
Suasana keluarga yang sangat membosankan. Diantara mereka seperti biasa-biasa saja antara sesama keluarga, tapi anehnya ada sedikit kejanggalan yaitu sama-sama saling berdiaman dan seperti tegang.
"Ada apa yang terjadi sebenarnya pada keluarga mereka, kok aneh begini ya? Mau mengajak bicarapun sampai sungkan segala," guman hati yang merasa aneh.
Acara makan-makan sudah selesai, jadi kami semua sudah berkumpul dimeja ruang tengah sambil menonton televisi.
"Liona!" panggil Nenek.
"Iya, Nek."
"Mari ikut Nenek sebentar, bisa 'kan!" suruh beliau.
"Ooh iya, Nek. Bisa ... bisa."
Tanpa banyak bertanya aku langsung mengikuti beliau. Dari mengiringi belakang beliau sudah kebingungan berpikir, saat Nenek mengajakku secara pribadi. Kamar yang pintunya bercatkan coklat, sekarang dibuka beliau untuk mempersilahkan diriku masuk.
"Duduk sini, Nak!" suruh beliau menepuk pelan-pelan kasur.
"Iya, Nek."
Duduk diatas pembaringan itulah yang kulakukan sekarang, sambil menunggu Nenek melenggang pergi menuju ke arah lemari. Karena penasaran apa yang dilakukan beliau, maka kepala sedikit miring untuk mencoba mengintip. Setelah menutup pintu, beliau berbalik badan dan tersenyum manis ke arahku.
"Ada yang ingin Nenek berikan pada kamu," ucap beliau sudah membuka sebuah kotak yang sempat beliau ambil tadi.
Mata langsung terbelalak, saat melihat beberapa perhiasan telah bergemerlapan didalamnya.
"Ini adalah punya Nenek semua, jadi karena kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami, maka Nenek akan mewariskan ini semua pada kamu," cakap beliau santai.
"Tapi, Nek."
"Tidak ada tapi-tapian, Liona."
"Maafkan aku, Nek. Ini kayaknya terlalu berlebihan."
"Tidak kok, Liona. Nenek sangat tahu, jika suatu saat nanti kamu akan menjadi wanita terbaik bagi Arjuna, maka dari itu Nenek pantas menyerahkan ini semua pada kamu," kekuh beliau tetap memberikan.
"Apa ini tidak akan jadi masalah? Sedangkan anak dan cucu Nenek ada yang bisa diwarisi," ucapku mencoba menolak halus.
"Tidak akan kok, Nak. Ini semua murni milik Nenek, jadi nanti tidak akan dipermasalahkan, jadi terima ini ya!" paksa beliau yang kini sudah manaruh kotak itu diatas kedua tanganku.
__ADS_1
"Huuf, bagaimana aku harus menolak ini? Aku takut jika suatu saat nanti akan berpisah dengan Arjuna, maka emas ini pasti akan dipermasalahkan beliau."
"Aku kok jadi bingung begini, ya! Diterima takut suatu saat akan jadi masalah, namun jika ditolak pasti Nenek akan tersinggung. Benar-benar diposisi yang tidak mengenakkan," guman hati yang cemas.
Akhirnya mau tidak mau barang-barang mewah itu kuterima juga. Menolak, Nenek tetap saja memaksa untuk mengambilnya.
Langkah sudah menuruni anak tangga. Terlihat semua orang sudah pergi entah kemana, saat keadaan ruang tengah begitu sunyi. Tidak ingin kelayapan dirumah orang lain, terpaksa menunggu diruang tamu sendirian untuk bertemu dengan Arjuna segera.
"Kemana sih tuh orang? Kenapa tidak kelihatan bat*ng hidungnya? Kalau mencarinya ke sekeliling rumah, takutnya nanti dikira mau ngapa-ngapain juga dirumah ini," guman hati yang merasa kesal.
Rasa bosan mulai menghampiri, saat Arjuna tidak kunjung jua untuk menemuiku. Perhiasan dalam kotak sudah tersimpan rapi didalam paper bag.
"Hei cantik, lagi sendirian 'kah ini?" tanya saudara Arjuna.
