Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Aku Yang Tergoda


__ADS_3

Dia mengalah juga atas sikapku yang ingin tidur dikamarnya. Sebenarnya banyak pertimbangan yang kupikir masak-masak untuk melakukan itu, namun kekhawatiran yang akut mengalahkan segalanya sehingga perdebatan bathin mengharuskan ingin berdekatan terus dengannya.



"Aku tahu tidak boleh menyentuhmu, tapi sebagai suami sahmu harus melindungi dari apapun itu. Kejadian tadi adalah kesalahan yang fatal, sebab tidak disamping dan menyelamatkanmu. Maafkan aku, Liona. Lain kali akan kujaga kamu walau raga dan jiwa ini jadi korban sekalipun," Bathin yang terusik.


Gawai terus kugeser-geser tanpa tujuan mau apa, sebab pikiran dan hati terus bergulat dengan penyesalan. Liona kelihatan sudah tertidur pulas dengan posisi membelakangiku. Mata mencoba terpejam, namun masih saja enggan tertidur. Sekali-kali netra tak lepas untuk melihat ke arahnya.


"Sial, banget sih. Kenapa aku tidak bisa memejamkan mata kali ini. Apakah gara-gara ada orang lain disampingku sekarang? Hhh, mulai sekarang harus belajar dan membiasakan diri untuk tidur bersama. Gara-gara kikuk pastinya ini," Hati terus bermonolog.


Handphone kuletakkan. Ada guling sebagai pembatas kami. Rasa sejuk ac membuatku harus menarik sedikit selimut yang dipakai Liona. Takut jika membangunkan dia, maka secara perlahan-lahan kugeser selimut itu.


Mata terus nyelanang tidak jelas manatap langit-langit atas. Sudah kukatup mata ini, namun enggan jua terpejam. Sungguh sangat menyiksa, saat jarum jam sudah menunjukkan angka tiga namun masih terjaga jua.


Ketika badan merasa lemas, kupaksakan mata untuk tidur. Selimut kubenahi agar bisa menutupi badan. Wajah kembali menatap yang tidak jelas, yaitu punggung Liona yang masih berposisi membelakangi. Tidak terduga ranjang mulai goyang-goyang, dan lebih parahnya Liona membalikkan badan yang tepat ke arahku. Wajah begitu dekat swkali. Terasa hembusan nafasnya hangat menyapu.


"Ahh, jantung. Janganlah kamu berpacu terlalu cepat. Ini sudah malam, apa tidak kasihan jika aku lelah dan terlalu gusar begini. Jangan sampai aku mati, akibat kamu malam-malam mengajak olahraga"



Baru kali ini merasakan debaran yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ingin rasanya tangan mengelus pipinya yang selembut kapas itu. Takut jika sang empu tiba-tiba bangun, jadi menahan tangan agar tidak jahil.

__ADS_1


Semakin lama semakin tidak bisa mengendalikan diri saja. Rasanya ingin kucaplok segera aanita yang anteng sedang memejamkan mata.


"Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri? Ada yang lucu kah dari wajahku?" Tanyanya tiba-tiba.



"Tidak ada. Hhehe, kamu bangun."


"Jangan bohong. Aku melihatnya tadi, walau mata terpejam."


"Wah, benarkah itu? Nenek penerawang berarti."


"Kan bisa lihat katanya tadi.


"Aaah, capek ngomong sama orang yang tidak jelas."


Aku tersenyum geli sendiri, ketika mengingat moment indah yang kulakukan tadi.


"Kalau lucu sih enggak, tapi sangat mengiurkan!" Godaku yang terus ingin memepetnya.


“Mau apa kamu, Juna? Jangan macam-macam.” Liona sedikit bergeser mundur, sambil memberi peringatan dengan tangannya menyilang agar aku tidak terus mendekat.

__ADS_1


Ternyata sekelas Liona yang keras kepala bisa nervous juga. Biasanya dia selalu tampil percaya diri dan banyak membantah. Kini tampak begitu tegang ketika wajah ini kudekatkan.


“Macam-macam dengan yang sudah halal sepertinya tidak akan jadi masalah.” Mata Liona melotot tajam dan itu membuatku semakin tertantang untuk menggodanya.


Wanita yang membuatku semakin pensaran, mundur sampai ingin terjatuh ditepian ranjang dengan tatapan siaga. Dia memerhatikanku yang terus mendekat, hingga mengurungnya dengan kedua tangan. Kemudian aku tidak ingin menyerah seketika, sehingga berbisik di dekat telinganya.


"Kamu sangat cantik sekali hari ini," Rayuan yang membuatnya makin membelalakkan mata.


Aku hampir menelan ludahku sendiri, melihat pemandangan bibirnya yang masih sedikit merah merona efek menghadiri pesta tadi.


"Jangan macam-macam kamu. Jangan mendekat! Atau aku akan teriak," ancamnya.


"Teriak saja kalau berani. Orang tidak akan berani masuk sebab kau sudah kuhalalkan," Senyuman sudah sinis dengan kegirangan, akibat bisa mematahkan omongan Liona.


Dengan cepat dan brutal menyerangnya dengan ciuman. Liona kelihatan gelagapan. Walau sudah bukan yang pertama, namun kali ini sikapku berbeda makin menganas.



Bagaimanapun aku pria normal dan sekarang menjadi suaminya. Wajar jika aku terpesona melihatnya, dan berhasil membangkitkan apa yang tertahan selama ini.


Sikapku tidak henti-hentinya ingin mengunci Liona, saat tangannya begitu meronta. Bahkan kukunya yang panjang sampai menembus kulit lengan, tapi tidak kuperdulikan itu sebab hasrat yang mendera mengalahkan rasa perih dan pikiran yang telah dikuasai nafs*.

__ADS_1


__ADS_2