Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Pertemuan yang tak mengenakkan


__ADS_3

Obrolan terus terjadi bersama mertua. Saking asyiknya sampai lupa kalau beliau harus dihormati. Beliau bisa mengambil hati mengajak berbicara, bagaikan teman sendiri bukan lagi anak dan mantu. Banyak tentang Liona yang tak kuketahui sekarang jadi terkuak, dari mulai kebiasaannya sehari-hari bahkan masa remaja, yang suka bandel dan nakal tak luput beliau ceritakan juga.


Papa tidak pernah mengajak berbicara empat mata begini seperti mertua, yaitu ketika dari remaja sampai sekarang. Benar- benar suasana yang selama ini kurindukan . Sibuk sama pekerjaan dan selingkuhannya itu, membuat papa melupakan anak kadungnya ini, maka dari itu kebencian dalam hati terus saja bersemayam.


Teh yang telah disuguhkan terus saja kuseruput, ditemani juga kue-kue kering berasa manis dan sedikit asin. Beliau begitu sabar menanggapi ucapanku, sungguh beruntung Liona memiliki sosok ayah yang sangat mencintai dan selalu hadir disampingnya.


"Lama sekali dia belum kembali?" ucapku sudah berkali-kali melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan.


"Mungkin sebentar lagi, sebab dari tadi tamu itu minta diantar ke sekeliling kampung ini," terang beliau.


Tidak tahu siapa yang dimaksud beliau, sehingga membawa istriku lama sekali berkeliling. Rasa lelah habis bekerja kukesampingkan dulu, takutnya jika ada kejadian yang tak diinginkan pada diri Liona saat baru saja kami telah mengikat janji suci.


"Apa sudah lama hotel ini berdiri?" ucapku berbasa-basi sambil netra mencoba menyapu pandangan ke atas atap.


"Lama juga, sih. Dari zaman warisan nenek buyut sampai sekarang. Untuk menjaga keawetannya kami hanya merenovasi sedikit-sedikit mengikuti perubahan zaman modern," jawab mertua.


"Ooh, patut saja. Banyak kuda-kuda atap rumah dan tiang dari kayu yang kokoh dan ukirannya adalah seperti orang yang ahli, yang kemungkinan orang zaman sekarang tidak bisa melakukannnya," Kekaguman.



"Benar itu. Bapak saja tidak bisa mengukir setiap detail kayu-kayu ini, yang padahal termasuk keturunan langsung. Kakek buyut Liona adalah seorang ahli pelukis, maka dari itu mudah untuk beliau membuatnya," jelas Bapak mertua yang kini ikut-ikutan melihat kesekeliling ruangan santai dihotel yang beliau kelola.


"Mungkin benar itu, Pak."


Netra terus saja mengawasi inci demi inci tiang yang kini berada dekat denganku. Sungguh ukiran bagus tiada tara, sangat mempesona dan bikin orang yang melihatnya pasti akan berdecak kagum.


Beliau yang duduk saling berhadapan denganku, sibuk sedang menyeruput juga teh buatan ibu mertua tadi. Dari raut wajah ketara sekali, kalau beliau orangnya sangat mengayomi dan sabar. Dari gaya bicara sangat pelan dan tak banyak berbelit. Suka sama cara beliau yang asyik diajak bercerita.


Suara seorang laki-laki yang tengah gaduh berbicara sudah terdengar. Langkah kaki mulai sayu-sayu mendekati posisi kami yang tengah duduk santai.


"Uhuuk ... uhuuuk!" Suara batukku akibat tersedak minuman teh, saat tak percaya melihat seseorang yang barusan datang.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Bapak khawatir.


"Uhuuk ... uhuk. Aku tidak apa-apa, Pak!" jawaban sudah melambai tangan mengayun turun, memberi aba-aba kalau keadaanku aman.


Liona dan Kenzo begitu tenang mendekati kami. Dari wajah Kenzo nampak sumringah tersenyum terus dan itu membuatku muak serta memanaskan dada saja.


"Wah, kamu ternyata baik juga, sudah mau datang ke tempat istrimu ini," ledek Kenzo.



