
Walau semalam dibuat dongkol hati ini, tapi pagi-pagi masih saja bangun untuk menyiapkan sarapan, sebab malas saja kalau si Arjuna nanti akan ngomel-ngomel.
"Pagi!" sapanya yang sudah berpakaian rapi.
"Emm," jawaban malas saat sedang menyiapkan beberapa lauk makanan untuk terhidang dimeja.
Arjuna langsung saja duduk dan mengambil piring. Tangannya mulai menyedok nasi dan beberapa lauk makanan.
"Mau ke mana?" tanya Arjuna saat aku ingin melenggang pergi.
"Mau ke kamarlah. Memang mau kemana lagi," ketus perkataan.
"Kenapa harus ke kamar juga, sementara aku sedang sarapan?" Pertanyaan yang konyol.
"Memang tidak boleh? Lagi malas saja untuk sarapan, karena perut rasanya masih kenyang," jawaban berbohong yang padahal masih kesal pada Arjuna tadi malam.
"Bukan gitu. Tidak sopan saja saat aku makan tapi tidak ada yang menemani," protesnya yang terus mengunyah makanan.
"Lha, memang selama ini kamu 'kan makan sendirian."
"Mana ada. Aku jarang sarapan pagi dirumah, sebab ada kamu yang mau memasaknya jadi buat apa hambur-hamburkan uang untuk makan diluar," jelasnya membuat bibir ini sedikit menyunging tersenyum bahagia.
"Wah, apakah yang dikatakan Arjuna barusan adalah benar, kalau dia betah dirumah untuk sarapan karena ada diriku?" guman hati bertanya-tanya.
"Tidak usah banyak berpikir, sekarang temani aku makan disini."
"Tapi 'kan aku tidak lapar."
"Lapar tidak lapar mulai sekarang harus temani aku disini."
"Ciieh, dasar mau menang sendiri."
"Bukan gitu. 'Kan tidak enak sudah susah-susah memasaknya tidak dimakan."
"Nah tahupun. Tapi kenapa tadi malam tidak mau memakan lauk yang kumasak?" Introgasiku saat tadi malam kesal padanya.
"Tadi malam aku memakannya tapi sedikit. Tidak biasa makan tengah malam, jadi hanya bisa mencicipinya sedikit saja."
"Hah, benarkah? Kok aku tidak tahu."
"Mana bisa kamu tahu. Molor kayak kebo begitu, tidak teringat dengan apapun termasuk didunia ini."
"Hidih, ngatain aku kebo. Kamu tuh beruang kutub, yang suka sekali tidak banyak bicara dan bikin hati orang kesal," sewot bermuka cemberut.
"Mana ada. Jangan ngigau kalau bicara," ketus Arjuna.
__ADS_1
"Kamu orangnya ya mana merasa. Kalau orang lain pasti akan merasa begitu," sautku tidak mau mengalah.
Tergiur melihat masakan sendiri yang nampak lezat. Akhirnya tangan mengambil piring untuk segera bergabung makan. Lagian perut dari tadi malam belum terisi, jadi apa salahnya jika makan sekarang, walau harus malu sama Arjuna yang tadi ngeyel meminta untuk sarapan bersama.
"Apakah yang dia katakan benar, kalau tadi malam dia memakannya? Emm, dari lauk sih memang ada sedikit kayak habis tersendok," guman hati sedang berpikir.
"Aaah, kamu saja yang kelewatan Liona. Menuduh Arjuna yang enggak-enggak. Padahal dia masih menghormati perjuangan kamu memasak, lho!" Hati terus saja berbicara akibat menyesal.
"Sudah, tidak usah berdebat lagi. Aku mau buru-buru berangkat kerja sekarang, nih!" Arjuna sudah meneguk air putih tanda selesai menyudahi sarapan.
"Hmm."
"Setelah pekerjaan membersihkan rumah aku ingin ke tempat orangtua," Meminta izin.
"Tidak masalah, tapi benar-benar harus membersihkan rumah ini dulu. Nanti pulangnya akan kujemput, jadi tunggu sampai pulang kerja dulu," jawabnya menyetujui.
"Apa tidak merepotkan, sementara kamu sering pulang larut malam," singgungku.
"Malam ini tidak ada lembur. Maka dari itu bisa jemput kamu nanti."
"Ok, baiklah."
"Hmm. Ya sudah, kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati dalam perjalanan pulang ke kampung nanti," cakapnya sudah mengulurkan tangan.
Tas kerja yang sempat tergeletak disofa ruang tamu, kini sudah kuambil untuk diberikan pada Arjuna segera. Tangannya sudah melambai-lambai pelan, tanda akhirnya dia sudah melenggang pergi untuk mencari nafkah.
