
Liona kali ini hanya dapat menyimak dan banyak diam, saat Mama begitu antusiasnya mengatur semua. Diriku tak luput juga hanya bisa mengiyakan saja. Mungkin Mama terlalu bahagia atas pernikahan anak satu-satunya ini, sehingga semua harus nampak sempurna.
Kami akhirnya menuju ketempat pemotretan. Baju sedang kami lihat-lihat untuk cocok dipakai yang mana. Mama terus saja menyapu pandangan keseluruh pakaian pasangan yang dipajang rapi dikaca.
"Gimana kalau kalian memakai yang itu saja. Pasti sangat cocok untuk jadi pangeran dan Putri," tunjuk Mama.
"Apa itu tidak terlalu terbuka bagian atasnya, Ma!" keluh Liona.
"Ngak pa-pa, sayang. Ini hanya untuk pemotretan kalian berdua saja, bukan acara resmi pernikahan nanti. Lagian warna bajunya kontras sekali dengan kulit kamu, jadi Mama sarankan agar kalian memakai itu saja," suruh beliau.
Liona hanya bisa melirik sebentar kearah tepat diriku berdiri, dan aku hanya menjawab dengan menengadahkan tangan ke atas sebatas dada.
"Baiklah, Ma!" jawab Liona pasrah.
Baju yang dipilih Mamapun sudah kami ambil, untuk segera terpakai ditubuh kami, tapi sebelum itu wajah dirias dulu agar menambah perfeck atas pemotretan nanti.
"Wah, anak Mama memang selalu tampan dari dulu," puji beliau saat melihatku sudah rapi berganti baju.
"Eem, dari dulu memang anakmu ini selalu cool dan ganteng," saut membenarkan.
__ADS_1
Tangan Mama sudah mengelus pelan baju yang ada dibagian bahu, kemudian membantu membenahi dasi yang sedikit miring. Bahu sudah ditepuk beliau dengan keras, seakan-akan tahu jika aku sekarang sedang tegang melakukan ini. Walau kami hanya bersandiwara, namun pengalaman akan menikah yang baru pertama kali sangat membuat gugup akut.
"Mama, sangat bahagia akhirnya anak tertampanku sekarang akan menikah. Tangan kecilmu yang dulu sering Mama genggam untuk bermain dan mencurahkan segala kasih sayang, kini Mama akan melepaskannya agar bisa behagia bersama orang lain." Serak parau suara Mama, ditambah netra mulai berkaca-kaca.
"Mama, jangan bilang begitu. Walau akan menikah bersama orang lain, tangan Mama akan tetap kugenggam sebagai Ibu yang terbaik didunia ini. Kasih sayangku tidak akan pernah pudar pada engkau wahai, Mama. Sampai kapanpun aku adalah anak tertampanmu dan satu-satunya," jawab mulai ikut-ikutan sendu, sambil mencium takzim tangan beliau.
"Terima kasih, Nak. Selama ini kamu adalah orang satu-satunya yang membuat Mama bahagia dan terus menghibur lara hati ini, ketika Papamu telah menyiksa bathin Mama. Tiada paling indah ketika melihat wajahmu yang bahagia akan menikah ini." Lelehan air mata beliau kini benar-benar mengalir pelan dari sudut pelupuk mata.
"Jangan ingat-ingat lagi masa lalu yang terlalu kejam itu, Ma. Aku tidak akan membiarkan airmatamu ini terus berjatuhan. Bagiku airmata ini sangat berharga, jadi jangan membuka lagi lara hati itu," cakapku sudah mengusap pelan lelehan airmata yang jatuh dipipi.
"Iya, Nak. Kamu memang anak Mama yang terlalu berharga." Mama sudah memeluk erat tubuhku.
"Ya Tuhan, Apakah aku terlalu berdosa, jika Mama nanti mengetahui rencana kami yang menikah diatas perjanjian. Raut wajahnya nampak begitu gembira melihat pernikahan ini."
Srek, suara bunyi besi bergeser, akibat sebuah kain gorden telah terbuka.
"Gimana, Ma?" tanya suara Liona.
Aku yang awalnya membelakangi tempat ganti pakaian wanita, langsung saja sikap memeluk Mama kulepas untuk melihat sumber suara itu.
Mata sudah terbelalak tidak percaya atas apa yang kulihat sekarang. Liona begitu cantiknya dibalut oleh gaun pengantin. Perubahannya begitu dratis, bak bidadari yang baru saja turun dari khayangan.
"Awas nanti air liurnya jatuh, lho!" tegur Mama saat mulut menganga tidak percaya yang kulihat barusan.
__ADS_1
Seketika mulut kututup rapat-rapat, dengan wajah mencoba beralih melihat ke arah lain, sebab malu sekali dipergokki Liona, yang kini tersenyum sinis penuh kepuasan.
"Super duper cantik bagaikan putri. Benar ngak Arjuna?" simbat Mama memberikan dua acungan jempol.
"Eeeh, kenapa Ma?" tanyaku pura-pura tidak mengerti
"Makanya jangan terpesona lama-lama, 'Kan jadinya tidak fokus sama pertanyaan Mama tadi," ledek beliau menang.
Tebakkan beliau semakin membuatku malu bukan kepalang, sehingga hanya dapat menjawab dengan senyuman mringis, sambil mengusap-usap tekuk leher yang tidak gatal.
"Terima kasih atas pujiannya, Ma!" jawab Liona ramah, tersenyum manis ke arah kami.
"Sama-sama, Nak. Ya sudah sana, kalian lakukan pemotretannya yang mesra. Senyum harus indah dan bagus, biar fotonya nanti nampak sempurna," suruh Mama.
"Eghem ... hmm, baiklah Ma." deheman yang mulai grogi.
Entah apa yang dikatakan Mama barusan, membuat tangan semakin berkeringat dingin. Sikap yang semula biasa saja sekarang dilanda grogi luar biasa, yang membuat hawa dingin kini terasa panas. Tangan berusaha mengipas-ngipas badan, mencoba menghilangkan rasa yang tak karuan lagi bentuknya.
Tangan begitu gemetaran saat sesi pengambilan gambar, dengan posisi seperti memeluk. Ada rasa canggung dan kaku diantara kami, namun Mama yang terus mengawasi membuat situasi semakin terpaksa. Wajah beliau yang begitu bahagia, sungguh tak tega jika tak menuruti. Situasi begitu terpojok, sehingga membuat kami terus mengalah atas keadaan.
Hati yang deg-degkan, membuat jantung rasanya akan copot saja. Berulang kali aku terus saja menghembuskan nafas kasar, untuk mencoba menghilangkan rasa grogi akibat berdekatan terus dengan Liona.
__ADS_1