"Memang ada yang salah dengan itu?" ketus jawaban.


"Tidak salah tapi aneh."


Kenzo sudah membuang muka kearah samping kanan, dengan mata melirik tajam seperti tak suka. Sikap yang selama ini kubenci dan ingin sekali kugampar sifatnya itu.


"Aneh gimana? Sedangkan wanita yang bersamamu sekarang dia adalah istriku, jadi aku punya kewajiban menjaganya mulai dari sekarang," bantah jawaban.


"Ya ... yah, lupa kalau kamu sudah menikah. Memang harus dijaga baik-baik agar tidak kabur sebab tidak tahan," singgung Kenzo menghina.


Sikap yang awalnya duduk dikursi spon, kini berdiri terjingkat ingin menjajarkan tubuh dengan Kenzo. Pandangan kami sudah sama-sama saling melotot tajam tak suka.


"Maksud kamu apa? Kalau berbicara jangan sembarangan. Tidak tahan karena apa? Jangan ngadi-ngadi berbicara untuk mencari masalah. Orang yang tidak dianggap dan selalu biikin onar ya begini, selalu saja mengorek-ngorek hak pribadi orang," balik jawaban menghina atas diri Kenzo.


"Apa yang kamu bilang? Bikin onar? Apa ngak salah itu," Kenzo masih saja ingin menyulutkan api kemarahan diantara kami.


"Sudah ... sudah. Apa-apaan kalian ini. Kalau mau ribut jangan disini. Malu sama pelanggan hotel yang nanti tak nyaman jika kalian berbuat ulah," Liona mulai angkat bicara.



"Benar itu. Kalau kalian ada masalah pribadi lebih baik dilesaikan ditempat lain, jangan disini sebab menganggu para tamu hotel," Bapak ikut bersuara.

__ADS_1


Teguran mereka membuat kami sedikit tersadar. Memang kami punya masalah pribadi diantara keluarga, tapi tak seharusnya selalu dibawa keluar jalur ditempat lain.


Seketika tak ada suara dari mulut kami, namun sorot netra terus saja menatap tajam yang siap ingin berduel saja.


"Ayo kita pulang saja, daripada melihat orang yang selalu membuat masalah bikin mood ambyar saja," ajakku pada Liona.


Tangan sudah menarik pelan telapak tangan Liona agar dia mau ikut.


"Hey, siapa yang kamu maksud pembuat masalah. Jangan asal ceplos saja kalau ngomong," teriak Kenzo tak terima singunganku barusan.


Tak kupedulikan lagi perkataan dia yang masih ngomel-ngomel. Sikap sekarang berusaha menghampiri Bapak, yang telah geleng-geleng kepala merasa aneh atas sikap kami berdua. Tangan beliau langsung kucium untuk segera berpamitan. Liona hanya nurut saja saat kuajak.


"Kami pamit dulu, Pak. Lain kali akan kembali kesini bila ada waktu senggang nanti," ucapku.


"Iya, hati-hati dijalan nanti."


"Iya, Pak!" Tangan kanan Liona sibuk menyalami, sedangkan tangan kiri tetap kugenggam.


"Pasti itu, Pak."


"Ayo, sayang!" Kemanjaan perkataan.


Mulut sudah terbungkam rapat, tapi gigi telah bergemerutuk ingin menelan bulat-bulat Liona saja. Matapun ikutan beraksi mendelik, menandakan tak suka atas ulahnya yang berani keluar menemani Kenzo tanpa seizinku, namun Liona hanya menanggapi santai seperti tak terjadi apa-apa dan tidak masalah.


"Kita pamit juga sama ibu," cakapnya meminta.


"Ahaa, tentu saja. Ok 'lah, kita akan kesana sekarang," jawaban santai.


Tangan terus kutarik agar secepatnya pergi dari hadapan Kenzo. Saat melewati tubuh Kenzo yang berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana, tanpa basa-basi lagi bahu sengaja kubenturkan kuat kepadanya.


Senyuman kecut dan sinis telah membalas perlakuanku itu, namun tak menanggapinya balik, sebab sudah malas untuk cari masalah dan gaduh dengannya.

__ADS_1


__ADS_2