Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Tamu hotel yang aneh


__ADS_3

Keadaan kampung kecil yang didirikan oleh kakek buyut kini jadi sepi, ditambah pendapatan tentang hotel kian turun drastis tidak ada pemasukan lagi, akibat keadaan kampung yang terasa mencekam.


"Heeh, gimana mau maju hotel ini, jika pengunjung saja sekarang tidak ada. Apa yang harus kulakukan, agar semua orang datang ke desa ini untuk menyaksikan keindahan alam yang tersaji?" rancau hati yang bingung.


"Kerja yang bener, jangan ngelamun saja, awas nanti ke sambet sama hal-hal yang kayak gituan," cakap Tio yang membuyarkan lamunan, saat dagu kutaruh dimeja recepcionist penerimaan tamu.



"Ya elah, kesambet apaan pagi-pagi begini? Kamu aja noh yang kesambet, biar tak ada lagi yang jahilin kakakmu ini. 'Kan bagus jika kesambet, semua harta dan kasih sayang orang tua akan jadi milikku, hahahaha!" gelak tawaku pura-pura.


"Hiliih, bilang saja mau menang sendiri. Dasar kakak lucnut, maunya melenyapkan adeknya sendiri," balas cakap Tio tak suka.


"Habisnya kamu bandel dan paling mudah dilenyapkan, betul ngak!" jawabku santai sambil menahan senyum.


"Ya elah, benar-benar kakak kurang ajar. Adek sendiri mau dibunuh. Apakah salahku, apakah dosaku, hingga kau tega ingin membunuhkuuuuu!" Suara mengelegar Tio sedang bernyanyi.


"Hadeh, suara kayak kaleng bekas diseret saja pakai nyanyi segala, keras pulak nyanyinya, bikin sakit telinga tahu! Kau tak salah, tapi ulahmu yang bandel itu yang memuakkan. Lagian kasih sayangku kini sudah teralih pada sesorang, wlueeek!" jawabku berbohong sambil menjulurkan lidah.


"Apa ... apa? Siapa dia? Aku jadi kepo ini?" balas ucap Tio ingin tahu.


"Hidiiih, anak kecil tak boleh tahu. Belum cukup umur dan dewasa untuk mengerti cinta-cintaan. Sudah pergi sono, belajar yang pinter," suruhku agar Tio segera berangkat sekolah.



"Jiiieleh, pelit amat. Ini juga mau berangkat sekolah, hanya kakak saja yang tadi ngoceh-ngoceh kayak burung untuk mengajak debat," keluh Tio yang kini mencium tangan punggungku.


"Iya ... ya. Sudah cepetan berangkat, sana! Nanti terlambat pulak, bisa kena semprot si mbok nanti," jawab menyuruh.


"Siip, bawel. Bye ... bye! Jangan ngehalu lama-lama, sebab dibelakang kakak itu ada putih-putihnya, itu ... tuh!" cakap Tio sudah berlari kencang menghindar, yang kini ingin menakut-nakutiku.

__ADS_1


"Dasar adek lucnut, masih saja mau mengerjai," teriakku marah, yang mana tangan sudah memegang kain lap.


"Wwweek, ha ... ha ... ha," Suara mengelegar gelak Tio puas.


Dengan sikap ancang-ancang, kini tangan siap melempar kain lap yang kotor habis membersihkan meja, agar puas memberi pelajaran pada Tio.



Pluuuk, ternyata sasaran tepat sekali mengenai wajah.


"Eee'eh, ya Tuhan. Apa ini? Kain itu ternyata tak terkena, Tio. Waduh, mati ... mati aku!" guman hati yang kaget, saat kain tepat mengenai wajah seorang pria, yang berada tepat di tengah-tengah pintu masuk hotel.


Dengan berjalan sedikit berlarian, kini aku menghampiri pria itu untuk segera menebus kasalahan.


"Maaf ... maafkan saya, kak. Tadi tidak sengaja melempar kain itu. Benar 'kan Tio!" ucapku sudah mengangukkan kepala dua kali, dimana kelapa sekarang tertunduk tak berani menatap.


"Iya, kak. Maafkan kami, sebab kakakku tak sengaja mengenai kakak tadi," Pembelaan ucap Tio, yang kini ikut bediri disampingku.


