Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Si Dia yang tidak rela


__ADS_3

Kerjaan akan bertambah pusing, karena majikan akan sibuk mengatur rencana pernikahannya. Semua pekerjaan sekarang diserahkan padaku.


"Enak juga ternyata jadi bos, tapi sayangnya otak terlalu pusing memikirkan bisnis yang tidak ada habisnya ini. Heeh, nasib ... nasib, padahal ingin bersantai sedikit pada kerjaan minggu-minggu ini, tapi kenapa malah semakin membuatku kerepotan," keluh hati yang bikin mood ambyar.


Tangan memeriksa beberapa berkas penting. Netra sudah sibuk dan fokus mempelajari beberapa file. Mudah bagi bos Arjuna mengerjakannya, sebab dia memang pria pintar yang tak terkalahkan. Aku juga bisa, namun karena bukan ahli dibidangnya, maka sedikit agak lambat menyelesaikan.


Tok ... tok, sebuah ketukan pintu telah hadir dari ruangan kerja bos besar.


"Masuk!" jawabku saat masih fokus pada berkas-berkas.



"Permisi, Pak. Ada tamu yang ingin masuk," Pemberitahuan pegawai.


"Oh, iya. Suruh dia masuk saja."


"Baik, Pak."


"Hei, Baby!" sapa suara Sonia.


"Waduh, si centil kok bisa-bisa datang diwaktu yang tidak tepat, sih! Pasti dia nanti akan banyak tanya-tanya. Semoga saja jawabanku nanti akan tetap menyelamatkan pertemanan kami," guman hati yang mulai gelisah.


"Lho ... lho, kok kamu yang duduk disitu?" Kekagetan Sonia dengan telunjuk mengarah ke tempat duduk kebesaran bos.


"Dia lagi sibuk, jadi aku yang mengantikan," jawabku santai.


"Sibuk apaan? Kok sampai-sampai sekertaris yang mengerjakan sendiri?" imbuhnya.


"Lagi ada urusan pribadi yang penting."


Brak, tanpa diduga Sonia sudah mengebrak meja kerja dengan kedua tangannya.


"Urusan apa itu?" tanyanya lagi dengan sorotan mata yang begitu tajam.

__ADS_1


"Aku kurang tahu juga."


"Alaah, kamu pasti bohong."


"Tidak ada 'lah."


"Jangan bohong, Cakra. Hanya kamulah satu-satunya teman yang selalu bisa kuandalkan, jadi tolong katakan dimana dan sedang melakukan kesibukkan apa Arjuna sekarang?" desaknya masih tidak percaya.


"Huuf, beneran Sonia."


Wajah Sonia sudah memperlihatkan cemberut, dengan netra yang kelihatan sendu ingin menitikkan airmata.


"Ee'eeh, kamu kenapa?" Balik tanyaku yang bingung atas sikap Sonia sekarang.


"Huuuwaaa, kamu sekarang mulai bisa dan pintar membohongiku. Kamu benar-benar tega sama teman sendiri," keluh Sonia yang mengencangkan tangisannya.


Suuuut, karena tidak ingin para pegawai curiga dan berdatangan kesini, aku mencoba menenangkan sonia secepatnya sekarang.


Suara yang Sonia kencang takut-takut jika para pegawai berpikiran jelek tentang diriku, yang sedang ingin mencelakai atau melakukan hal tidak senonoh pada Sonia.


"Tidak mau!" jawabnya penuh kemanjaan.



Sudah berusaha untuk menenangkannya, tapi perkataanku tidak digubris sama sekali oleh Sonia, malahan dia semakin mengencangkan tangisan yang tidak ada lelehan airmatanya.


"Iya ... iya, aku akan mengatakan yang sebenarnya dimana kekasih hatimu itu, tapi janji dulu hentikan tangisanmu itu," pintaku yang akhirnya mengalah.


"Hah, benarkah itu?" Kegembiraannya yang akhirnya bisa tenang.


Ada sedikit airmata yang jatuh, yang kini langsung diusap oleh tangan Sonia sendiri.


"Iya, benar."

__ADS_1


"Lalu katakanlah sekarang," pintanya tidak sabar.


"Tapi apakah bisa menjamin kalau kamu tidak menangis seperti sekencang tadi, jika aku mengatakan semuanya," cakapku mencoba bernegosiasi.


"Emm, kujamin pasti itu."


"Baiklah, aku akan mengatakan dimana bosku sekarang, yang tidak bisa hadir diperusahaan beberapa hari kedepan."


Wajah Sonia sudah menatapku dengan keseriusan, membuatku jadi tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Emm, gini. Tapi kamu beneran harus tenang, jika mengetahui yang sesungguhnya nanti."


"Emm, pasti itu. Sudah, ayolah jangan berbelit-belit."


"Baiklah. Bos besar sebenarnya telah sibuk mempersiapkan pernikahannya," ucapan dengan berat hati mengatakan yang sesungguhnya.


"Apa?" Kekagetan Sonia dengan mulut sudah menganga terbuka lebar.


"Sudah, jangan terlalu lebar membuka mulutnya, takutnya lalat nanti masuk," ucap sudah menangkupkan bibirnya agar bersatu menggunakan jariku.


"Heem. Tidak ... tidak, aku tidak percaya yang kamu katakan sekarang. Mana mungkin Arjuna akan menikah, sedangkan yang kutahu dia tidak mempunyai pacar sama sekali. Itu tidak mungkin, pasti kamu berbohong lagi," cakapnya yang tidak percaya, sambil kepala terus saja tergeleng-geleng.


"Ini kenyataan, Sonia. Jadi relakan dia untuk tidak kamu miliki." Tangan sudah menepuk pelan bahunya, agar dia lebih bisa tegar.


Inilah yang tidak aku sukai, ketika melihat seorang wanita melelehkan airmata begitu sendu dan menyayat hati.


"Sudah, jangan menangis begitu. Bukankah masih banyak pria diluaran sana, yang bisa kamu miliki. Bos Arjuna mungkin bukanlah takdir dan jodoh kamu, sehingga dia harus mendapatkan wanita dambaan hati lain," cakapku berusaha menguatkan dia.


Tangisannya terus saja sesegukan tidak mau berhenti. Aku yang berdiri didepannya harus dibuat bingung, sebab harus bagaimana lagi untuk menenangkannya.


Tangan berkali-kali ingin memeluknya tapi takut jika Sonia akan marah, sebab tidak ada hak untuk sembarangan menangkupkan tubuh kami.


Sreek, diluar dugaan jas yang bersih dan mahal, sekarang sudah dibuat buang ingus oleh Sonia, akibat dia terlalu menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Ya ampun, ini cewek cantik-cantik kok jorok amat. Hadeh, apes benar dah aku sekarang. Mau menyuruh dia pergi, takutnya tersinggung sedangkan kami adalah teman baik. Iiih, jijik amat huwaaaaaa!" guman hati yang kini gantian yang menjerit menangis.


__ADS_2