
Mata belum sepenuhnya sadar dari bangun tidur. Langkah kaki terhuyung-huyung ingin melihat jam dinding yang terlekat ditembok. Tangan sudah meraba-raba handphone, namun setelah dicari hilang tidak tahu dimana tergeletak.
"Sudah jam berapa ini? Kenapa Arjuna belum datang-datang juga?" Rambut yang tergerai berantakan segera kubenahi.
"Astagfirullah!" Tangan mencoba menekan tombol saklar lampu ketika sudah keluar dari kamar.
Keadaan seluruh ruangan begitu gelap. Tidak segaja tadi ketiduran dan lupa untuk menghidupkannya.
Setelah terang semua, nampak balon tetap diposisi semula yaitu berserakan dilantai dan rapi didinding. Sedangkan makanan sudah dingin. Waktu sudah menunjukkan diangka delapan. Cukup lama juga terlelap tadi, sekitar dua jam lebih.
"Kenapa jam segini belum pulang juga! Bukankah tadi mengatakan kalau hanya sebentar saja ketemu klien. Hufff, apakah dia masih marah dan tak ingin kembali ke rumah," Pikiran sudah melayang-layang tak karuan lagi.
Duduk lemas disofa. Pandangan kosong lurus ke arah telivisi. Wajah yang ada riasan, kali ini mungkin sudah berantakan karena dibuat tidur.
Bau masakan sudah tak tercium sesedap ketika baru masak tadi. Rasanya ingin kubuang saja, tapi kalau tidak dimakan nanti tidak ada hidangan untuk menyambutnya.
Mulai memahami bahwa penderitaan, kekecewaan, dan kesedihan bukan untuk menyusahkan, merendahkan atau merampas martabat kita, tetapi agar terus mendewasakan dan mengubah kehidupan kita.
"Jangan bertanya kenapa aku dingin terhadapmu. Bukan begitu, aku hanya berhenti berusaha dan berharap. Mungkin inilah aku yang lelah berharap tinggi-tinggi, tapi suatu saat akan merasakan dikecewakan. Kau sangat membuatku berdebar, namun sayangnya kau tak melihat itu dari dasar hati yang terdalam ini," Netra begitu nyelanang melihat pemandangan dikaca apartemen.
"Aah, sudahlah. Mungkin Arjuna memang tidak ingin menemuiku hari ini. Usahaku mungkin sia-sia. Selamat ulang tahun, wahai Juna. Semoga kamu bahagia selalu. Sehat dan selalu diberkahi rezeki. Doaku tetap akan selalu bersamamu, walau kita suatu saat nanti akan terpisah sekalipun." Rasa sedih mulai terjadi. Rasanya nyesek saja hari ini begitu terabaikan.
Tidak ingin terlarut dalam kesedihan. Lampu semua ruangan kembali kumatikan dan mencoba meneruskan alam mimpi. Mungkin kalau keblabasan memikirkan hubungan kami, pasti kanan kiri kening sudah tertempel koyok. Untung saja efek lelah telah membuatku bisa tidur lebih awal-awal lagi.
Bagaikan berabad-abad mata melek, sekarang rasanya puas sekali tidur malam ini. Sampai pada akhirnya ada sebuah tangan terasa sedang meraba-raba bagian pinggangku. Netra terlipat kuat sekali, saat merasakan ada getaran-getaran ketakutan yang akut.
"Ahhh, siapa ini? Ya Allah, selamatkan aku jika ini orang jahat!" Keringat mulai bercucuran.
__ADS_1
"Kenapa sialnya lampu tadi kumatikan. Kenapa tak mendengar dia tadi masuk kamar? Apakah dia orang yang ingin berbuat tak senonoh padaku. Oh Juna, kemana kau? Kenapa belum pulang juga? Aku takut banget ini, cepat ... cepat tolong diriku, pulanglah." Lama-lama tangan jahil itu semakin mempererat ingin memeluk dari belakang.
Ketakutan membuat seluruh tenaga melemah. Rasanya tak mampu untuk sekedar mengangkat jari saja.
Bagaikan terhipnotis, diri ini hanya terdiam tanpa ada pergerakan-pengerakan sedikitpun. Kalau berani saja, pasti sudah kutendang pusakanya itu, namun sayang seribu sayang hanya wanita pelemah.
