
Mobil sudah sampai. Cakra yang masih berpegangan erat dibadan kursi, hanya dapat melongo dan mulai menenangkan diri sendiri ketika takut merasakan badan mobil yang berlengak-lengok menyalip. Langkah seribu kuambil. Tidak sabar melihat keadaan Liona.
"Mana Mama?" tanya langsung tidak sabar.
Akhirnya bisa memasuki rumah dengan aman. Keadaan rumah utama sedang sepi, mungkin keluarga tiri yang pengacau itu sedang sibuk dengan dunia glamornya.
"Nyonya sedang dikamar bersama nona. Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan!" Pembantu memberitahu.
"Tidak ada, Bik. Terima kasih atas informasinya."
Tidak sabaran, membuat mengacuhkan pembantu yang berusaha ramah menyambut. Kaki sudah tergesa-gesa menaikki anak tangga. Jumlahnya sangat banyak sampai kaki merasa sedikit pegal.
Ceklek, pintu kubuka cepat.
Terlihat Mama sedang memeluk Liona. Baju yang masih sama ketika aku tinggal kemarin. Didalam kamar orangtua, ada sebuah koper yang bertengger tenang. Menduga-duga jika Liona dari Bali langsung menuju ke sini.
Mama langsung berdiri melepaskan pelukan Liona. Melihat wajah wanitaku yang sudah berlinangkan airmata begitu deras, hati begitu teriris tidak tega. Wajahnya begitu kacau. Mata sembab dan memerah.
"Ya Tuhan, kenapa aku begitu tega menyakiti hati wanitaku? Maafkan aku sayang, jika masalah ini bikin kamu menitikkan airmata," Didalam dasar hati sangatlah bersalah.
Plak, satu tamparan keras didaratkan Mama. Hanya berani memegang pipi dan menundukkan kepala.
"Kenapa ... kenapa kamu tega sama menantu Mama, hah! Apa salah Liona?" Mama terus memukuli bahuku.
Menerima semua kepasrahan ini dengan diam. Pukulan itu tidak terasa sakit sama sekali, netra yang menatap Liona terus menjatuhkan bulir-bulir embun itu lebih menyakitkanku.
"Apa yang kamu lakukan, hah! Plak ... plak. Dasar anak tidak guna. Apa inikah yang selama ini Mama ajar. Buat apa Mama menyekolahkan kamu tinggi-tinggi, tapi kelakuan kamu begitu bejat seperti Papa kamu. Kenapa ... kenapa, Juna?" Mama memukuli sambil menangis.
__ADS_1
"Hentikan ... hentikan, Tante!" Cakra berusaha mencegah agar aku tidak terus dipukuli.
"Biarkan saja, Cakra. Anak kurang ajar dan tidak tahu diuntung. Kalau perlu Tante tidak mengharapkan dia jadi anak. Dia benar-benar bikin kecewa," Mama makin histeris menangis.
Saat beliau ngoceh yang tidak-tidak, aku hanya bisa mematung dan tidak ada ucapan sedikitpun untuk membantah maupun membela diri.
"Iya, Tante. Paham. Lebih baik tenangkan diri dulu. Kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin," Cakra masih saja berusaha membela.
"Aku tidak bisa meyelesaikan ini dengan kepala dingin," Liona sudah bangkit dari tempat duduknya dipembaringan Mama.
Tangannya menyeka airmata yang dari tadi kian jatuh deras. Ada guratan emosi namun tertutupi oleh kesedihan. Ingjn sekali kuraih dan memeluknya, namun tangan hanya bisa tertahan diam ditempatnya.
Liona melangkah maju mendekatiku. Sorot mata sayu. Wajah cerianya pudar. Langkah gontai dan lemah. Tak sabar ingin kudekati duluan, tapi kaki terpaku tidak ada kekuatan.
"Apa maksudnya?" Nadaku lemah.
"Jangan gila kamu."
"Labih baik aku jadi gila sebab kita berpisah sekarang, dari pada gila karena tidak kuat melihatmu dengan wanita lain. Semua perjanjian atas surat itu akan kubayar semua, jadi tidak akan ada lagi beban hubungan kita ini."
"Tidak bisa. Selamanya aku tidak akan pernah menuruti perkataan kamu."
