Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Dia Yang Rakus


__ADS_3

Wanitaku kelihatan malu-malu. Tahu sekali, jika mungkin ini baru pertama kali dia rasakan. Memang agak kurang respon saat kuberikan kemesraan. Maka dari itu harus mengimbanginya dengan tidak usah terlalu terburu-buru. Kelihatannya Liona memang kurang ilmu dalam berpacaran. Bisa menebak ini efek kampungnya yang boleh dikatakan sepi akan pemuda, sehingga yang suka tentang pergaulan dalam hal berpacaran atau yang lainnya jadi kurang tahu.


Terasa sekali dia berusaha menghindari, namun aku tidak mundur begitu saja, malahan ingin kupepet terus supaya dia memahami bahwa keseriusan cinta benar-benar terjadi. Ada perjanjian diantara kami, mungkin saja Liona tahu akan cintaku yang mulai tumbuh untuknya sehingga yang ada hanya kepasrahan.


Beberapa camilan dan minuman sudah kutenteng, yang masih tersimpan rapi dalam kantong plastik. Makan dihotel ada jam-jam tertentu untuk mengisi perut, maka berinisiatif membeli camilan untuk sekedar menganjal perut kami.


Hari ini kerjaan Liona hanya baring ditempat tidur. Bisa jadi efek kelelahan tadi malam. Cara berjalanpun dia sudah berbeda. Tahu betul, jika tidak sia-sia pertahanannya kujebol. Banyak cengkraman bahkan pukulan kecil yang sempat aku terima, namun tidak peduli itu, sebab n*fsu sudah mencapai batas maximum.


Ceklek, pintu hotel khusus kamarmya kubuka.


Hanya bisa menghembuskan nafas kasar, saat melihat dia masih bergulung dalam selimut. Kantomg kresek yang penuh camilan kuletakkan dimeja. Kuhampiri dia yang terus saja berkelana dialam mimpi.



"Liona, sayang!" Kubelai lembut pipinya.


"Hmm!" Ada pergerakan sedikit.


"Kamu bangunlah. Aku ada membeli roti dan beberapa camilan. Ini belum waktunya makan siang, jadi aku beli itu untuk menganjal perut kita dulu."


"Kamu makanlah dulu. Aku tidak lapar."Jawaban masih dalam keadaan memejamkan mata.


"Ayolah, bangun. Jangan sampai kamu nanti sakit."


Selimut kutarik, menampakkan tubuhnya sedang memeluk bantal guling. Sepertinya usahaku tidak digubrisnya, dengan terpaksa manarik kedua tangannya agar benar-benar segera bangkit.


Dia mengeluh "Aah, Juna. Aku malas dan capek banget. Kenapa tidak mau mengerti sih."



"Iya paham. Kalau kamu kelaparan nanti, siapa juga yang susah. Kalau tidur perut kenyang, 'kan bisa tambah nyenyak tidurnya. Sekarang tidak usah banyak ngeluh. Bangunlah."


Lagi-lagi kupaksa. Wanitaku nampak malas, namun karena memaksa akhirnya dia bangkit juga.


"Jalannya lelet amat, apa mau kugendong."

__ADS_1


"Eeeitt, hehehe. Tidak usah. Aku masih ada kaki, tidak usah repot-repot."


"Ok."


Dasar aneh. Baru kugoda mau mengendongnya saja dia kelihatan takut sekali, bagaimana kalau untuk yang kedua kali menerkamnya dalam selimut, pasti akan syok dan tidak mau melihat muka ini lagi.


Sampai segitunya Liona ketakutan. Wajah rupawan, cool, tapi kenapa melihatku seperti macan yang siap menerkam mangsanya, cukup aneh? Tapi ya sudahlah, mungkin Liona ada alasan tersendiri.


Sebungkus dua bungkus, dia makannya begitu lahap seperti orang yang setahun tidak makan.


Ingin rasanya mengeluh. "Ciiih, tadi saja dibangunin tidak mau. Sekarang semuanya mau diembat."


"Lapar. Kata kamu tadi aku tidak boleh sakit, ya sekarang harus makan banyak."


"Tapi ngak semua diembat juga. Doyan apa lapar sih?"


"Dua-duanya."


Liona terus saja menjejalkan makanan dalam mulutnya. Baru kali ini melihat kerakusannya. Sampai menelan saja telah kesusahan dan harus dibantu oleh minuman kaleng.



"Hhh, alhamdulillah sudah kenyang."


"Dasar perut karet."


"Biarin, yang penting enak."


"Eghem ... hmm. Bibir tuh lap, jangan belepotan gitu."


Lidah menjulur untuk mengambilnya. Sekali sigap bekas roti itu kutelan.


"Iiih, jijik amat sih."


Tangan liona mengelap bekas air liurku yang menempel.

__ADS_1


"Hahhahha. Dasar tidak peka kalau orang sedang ingin romantis."


"Tapi tidak juga harus begitu. Romantis apaan mejilat begitu. Kayak ngak ada makanan lain saja, main masuk sisa makanan sembarangan." Terus saja protes.


"Lha gimana aku tidak mengambil sisanya. Sedangkan semuanya kamu habiskan begini." Membolak-balikkan kantong bekas sisa habis dia makan.


"Hhehe, salah sendiri tadi ngotot nawarin makanan, jadi kalau habis ya jangan mengeluh sekarang."


Tidal tahan mendengarkan ocehannya. Bibirnya yang bergerak terus mengeluarkan suara, berhasil kukecup cukup sedetik saja.


Mata liona terbelalak. Aku hanya nyegir melihat wajahnya yang lucu.


"Ooh, tidak demam dan panas lagi," Tangan tertempel dikeningnya mencoba memeriksa.


Mau mengodanya lagi, sebab aku suka sekali ekspresi yang kesal.


"Siapa juga yang sakit?" Kesewotannya.


"Memang tidak ada yang sakit. Aku hanya memeriksa suhu tubuh kamu saja, yang barangkali memanas jika aku cium tadi."


"Dih, tidak usah gamblang gitu. Emang aku apaam bisa langsung berubah panas gitu."


Liona tidak mau mengakuinya.


"Jangan bohong. Tiap dekat denganku kamu berubah suhu melulu, lho."


"Mana ... mana, ngak ada buktinya sekarang 'kan."


"Mau bukti 'kah?"


Brugh, sekali dorong tubuh liona sudah tergolek dilantai. Dia kalah telak saat aku berhadil duduk diperutnya. Wajahnya berubah kaget dan memerah.


"Apa yang kau lakukan, juna! Minggir nggak."


"Ngak akan."

__ADS_1


Senyuman sinis terukir. Kemenangan berhasil, ketika Liona mulai memerah akibat ketakutan.


__ADS_2