"Sebentar ... sebentar. Emm, bukankah rumah ini pakai kode untuk masuk? Apa jangan ... jangan dia ini?" Tebakkan pada seseorang.
Indra penciuman mencoba menghirup bau parfum, yang mulai menguar diseluruh ruangan. Berkali-kali mengendus, dan pada akhirnya dugaan pasti tidak meleset.
Seketika membalikkan badan, dan ingin melihat sesorang yang ternyata sedang melihat wajahku dengan seksama. Walau kamar dalam keadaan gelap, masih ada cahaya remang-remang yang menyinari dari luar ruangan.
"Kamu?" Kekagetan mengangakan mulut.
"Kenapa tidur duluan tanpa menunggu."
"Yang jelas, iya."
"Kenapa? Apa kau tidak rindu padaku?" goda Arjuna.
"Enggak." Tegas jawaban.
"Benarkah itu? Apa aku perlu memberi contoh dan membuktikan itu?" Tantangnya.
"Hehhe, enggak boleh ya!" Ketakutanku saat Arjuna sudah berani berpindah posisi duduk diatas perut.
"Kenapa? Apa kau takut?" ucapannya yang bikin bulu kuduk kian meremang.
Bagaikan didatangi hantu, semua bulu kuduk sudah berdiri semua. Dengan hawa kian panas-panas dingin menerpa area seluruh tubuh.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh, Arjuna!" cakapku berusaha mencegah agar dia tidak berbuat hal lebih extrim lagi.
"Aneh-aneh gimana? Sedangkan kamu sekarang sudah sah menjadi milikku!"
Tangannya mulai jahil mengelus-mengelus pelan pipiku. Hembusan angin yang harum berkali-kali membuat wajah dingin, akibat terpaan keharuman nafas. Seluruh pesendian bergetar, terasa ada sengatan listrik yang merajai. Ada getaran yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata atas perlakuannya itu.
"Jangan kurang ajar. Sekarang turun dan lepaskan diriku," Mencoba mengiba.
"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?"
"Astaga, orang ini tadi barusan kesambet apaan dari luar? Atau jangan-jangan kurang minum obat," guman hati yang terus ketakutan.
"Gini ya, akkk---?"
Belum sampai melanjutkan percakapan untuk ceramah. Tanpa persetujuan, Arjuna main sambar saja bibir ini. Kedua tangan tidak bisa bebas bergetak, akibat dia kunci saat berusaha meronta-ronta. Pasrahlah atas keadaan yang kurasakan sekarang.
Pelan-pelan tapi perlahan, mulai menjelajahi setiap inci area bibir. Perlakuan yang bikin mata terbelalak tak percaya. Awalnya begitu terkatup rapat sekali bibir ini, namun lama-kelamaan dia mulai lincah ingin menguasai daerah yang terjaga. Habislah sudah kesucian bibir yang selama ini terjaga.
Sama-sama saling terbuai, sampai aku tak menyadari kalau tangan Arjuna mulai menjelajahi baju yang masih terkancing rapat. Ingin mencegahnya dengan menghadang tangan, namun dengan kuat dia menepis kembali tangan. Kalah kekuatan yang kurasakan sekarang. Beberapa menit kemudian, satu dua kancing telah berhasil terbuka.
"Stop, Juna. Jangan lakukan ini?" Kepala berusaha menjauh, dan bibir yang sempat saling terbuai kegairahan akhirnya bisa bebas terlepas.
"Jangan lakukan ini?" ibaku yang rasanya ingin terisak saja.
Netra yang memerah tak berani menatapnya, takut-takut kalau Arjuna akan murka, sebab sudah dua kali aku menolak keinginannya secara kasar.
"Hhhhh, aku memahami itu. Maafkan aku!" Arjuna sudah tidur terlentang pembaringan.
Posisinya masih didekatku, tapi tidak bikin keadaan setegang tadi.
Rasanya cukup lega juga saat terlepas dari jeratan kelakuannya. Dada yang meledak akibat deg-degkan, kini bisa kembali ke posisi normal. Wajah langsung kututup dengan selimut. Ada rasa malu dan nyesek saja, saat takut Arjuna akan kecewa lagi.
__ADS_1