
Pikiran kosong. Tidak ada hal lain yang dipikirkan selain masalah cinta. Berharap banyak, agar masalah ini cepat selesai, tapi kelihatannya Arjuna tidak bergerak sama sekali agar hubungan kami segera terputus.
"Hei, Liona."
"Iya, ada apa?"
Hari ini ada janjian sama kakak tiri Arjuna yaitu Kenzo. Dia sering kali berkunjung ke kampung, dengan tujuan ingin menikmati pemandangan alam disini. Sering bertemu dan ngobrol. Dari kedekatan kami yang kian hari kian akrab, Kenzo sepertinya memang orang baik. Tutur bicaranya yang lembut, bisa membuat para wanita langsung jatuh hati.
"Kamu jangan banyak melamun. Ada apa? Apakah kau lagi memikirkan suatu masalah?" Kenzo mulai kepo.
"Tidak ada, kok."
Kami berdua sedang duduk santai, menghadap ke pemandangan kampung yang nampak nan hijau dan menyejukkan dari atas bukit.
"Tidak usah bohong. Pasti sedang kepikiran tentang suami kamu Arjuna, yang ternyata br*ngsek telah tega menghianati kamu, 'kan?"
Mulut kelu, tidak bisa langsung menjawab benar. Walau tebakkannya memang benar, namun tidak ingin membeberkan sembarangan apa yang menjadi delima dalam hati ini.
"Kenapa kamu diam? Kelihatannya dugaanku benar."
"Tidak tahu, Kenzo. Masalahku sama Arjuna menurutku tidak perlu dijadikan hal besar, namun kenapa dia tidak bertindak lebih lanjut lagi, sehingga akupun jadi bimbang dengan harapan penuh kekosongan," ucapku.
__ADS_1
Sebenarnya tidak ingin curhat, namun
sepertinya Kenzo orang yang tepat untuk mengeluarkan sesak didalam hati. Walau kamu belum terlalu begitu dekat kebih lama lagi, tapi sikapnya yang sopan bisa terbaca juga atas kebaikkannya.
Kenzo menatap nanar ke arahku namun aku hanya bersikao biasa saja. "Kamu makanya harus bertindak cepat dan tegas. Segera minta bercerai. Jangan sampai mengulur waktu, sebab bisa jadi akan semakin parah masalah kalian. Kamu itu belum kenal baik siapa Arjuna sebenarnya?"
Menoleh sekejap ke arahnya, dikarekan heran atas penuturannya barusan, apakah bisa dipercaya benar atau tidak.
"Maksud kamu apa?'
"Aaah, masak sih. Setahuku Arjuna itu orangnya pendiam dan tidak banyak tingkah."
"Astaga. Kenapa kamu tidak percaya? Emang tampangku seperti pembohong? 'Kan buktinya sekarang ada, ya contohnya masalah yang dia hadapi sekarang yaitu sudah tega menghianati kamu, yang dengan tega sudah tidur sama wanita lain."
"Iya juga sih. Entah mengapa hati masih agak ragu atas ulah Arjuna jemarin, sebab dia orangnya pendiam dan tidak banyak neko-neko."
Tanpa terkontrol ternyata sudah membela suami. Tidak ada yang menyuruh mulut untuk berkata. Secara tiba-tiba bisa bergerak untuk mengungkapkan itu semua. Menjadi heran juga, jika bisa menilai Arjuna tidak akan sembarangan main perempuan.
"Kamu jangan ketipu sama tampangnya. Dia itu hanya pura-pura polos dan pendiam. Asal kamu tahu saja, kalau Arjuna itu diam-diam menghanyutkan juga. Banyak wanita yang sudah dia jerat dan buang begitu saja. Kamu itu baru kenal dia, jadi mana tahu sifatnya yang suka kotor dan mempermainkan begitu. Aku yang sudah lama dalam satu rumah dengannya, pasti sangat tahu gerak-geriknya dan siapa saja wanita yang sempat diajaknya kencan."
__ADS_1
"Masak sih. Duh, kok aku baru tahu, ya! Hfffff , apakah aku telah salah menjadikan dia suamiku?" Kepala tertunduk sedih.
Begitu kecewa hati, saat mendengar semua tabiat Arjuna yang ternyata playboy. Mungkin aku terlalu terbuai juga sama sikap dan wajah, hingga mau saja mmenerima perjodohan kemarin.
Kalau sudah tahu begini, hanya ada penyesalan dibelakang saja yang dapat kulakukan. Andai waktu bisa diputar, pasti tidak akan menerima perjanjian nikah itu. Hidup jadi menderita akibat salah langkah. Semoga kedepannya ada perubahan menjadi lebih baik. Berharap banyak jika semua bida diselesaikan secepatnya dan secara baik-baik.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Entar malah hikin kamu tambah pusing. Banyak berdoa saja kalau masalah kalian bisa segera selesai."
"Iya, terima kasih atas nasehat dan pengungkapan siapa sebenarnya Arjuna itu."
"Tidak usah sungkan begitu. Kita sekarang adalah teman baik, dan teman itu harus selalu mengingatkan serta menberitahu. Sekarang kamu harus benar-benar menjauhi Arjuna, biar kedepannya tidak terulang terpuruk begini."
"Iya, Kenzo. Ucapanmu benar sekali."
Wajahnya tersenyum lebar. Lagi-lagi dibuat bimbang segala yang berkaitan dengan Suami. Memang salah, seharusnya harus meneliti siapakah Arjuna. Gegabah membuat rumah tangga jadi taruhannya.
Harta seharusnya tidak harus dibuat rebutan, apalagi itu adalah warisan dari kakek buyut. Namun mau gimana lagi jika dikuasai keserakahan. Padahal semua yang ada didunia ini tidak akan dibawa mati. Musuh kemarin begitu kuat, hingga harus berkorban demi kebaikan semua orang. Salah langkah membuat hati jadi percobaan keretakan rumah tangga.
Banyak obrolan yang terjadi antara aku dan Kenzo. Satu persatu mulai terkuak. Kenzo terus saja membicarakan kepribadian Arjuna. Kesal juga sebab tidak mengenalnya dengan baik.
__ADS_1