"Mau kamu apa, hah? Apa kamu mau melihatku menangis terus? Apa kAmu mau aku sakit hati terus? Apa dengan kita bertahan semua masalah akan selesai? Dari awal seharusnya kita tidak melakukan pernikahan ini, sebab aku cukup sadar kalau kita tidak pantas bersatu. Sekarang aku mohon lepaskan aku, sebab itu adalah jalan satu-satunya untuk pernikahan kita," Liona masih kekuh. Sorot mata tajam. Emosinya sekarang begitu meluap-luap.
Ingin banyak kata-kata yang kubantah. Bukti tidak ada, jadi sekuat tenaga apapun membela diri sendiri, akan tetap kalah sama keadaan yang ada didepan matanya.
__ADS_1
"Jangan begitu 'lah, Liona. Kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik. Kamu tahu kalau Bos sudah sangat mencintai kamu, jadi pikirlah dulu kata-katamu itu. Tidak baik jika kamu seorang perempuan minta cerai," Cakra mencoba membantu meluruskan.
"Cinta? Arjuna mencintaiku? Persetan dengan itu." Liona semakin tidak punya sopan.
"Tenang, Nak. Iya, Liona. Jangan lakukan itu."
"Maaf, Ma. Tapi Liona benar-benar tidak bisa bersama dengan Juna lagi. Mungkin kalian akan lihat bahwa dia sangat mencintaiku, tapi kalian tidak tahu dalam dasar isi hati Juna yang sesunguhnya, bisa berkemungkinan besar dia lebih mencintai wanita yang selama berpuluh tahun terus mencintainya, dibandingkan diriku yang baru sepucuk kuku ada rasa sama dia. Mungkin Juna membalasnya dengan tidur bersama dan berani berkhianat," Sadis Liona berkata.
Ingin malayangkan gamparan saja, saat tuduhan liona itu begitu menusuk dalam relung hati. Namun, disini akulah yang bersalah. Semua harus dipertangung jawabkan, terjelaskan, dan terselesaikan.
"Jangan asal menuduh kau, Liona." Emosiku mulai hadir.
"Dimanakah atas tuduhanku yang salah? Dengan mata kepalaku sendiri melihat kamu, begitu pulas dan menikmati dalam satu selimut. Aku bukan wanita bodoh yang bisa kau permainkan. Maka buanglah aku dan hiduplah bahagia bersama wanitamu itu," Liona kembali menderaskan airmatanya.
Mama dan Cakra hanya bisa menyimak. Ketika sama-sama emosi, tidak bisa berbuat banyak untuk kami. Mungkin ingin masuk menceramahi kami, namun Liona disini yang jadi korban, tetap kekuh tidak terima atas masalah yang kubuat.
"Aku tidak bersalah disini. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi percayalah kalau aku bukan pria yang gampangan menerima wanita untuk tidur sekasur. Sekarang kumohon, tarik semua ucapan kamu barusan. Selamanya tidak pernah akan mengabulkan permintaanmu itu.
"Halah, banyak alasan. Mana ada orang yang sudah berbuat salah tapi mau ngaku begitu saja. Sekarang terserah apa yang ingin kamu lakukan. Yang jelas aku tidak mau bersama kamu lagi. Bagiku mulai detik ini kamu bukan siapa-siapaku lagi. Maaf jika ada salah sama kamu. Mungkin banyak hal yang telah kulakukan bikin kamu emosi, jadi maaf-maaf saja. Sekarang cukup sampai disini hubungan kita. Makasih dan kudoakan semoga kalian berdua akan terus bahagia," Lionaa sudah melengggang pergi.
Bulir-bulir itu masih membasahi pipi. Ingin kutahan dia. Tidak ada daya sekedar mencekal. Mematung yang bisa kulakukan. Celah seakan-akan telah tertutup untuk kami.
Mama sudah mengejar menantunya itu. Cakra nampak bingung harus membela yang mana. Keadaan semakin tidak terkendali. Jalan yang terbaik adalah dengan diam. Biarkan Liona meluapkan segala uneg-unegnya dulu. Mungkin dia butuh ketenangan atas masalah kami.
Tes, airmata kesedihan telah jatuh. Terpukul dan tidak percaya jika mulai hari ini tidak akan bisa melihat senyumannya lagi. Dada begitu sesak mengenang kata-kata perpisahan.
__ADS_1
.