"Tidak apa-apa. Sudah saya maafkan, kok!" jawabnya santai.


Ketika pria didepan kami berucap, kepala yang tertunduk kuangkat kembali. Tio berkali-kali menyenggol lenganku, saat terus saja menyalahkanku atas tindakan barusan.


"Kakak sih, main lempar sembarangan tadi!" keluh Tio berbicara pelan sambil berbisik.


"Kamu juga tadi, yang godain kakak. 'Kan jadinya sekarang kena orang lain," Balik lemparku menyalahkan Tio.


Sreeeeeeet, dengan kuatnya kain lap yang kotor, saat warnanya bagaikan terasi, kini dibuat untuk buang ingus. Aku dan Tio yang melihat itu langsung dibuat terperangah, dengan bulu kuduk mulai merinding jijik.


"Ya salam, benarkah apa yang dilakukan pria ini? Apa dia tidak lihat dan jijik, atas kain yang begitu kotor? Iiiiih, dibuat buang ingus pulak. Sangat ... sangat menjijikkan," rancau hati yang menatap keanehan pada pria didepanku.

__ADS_1



"Apa disini benar hotel untuk menginap?" tanyanya, sambil netra berkeliling menyapu setiap sudut hotel.


Langkah gagahnya kini menuju tempat meja penerimaan tamu. Aku dan Tio mengikutinya, sebab masih ada sedikit rasa bersalah atas kedatangannya tadi.


"Iya, Kak. Ini hotel. Memang kakak mau menginap disini 'kah, atau ada keperluan yang lain? Kami akan siap membantu," tanyaku.


"Aku hanya ingin menginap saja, dan mencoba melihat-lihat pemandangan dikampung kecil ini. Apakah bisa?" imbuh tanyanya.


"Oh, jelas bisa ... bisa, kak!" jawabku antusias.


"Namun aku ingin pelayanan yang terbaik, apa kalian bisa penuhi?" cakapnya yang sok sombong.


"Muka culun saja minta pelayanan yang terbaik, apa ngak salah?" guman hati yang aneh.


"Bisa, tapi biasanya harganya agak mahal. Apa kakak masih mau atas tawaran ini?" jawabku.


Bhaagh, dua gebok uang pecahan warna merah, sudah terlempar dimeja receptionist. Aku dan Tio lagi-lagi dibuat tercengang, sebab tak percaya atas pemberian si pria culun ini.


"Siapkan kamar, dapur, pemandangan, posisi jendela, dan kenyamanan yang terbaik, sebab aku tak suka ada orang yang ingkar janji, serta tidak senang sama pelayanan yang setengah-setengah. Apakah uang itu cukup tidak? Apa mau tambah lagi jika kurang? Sebab aku ingin menginap disini selama satu bulan penuh," ucapnya tegas penuh wibawa.


"Wah ... wah, ini lebih dari cukup, kak!" jawab Tio yang urung untuk segera pergi berangkat sekolah.


"Bagus kalau begitu, siapkan semuanya dengan segera, sebab secepatnya aku ingin mengetahui bagaimana layanan kalian pada tamu," ujarnya ambigu.


"Baik, kak. Kami akan menyiapkan yang terbaik!" jawabku pasrah.


"Terima kasih," jawabnya sombong, saat kini sudah duduk dikursi tunggu.

__ADS_1


Sekarang aku telah disibukkan menyiapkan semua permintaan pria itu, dengan dibantu kedua orangtua saat kuceritakan segalanya. Tio sudah kusuruh berangkat sekolah. Hati rasanya ada sedikit perasaan curiga atas sikap pria itu, dia kelihatan angkuh, sombong, namun anehnya dia culun seperti orang bodoh saja.


Walau hanya ada satu pengunjung saja, namun kami masih tetap harus memberikan segala pelayanan yang nyaman dan terbaik, sebab siapa tahu hotel yang kami kelola akan berkembang pesat suatu saat nanti. Rezeki pasti tak akan kemana, kalau kita memiliki ilmu sabar dalam menghadapi situasi ini. Keindahan panorama kampung sebenarnya sangat bagus, menarik, dan masih asri atas keindahan alamnya, namun sayang sekali masih bamyak orang yang tidak tahu, karena lokasinya yang terpencil dan jauh dari perkampungan seperti kota-kota lain.


__ADS_2