"Eeh, iya nih. Lagi nunggu Arjuna yang katanya tadi ada urusan sebentar, tapi aku tunggu-tunggu kok malah tidak kelihatan sama sekali," jelasku.
"Ooh."
"Boleh aku temani?" izinnya.
"Yang jelas aku ingin mengenalmu lebih baik lagi?" cakapnya yang membuatku bingung.
"Wah, benarkah itu?" imbuhnya yang sekarang duduk bersebelahan, dekat sekali dengan posisiku.
"Emm, benar itu."
Karena tidak nyaman atas sikapnya barusan, maka aku agak sedikit menjauh dari posisi dudukku.
"Terima kasih, ya."
"Hmm."
"Kamu kok sangat cantik, sih!" Tangannya yang ingin menyentuh rambutku yang tersibak berantakan didepan.
"Jangan kurang ajar."
"E'eeh, maafkan aku!" jawabku gugup yang seketika berdiri ingin meninggalkannya.
"Haiit, tunggu!" cegahnya yang tanpa diduga sudah berani menarik tangan dengan kuat.
__ADS_1
Sikapnya yang keterlaluan membuatku tidak bisa seimbang menahan tubuh, sehingga tanpa diduga akupun jatuh dipangkuannya. Mata kami sekarang tidak sengaja sudah sama-sama saling menatap kagum.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara mengelegar Arjuna datang.
Akibat terkejut, langsung saja aku merubah posisi untuk segera berdiri menjauh dari Kenzo.
"Kami tidak ngapain-ngapain, kok!" jawabku sudah ketakutan jika Arjuna marah.
Wajah Arjuna sudah berubah bengis, dengan langkah sudah tergesa-gesa mendekati Kenzo, yang berbalik nampak menatap sinis ke arah Arjuna.
"Dasar kurang ajar!" cakap Arjuna sudah mengepalkan tangan, untuk segera melayangkan ke arah wajah Kenzo.
Baju Kenzo sudah tercengkram kuat oleh tangan Arjuna, sehingga Kenzo tidak bisa berkutik sama sekali.
"Aku tidak ngapa-ngapain, cuma ingin menghirup aroma keharuman dari calon istrimu itu saja," jawab Kenzo dengan mudahnya.
Bhuugh ... bghugh, dua tinjuan berhasil mendarat ke wajah Kenzo. Saking kuatnya pukulan itu, membuat tubuh Kenzo oleng jatuh tersungkur ke lantai.
"Sudah ... sudah, hentikan!" teriakku mencoba mencegah apa yang dilakukan Arjuna.
Emosinya sudah tidak terkontrol, sehingga akupun takut jika Arjuna akan semakin melukai Kenzo, maka dari itu secepatnya harus dicegah.
"Diam kamu!" bentak Arjuna yang melotot tajam ke arahku.
"Ada apa ini?" tanya suara calon mertua laki-laki.
"Iya, Arjuna. Apa yang kamu lakukan pada anakku?" ujar si Ibu Kenzo, sudah mendekati anaknya yang tersungkur dilantai.
Kenzo sekarang hanya bisa mringis kesakitan, tapi wajahnya seperti tidak ada sebuah rasa penyesalan sama sekali.
"Tanya anakmu sendiri apa yang dia lakukan. Dasar pria yang tak tahu diri," balas Arjuna tidak mau mengalah perkataan.
"Kamu kenapa, Nak. Ada apa ini?" tanya Mama mertua yang kini ikutan datang, mencoba melihat keadaan yang menegangkan.
"Bilang sama suami kamu untuk mengajari anaknya yang lain. Jangan sembarangan main pegang calon orang," ketus Arjuna marah-marah.
Arjuna benar-benar telah dikuasi oleh emosi, sampai-sampai aku takut untuk melihat wajahnya yang sekarang bermuka merah padam.
"Ayo ikut aku sekarang!" paksa Arjuna sudah menarik tanganku dengan kuat.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara akupun nurut saja atas ajakkannya, yang meninggalkan semua orang yang bingung atas kejadian barusan. Rasanya tangan begitu sakit, saat Arjuna begitu kuatnya mencengkram tanganku.