi tak bisa berkutik lagi," cakapku tegas.
"Benar itu, Bos. Balaskan dendamku ini. Aww ... aaw, sheees! Rasanya sakit semua badanku sekarang," keluh Cakra memegang pergelangan tangan.
"Sudah. Bersihkan badan dan obati segera luka kamu itu. Kerja kerasmu ini tak akan sia-sia, sebab ada bonus menantimu," cakapku memberikan iming-iming.
"Benarkah itu? Wah, Bos memang yang paling keren dan baik hati," pujinya.
"Haiiist, dasar. Kalau masalah uang saja mata kamu langsung ijo, kalau disuruh mengerjakan sesuatu selalu saja gagal," sindirku.
"Hehehe, maklumlah Bos. Bujang mencari cinta, butuh sekali modal untuk kencan," jawab santai Cakra.
"Dasar otak-otak yang mau enaknya saja. Hidup 'noh dipikirin, jangan cari cewek melulu yang dalam otakmu," keluhku tak suka.
"Hehhehe, maklumlah Bos masih dalam tahap mencari cinta yang cocok, jadi sekarang butuh modal banyak-banyak."
"Iiiishhh, bawel amat mulut kamu kayak emak-emak rempong. Cepetan pergi sana, ngak habis-habis nanti bahas masalah percintaan kamu itu," jawabku tak senang.
"Hmm, ok 'lah. Aku pergi sekarang. Bye ... bye, Bosku sayang!" Kegilaan kata-kata Cakra.
"Haiiisttt, kutampol bener mulut kamu itu. Seenaknya manggil ... manggil, sayang," ujarku marah, yang sudah ingin melepas sepatu, untuk kulempar ke arah Cakra.
"Ha ... ha ... ha, jangan marah-marah melulu, Bos. Cakepnya hilang nanti, 'kan akunya ngak bisa mencintaimu lagi, hahahahha!" gelak tawa Cakra yang semakin mengila.
"Wah ... wah, dasar gila. Bhuuugh," Tanpa belas ampun lagi, sepatu sudah mendarat mengenai pintu.
"Hahahhahahah, wleeek. Tak kena ... tak kena, hahaha!" gelak tawa dengan cara mengejek dekat pintu menyembulkan sedikit kepalanya.
"Awas kamu, Cakra. Nanti kita akan bertemu lagi dan pastinya akan kuhabisi kamu," teriakku mengancam.
__ADS_1
Cakra adalah teman sekaligus bawahan, yang selalu saja ada disampingku baik suka maupun duka. Usia kami yang hampir sempantaran, selalu saja tak cangung-cangung bercanda ria, sebagai teman bukan lagi atasan sama anak buah.