
"Apa kamu tahu hari ini, hari apa?" tanya Cakra membingungkan.
"Emang hari apaan?" balik tanya tidak mengerti.
"Hadeh, masak lupa, sih."
"Sungguhan, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud itu."
"Hari ini, hari kelahiran bos."
Uhuuuk ... uhuk, tiba-tiba air yang sedang kuminum, tidak sengaja bikin tenggorokan sedikit kecelakaan.
"Kamu tidak apa-apa!" Cakra langsung menyodorkan tisu.
"Uhuuuk ... uhukkk, aku baik-baik saja."
"Sepertinya kamu memang tidak tahu hari ulang tahun bos."
"Maafkan aku. Ingat bulannya saja, tapi tidak ingat sama tanggal. Kamu tahu sendiri kami menikah dengan waktu singkat, jadi belum sempat mengenal jati diri masing-masing lebih dalam." Tangan sibuk mengelap mulut yang belepotan oleh air.
"Dipahami."
"Em, terus gimana nih?"
"Gimana ... gimana maksudnya?"
"Masak kita tidak merayakan hari specialnya ini?"
"Oh, maksudnya mau kamu rayakan."
"Yang jelas, iya. Lagian siapa tahu dengan aku memberikan kejutan dia bakalan tidak marah lagi."
"Wah, ide bagus itu."
"Iya. Terus gimana?"
"Em, sebentar mau mikir dulu."
"Kelamaan!" keluhku.
"Iya sebentar. Emm--?"
"Gimana, kalau kamu buat kejutan?" Ide Cakra datang.
__ADS_1
"Gimana, yah? Aku tidak pandai buat yang kayak gituan."
"Tenang saja. Nanti aku bantuin."
"Benarkah?" Tak percaya.
"Iya. Asal ada fulus tambahan."
"Maunya," Ketus jawaban.
"Ya harus, dong. Tiap pekerjaan harus ada harganya, termasuk yang disebut upah habis melakukan kerja."
"Iya ... ya. Aman pokoknya."
"Sipplah. Semua aman, nanti aku bantuin mengerjakan semua.
"Setuju. Deal!" Tangan sudah terulur.
"Deal!" Cakra menyambut baik tanganku.
Wajah kami sudah sama-sama tersenyum nakal. Bayangan akan rencana kejutan, pasti akan membuat Arjuna terkaget-kaget.
"Eghemm!" Suara deheman yang tiba-tiba mengangetkan kami, yang masih asyik menjabat tangan.
"Eeh, Bos. Kata tadi mau istirahat. Kok ... kok sekarang!" Cakra sudah merasa heran.
"Aku mau ke perusahaan sebentar. Ada pertemuan penting dengan klien, dan sekarang kita harus pergi."
"Oh, begitu."
"Iya. Kita harus berangkat sekarang!" Arjuna sudah melengkingkan suara.
Tangan sudah bersedekap didepan dada, mulai nampak angkuhnya datang.
"Eeeh, iya."
"Ngak pakai lama!" tekan Arjuna dengan netra melirik ke arahku.
Cakra yang awalnya bersantai makan bersamaku, sekarang dibuat panik untuk menuruti suami yang kelihatan tidak senang dan marah.
Netra hanya acuh tapi tetap selidik melihat tingkah polah suami yang sedang memakai jaket.
"Dasar. Manusia aneh. Banyak benar sikapnya yang berubah-ubah," keluh dalam hati.
__ADS_1
Tangan cakra sudah melambai-lambai dengan senyuman penuh arti, namun Arjuna sudah memaksa agar tangan itu segera turun, dengan netra melotot mau meloncat keluar. Aku yang masih sibuk makan, hanya bisa sewot melihat tingkah suami yang kian waktu kian nampak menyebalkan.
"Pamit dulu, mau berangkat! Bye ... bye," ucap Cakra.
"Iya. Hati-hati dijalan."
Cakra terus melambaikan tangan.
"Emm. Bos!" Cakra berbicara lagi.
"Apa?"
"Apa kamu tidak ingin berpamitan juga?" Keheranan Cakra.
"Malas."
"Hidih, suami yang kejam. Romantis sedikit kenapa sama istri. Pamit yang baik-baik, sebab kadang doa istri itu akan selalu dijabah."
"Bawel." Arjuna menjawab sambil sibuk memakai sepatu.
"Bukan gitu, Bos. Sebagai teman aku cuma mengingatkan. Tak baik melakukan itu. Kalau istri tak dipamiti dengan baik, nanti ngambek dan tidak mau bicara juga, awas saja berbalik dongkol saja. 'Kan tidak baik begitu. Ujung-ujungnya Bos sendiri yang kerepotan nanti."
"Mulut kamu hari ini makan apaan, sih? Ngoceh kayak mau jadi penceramah saja."
"Heehehe, enggak juga. 'Kan niatnya baik mau mengingatkan."
"Sudah, tidak usah banyak bicara lagi. Nanti kita akan terlambat menemui klien, jika terus mendengarkan suaramu yang bikin telinga panas."
"Ayo! Cepetan," Suara Arjuna tak sabar mengajak Cakra keluar.
"Tapi ... tapi--?"
"Cium tangan punggung dulu sama istri, noh!" Cakra masih saja mengingatkan.
"Bawel." Tangan Arjuna terus saja menarik Cakra, agar segera mengikuti langkahnya.
"Hadeh. Susah dah!"
"Kami pergi dulu. Hati-hati dirumah!" teriak Cakra sebelum tubuh menghilang dari pandangan.
Hanya memberi acungan jempol, sambil terus berpura-pura sibuk makan. Kalau bukan suami saja kepalanya sudah kugetok pakai panci, biar otaknya yang rada konslet itu bisa segera kembali sempurna.
Klunting, sendok kubanting kuat dipirong.
"Memang kamu siapa? Berani-berani mengacuhkanku. Awas saja. Akan aku buat perhitungan sama kamu nanti. Hahhahah!" tertawa jahat sambil memikirkan rencana gila untuk membalasnya.
__ADS_1
Sisa-sisa makanan yang tinggal sedikit langsung kubuang. Piring bekas makan kucuci. Berkali-kali piring kuusap kasar saat menyabun, ketika mengingat kembali sikap Arjuna yang sangat menjengkelkan hari ini.