Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Pertanyaan yang mengesalkan


__ADS_3

Tidak bisa mengeluh saat Kenzo minta diantar untuk jalan-jalan dari sudut ke sudut kampung. Ini semua gara-gara bapak yang main terima saja segembok uang yang berhasil ditawarkan.


"Ternyata kampung kamu begitu sejuk juga, ya. Beda sekali sama dikota yang hawanya panas," Kenzo memulai duluan percakapan.


"Memang disini hawanya adem, sebab banyak pohon besar-besar dan rimbun."


"Enak kalau lama-lama tinggal disini." Netra Kenzo terus saja menatap ke arah atas pohon, mungkin sudah kagum atas pemandangan yang tersedia.



"Emm."


Netra hanya menatap kosong seluruh area kampung yang terasa hutan. Pandangan beralih menatap terus dedaunan dan mulut diam seribu bahasa.


"Kamu ini orangnya pendiamkah?" Kenzo memulai pertanyaan mengoda.


"Tidak juga. Kalau orang tahu dan kenal pasti dibilang aku ini cerewet. Mungkin karena kita baru kenal, makanya banyak diam saja sebab tidak ada hal penting yang bisa dibicarakan diantara kita."


"Oh, iya. Benar juga apa yang kamu katakan barusan."


Langkah kami terus saja menyusuri jalanan masuk ke area hutan. Banyak kicau burung saling bersahutan menyeruakan bunyinya. Hembusan angin terasa begitu dingin, sampai bekali-kali tangan berusaha mendekap tubuh sendiri sebab tidak tahan hawanya.


"Apa kamu kedinginan?" tanya Kenzo sambil menatap tajam ke arahku.


"Sedikit."


"Ini ambil 'lah," suruhnya saat ingin melepas jaket kulitnya.


"Tidak usah ... tidak usah. Aku baik-baik saja, kok! Lagian sudah terbiasa kena dingin begini," tolakku secara halus.


"Jangan bilang begitu. Nanti bisa masuk angin. 'Kan kalau sakit nanti bisa-bisa nyalahin aku juga, sebab sudah menyewa kamu untuk mau diajak jalan-jakan," kekuhnya sudah menyodorkan jaket.


"Tapi ini--?" Keraguan ingin mengambil.


"Ambilah, aku tidak apa-apa." Paksa ingin tetap memberikan.


"Beneran, nih?."

__ADS_1


"Iya."


"Baiklah kalau kamu tidak masalah." Akhirmya tangan mengambil juga pemberiannya itu.


"Emm. 'Kan itu lebih bagus kamu pakai sekarang, daripada nanti sakit. Benar tidak?" ujarnya terdengar genit.



"Hehehe, iya. Terima kasih."


Rasanya tidak enak, tapi Kenzo terus saja memaksa.


Setapak demi setapak jalanan telah kami lalui. Tidak ada obrolan lagi, pikiran mulai sibuk masing-masing sambil menikmati keindahan alam. Daun yang menghijau sangat memanjakan mata. Siapapun yang melihatnya pasti akan ikutan betah berlama-lama dikampung ini.


Hawanya begitu tidak enak. Panas berkeringat mulai terasa dibadan karena lelah berjalan, namun hembusan angin kencang yang bertiup membuat tubuh meriang saja. Telapak tangan berkali-kali kugesek agar terasa hangat.


"Apa kamu masih kedinginan juga?" imbuhnya.


"Enggak juga, kok."


"Lha itu! Tangan kamu digosok-gosok berkali-kali sambil meniupnya. Kalau tidak dingin lalu apa?" ucap Kenzo tidak percaya.


"Oowhh."


"Bolehkah aku tanya sesuatu sama kamu?" Suara Kenzo terdengar serius.


"Emm, apa itu? Tanyalah jika aku bisa menjawabnya."


"Tapi jangan marah nanti," Keraguannya.


"Insyaallah, kalau pertanyaan kamu tidak aneh-aneh."


"Hmm, ok 'lah. Hanya penasaran saja sama hubungan kamu sama Arjuna."


"Lalu?"


Langkah kami sudah mulai memutar untuk kembali ke hotel. Jalanan sedikit curam menurun, dengan pohon-pohon menjulang tinggi dan besar telah setia menemani perjalanan kami.

__ADS_1


"Heran saja sama pernikahan kalian itu."


"Heran kenapa?" imbuh penasaran.


"Ya, heran saja. Kalian ini kok mendadak menikah begitu, memang ada sesuatu yang kalian sembunyikan 'kah? Sebab kalian itu bersama terlalu cepat, sementara kuperhatikan kalian ini kelihatan tidak dekat dan akrab satu sama lain," ucap Kenzo mulai curiga.


"Enggak!" bantah ucapan seketika.


"Jangan ngadi-ngadi kalau berbicara ," sewotnya jawabanku.


"Jangan salah sangka dulu. Aku hanya menebak saja."


"Sama saja!" ketus perkataan.


"Huuff, jangan marah begitu. 'Kan aku bilang hanya menebak. Kalau kamu tidak bisa menjelaskan tidak apa-apa. Maaf ya!" Kenzo sudah berjalan mendahului, dengan tubuh berjalan mundur-munduh berbalik menghadap ke arahku.


"Enggak juga. Hanya tidak senang saja sama ucapan kamu tadi. Masalah pernikahan kami adalah sebuah rahasia dan orang lain tidak perlu tahu. Jadi jangan ikuti urusan kami. Aku sangat mencitai Arjuna, kok! Tapi kami tidak ingin menunjukkan itu didepan orang banyak," lantang perkataan berbohong.


"Emm, rahasia?" ujarnya yang kelihatan masih penasaran.


"Iya. Rahasia cinta diantara kami maksudnya."


"Kenapa? Memang ada yang salah dengan kata-kata itu?" balik tanyaku.


"Tidak ada, sih. Ya, sudah. Jangan diperpanjang lagi ucapan barusan. Aku hanya penasaran saja sama hubungan kalian, saat sangat tahu kalau Arjuna selama ini tidak pernah punya pacar apalagi dekat sama wanita. 'Kan dia orangnya suka sibuk sama pekerjaannya, jadi aneh saja tiba-tiba mendadak sudah menikah," Keraguan Kenzo memberitahu.


"Hmm."


Panjang lebar lontaran perkataan dia tidak kupedulikan lagi. Rasanya begitu muak sama dia yang terlalu kepo. Sepanjang perjalanan dia mengoceh terus, namun hanya kutanggapi dengan ham ... hem saja. Kalau dijawab satu kata, pasti dia akan bertanya lebih dari seribu kata.


Sampai juga mengantar jalan-jalan. Kaki sedikit pegal habis lamanya kami berjalan. Rasa penat itu tertahan tidak ingin kutunjukkan, sebab Kenzo pasti akan berlebihan khawatir lagi.


Jaga jarak sama dia ingin terlakukan, sebab dari semua pertanyaan itu nanti bisa-bisa bikin menambah kecurigaan saja.


Sampai didepan hotel, mata sedikit terbelalak saat melihat mobil Arjuna telah terparkir rapi dihalaman depan hotel.


"Waduh, ada Arjuna. Bisa mati jika ketahuan aku mengajak jalan-jalan Kenzo. Em, gimana ini? Sebab tahu sekali kalau Arjuna sangat membenci kakak tiri." Kekhawatiran hati.

__ADS_1


"Huufffff, semoga saja kedatangannya sekarang tidak membawa malapetaka emosi lagi. Semoga dia tidak akan marah. Bismillah," rancau hati yang sedikit khawatir.


__ADS_2