
Tangan sudah memegang pisau, rasanya ingin sekali kucincang-cincang tubuh Arjuna yang sudah membuat kesal saja. Jangan mentang-mentang ada yang membantu membersihkan rumah, tapi dia seenaknya membuang kulit sembarangan.
"Kalau tidak disengaja, lalu apa namanya? Dasar pria yang selalu menang sendiri, mentang-mentang ini rumah kamu tapi seenaknya saja menambah pekerjaanku," keluh hati yang begitu dongkol.
Jangan gara-gara sakit banyak alasan saja mau membuat kerja dua kali. Kalau tidak sakit saja ogah banget melayaninya, yang dari tadi menyuruh ini 'lah itu 'lah.
"Liona ... Liona?" teriak Arjuna.
Rasa kesal masih bersemayam, jadi kuacuhkan saja panggilannya.
"Liona ... Liona?" teriaknya lagi.
"Astaga, ada apa dengan itu orang. Kenapa harus teriak-teriak segala? Tidak peka apa jika sedang kesal kepadanya? Dasar manusia batu yang tidak sadar kalau aku lagi marah," Pisau sudah kutancapkan pada buah apel sisa mengambilkan untuk Arjuna tadi.
Kesal sebab dipanggil terus, maka akupun luluh menghampirinya. Namun semakin ingin mendekatinya, suara kian melemah seperti orang sedang sekarat saja.
"Astagfirullah, Arjuna!" Teriak kagetku, saat melihatnya tergolek lemah dilantai dekat kulit jeruk yang berantakan.
"Hei, Arjuna ... Juna! Ada apa dengan kamu?" Wajahnya sudah kutepuk-tepuk, saat mata mulai sayu-sayu ingin terpejam.
Tangan Juna sudah memeganggi dada, yang sepertinya nafas tidak beraturan tersendat-sendat.
"Tunggu ... tunggu, sebentar disini!" Kepanikan yang langsung menuju kamar.
Gawai diatas kasur langsung kusambar, mencoba menghubungi seseorang yang bisa membantuku sekarang.
Tut, gawai mencoba menghubungi seseoramg.
"Ayo ... ayo, angkatlah!" Kepanikan ketika tidak diangkat-angkat panggilanku.
Tut ... tut, handphone kembali melakukan panggilan.
[Hallo]
[Alhamdulillah, akhirnya kamu mau mengangkatnya juga]
[Cepetan datang kerumah, Arjuna dalam keadaan gawat darurat sekarang]
[Apa? Memang apa yang terjadi padanya?]
__ADS_1
[Sudah, tidak usah banyak tanya. Pokoknya kamu cepetan datang kesini]
[Ok ... ok, aku akan segera datang kerumah kalian]
Panggilan untuk Cakra sudah terputus. Semoga saja dia bisa datang dengan cepat.
"Astagfirullah, waduh Arjuna! Ingatlah Liona, akan suami yang sudah tak berdaya dilantai tadi," guman hati yang kembali ingat keadaan Juna.
Secepatnya aku berlari menuju posisi tubuhnya yang pingsan sudah lemah.
"Hei, Juna. Bangun ... ayo bangunlah!" Kepanikanku yang terus saja menepuk-nepuk pipinya.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada kamu. Ayo, bangunlah! Huwaa, jangan buat aku takut begini. Astagfirullah, bangunlah Juna!" Tanpa diduga airmata kepanikan telah luruh.
Tidak tahu cara memberikan pertolongan pertama yang harus dilakukan untuk orang pingsan, maka hanya bisa mengosok-gosok pelan tangan Arjuna yang terasa dingin berkeringat.
Cukup lama juga menunggu Cakra. Setelah sekian detik, akhirnya nampak Cakra sudah berlarian tanpa rem, yang langsung menghampiriku saat masih menangis tersedu-sedu.
"Ada apa ini?" tanya Cakra mulai panik juga, saat melihat bosnya tak sadarkan diri.
"Nanti saja kita tanyakan sama dokter, sebab aku juga tidak tahu," jawab dalam tangisan.
"Iyyy-ya."
Waktu serba singkat dan cepat. Tidak menunggu lama datanglah ambulan, mungkin Cakra tadi sudah memanggilnya duluan sebelum datang kesini. Jarak apartement dengan perusahaan agak dekat, jadi Cakra juga bisa sigap memangkas waktu untuk cepat datang kesini.
Aku ikut mobil ambulan menemani Arjuna. Tangannya tak lepas kugenggam terus. Sebuah alat untuk membantu pernafasan sudah terpasang, sebab kelihatan Arjuna susah sekali untuk sekedar menghirup udara.