******
Pekerjaan membersihkan rumah akhirnya selesai juga. Membersihkan diri kini yang kulakukan. Baju kaos biasa sudah terpakai, diiringi celana jeans berwarna hitam kini telah melekat dibadan. Tak lupa tas selempang sudah bertengger di bahu, sebagai peneman diriku untuk berkunjung pada orangtua.
Taxi adalah kendaraan yang sudah mengantarkan perjalanan yang jauh ke kampung. Untung saja Arjuna mengizinkan.
Rasanya suntuk saja sendirian dirumah, hanya mengandalkan pekerjaan bersih-bersih saja. Kalau dikampung bisa bercengkrama sama adik dan kedua orangtua. Lagian bisa menjaga hotel juga untuk bertegur sapa dengan tamu.
Perjalanan yang lelah akhirnya membawaku sudah sampai ketempat tujuan. Setelah membayar ongkos, kaki langsung saja melangkah ke rumah orangtua dulu.
Tok ... tok, pintu kuketuk.
"Assalamualaikum!" salamku mengecangkan suara.
"Waalaikumsalam," jawab suara Ibu dari dalam rumah.
"Astagfirullah, Liona!" Kekagetan beliau langsung memeluk.
"Idih, Ibu ini. Main sambar meluk-meluk saja," keluhku saat beliau begitu erat mendekap tubuh ini.
__ADS_1
"Ya tentu, dong. Ibu 'kan juga kangen sama kamu."
"Padahal baru beberpa hari ditinggal pergi, sudah main kangen aja nih."
"Jelas 'lah. Anak Ibu yang cantik ini selalu membawa keceriaan didalam rumah ini, tapi sekarang canda tawa itu tidak terdengar lagi setelah kamu menjadi milik orang lain," jelas beliau sambil merapikan rambutku yang menghalangi wajah.
"Ibu jangan bilang begitu. Walau sudah menjadi milik orang lainpun, aku tetap Liona anakmu yang akan selalu membuat keluarga ini tersenyum dan bahagia," ucapan serak yang gantian memeluk beliau.
"Terima kasih, Nak. Kamu memang anak baik dan kami tidak salah mendidik kamu."
"Emm. Oh ya, mana Bapak?" tanyaku saat melihat ke sekitaran rumah namun tidak nampak beliau.
"Biasalah. Bapak sibuk ngurus hotel."
"Oh, begitu. Liona lebih baik nyusul kesana saja, sebab siapa tahu ada pekerjaan yang Liona bisa bantu."
"Apa tidak merepotkan kamu, sementara pengantin baru pasti akan capek," ledek Ibu.
"Iih, Ibu apaan sih."
"Tidak apa-apa, Bu. Lagian Liona tidak ada kerjaan dirumah. Kalau disini pasti banyak pekerjaan yang bisa menghabiskan waktu, rasanya bosan juga sama pekerjaan itu-itu saja dirumah Arjuna," terangku.
"Ya sudah, kalau begitu. Susul saja bapak ke sana. Ibu tidak bisa menemani sebab sibuk sama urusan rumah dan dapur," suruh Ibu.
"Oke 'lah, Bu. Ya sudah, Liona akan kesana saja."
"Emm."
Langkah langsung menapakki jalanan yang masih berupa tanah. Jarak antara rumah dan hotel tidak begitu jauh, sehingga secepatnya kaki ini sudah sampai.
Bapak terlihat sedang duduk santai sambil menunggu tamu datang. Tangan beliau langsung kucium takzim. Wajah yang sumringah ditunjukkan Bapak seperti raut wajah ibu tadi. Lama kami saling berbincang-bincang mengenai acara pernikahan kemarin.
"Permisi. Apakah masih ada kamar kosong?" Suara pengunjung yang memecahkan obrolan antara anak dan orangtua.
"Ooh, masih ... masih!" Antusias jawaban Bapak.
"Kenzo, kamu!" Kekagetanku saat tahu siapa pelanggan yang barusan datang.
"Emm, ini aku!" jawabnya yang sudah melepaskan kacamata hitam.
"Astaga. Untuk apa dia mau menginap dihotel ini? Kenapa dia tiba-tiba datang ke kampung dan ingin menginap?" guman hati yang terus saja bertanya-tanya.
Semua pelayanan telah kami lakukan. Kenzo sepertinya benar-benar ingin menginap.
Setelah mengisi daftar nama tamu, dia telah memesan khusus untuk mengantarkan jalan-jalan disekeliling kampung ini. Awalnya aku tidak mau mengikuti pemesanan itu, tapi Bapak telah memaksa sebab Kenzo sudah membayar tiga kali lipat.
__ADS_1
"Semoga kedatangannya kesini tidak membawa bencana antara hubunganku dan Arjuna. Semoga dia memang benar-benar ingin berkunjung ke kampung kami," Doa dalam hati.