Semua orang sigap membawa Arjuna masuk ke dalam rumah sakit.
Cakra sedang sibuk mendaftarkan Arjuna, sedangkan aku ikut berlarian bersama petugas rumah sakit, untuk membawa Arjuna ke ruang UGD. Lampu sudah menyala merah.
Wajah kutangkup dengan kedua telapak tanganku. Rasanya tidak kuat lagi menahan wajah kesedihan ini. Duduk dengan gelisah yang kulakukan sekarang.
"Gimana, Liona?" tanya Cakra sudah datang.
"Tidak tahu. Arjuna sedang menerima penanganan didalam," jawab serak-serak bergetar intonasi nada.
"Sudah, kamu tenang saja. Aku yakin bos akan baik-baik saja," Cakra berusaha menenangkanku.
__ADS_1
"Iya, semoga saja." Titikan embun tak luput masih menetes.
"Emang apa yang terjadi? Kenapa bos Arjuna bisa sampai kayak gitu?" tanya Cakra penasaran.
"Aku juga tidak tahu. Cuma tadi mengeluh lagi tidak enak badan. Aku terlalu sibuk sama urusan kebersihan rumah, jadi tak banyak waktu untuk mengawasi dia tadi," jelasku sendu.
"Emm, sakit? Bukannya tadi pagi baik-baik saja? Aneh sekali," Cakra malah mengatakan yang membuatku terheran.
"Aneh gimana?" balik tanyaku.
"Ya, aneh saja. Perasaan, bos Arjuna itu kalau deman masih saja giat bekerja, tapi ini kok aneh banget demam dikit saja malas untuk bekerja," terangnya.
"Entahlah. Mungkin dia sedang .terlalu capek juga."
"Bisa jadi."
Beberapa menit kemudian, dokter akhirnya keluar bersama suster. Aku dan Cakra langsung berdiri bersamaan, dan menghampiri mereka yang berseragam putih khas milik rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya tidak sabar.
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Kami sudah memberikan penanganan yang tepat pada pasien," jawab ramah beliau.
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Cakra ikutan bertanya.
"Ini hanya sepele saja sih kasusnya."
"Maksudnya, Dok?" tanya Cakra lagi.
"Pasien terkena alergi obat dan parahnya obat yang dia minum sudah kadarluarsa," Keterangan beliau.
"Astagfirullah, apakah itu benar, Dok?" ulang tanyaku tidak percaya.
"Iya, benar itu. Tapi untung saja kalian membawa pasien kesini dengan cepat.
Efek keracunan obat ada bermacam-macam, mulai dari diare, muntah, mual, sakit kepala, pusing sampai gejala-gejala yang terkait gangguan fungsi persarafan otonom, misalnya berdebar-debar, rasa ingin pingsan, mulut kering/berbusa, jari dingin dan sesak. Persarafan otonom ialah sistem persarafan yang mengatur sebagian fungsi tubuh secara tanpa sadar, seperti irama pernapasan, denyut jantung, ukuran pembuluh darah, produksi liur, gerakan saluran cerna dan sebagainya. Obat-obatan rekreasional umumnya dapat menyebabkan sejumlah gangguan fungsi otonom. Karena berpotensi memengaruhi fungsi organ vital (seperti tekanan darah, denyut jantung, irama napas), Anda sebaiknya memeriksakan diri," terang panjang lebar beliau.
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi menyimpan obat kedaluwarsa di rumah. Misalnya sisa antibiotik yang kamu ambil ketika sakit, sebab akan benar-benar memperburuk kondisi. Pasien sekarang hanya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, perawatan atau cukup pemantauan berkala saja," imbuh beliau.
"Iya, Dok. Terima kasih atas penjelasannya. Maafkan kami jika sudah lalai memberikan obat," Cakra sudah menangkupkan kedua tangan didada.
"Iya, tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir. Pasien baik-baik saja, pasti sebentar lagi akan siuman. Kalau begitu saya pergi dulu, untuk melanjutkan pekerjaan lain yang sedang menunggu," pamit beliau.
"Iya, Dok. Terima kasih."
__ADS_1
Aku hanya bisa memberikan senyuman kecut, sebab pikiran begitu kacau akibat telah salah memberikan Arjuna obat, sehingga dia sekarang terbaring lemah dirumah sakit.
Kenapa dengan bodohnya diriku langsung memberikan obat itu, tanpa melihat dulu tanggal kadaluarsanya, yang padahal bungkus sudah ada sedikit perubahan warna. penyesalan hanya terjadi belakangan. Semua sudah terjadi, jadi sekarang hanya perlu menyiapkan diri untuk meminta maaf pada suami.