
Setelah membersihkan diri, kini baju kaos oblong biasa kupakai. Tiada yang istimewa dariku, seperti wanita diluaran sana yang selalu berias untuk memikat lawan jenis untuk dijadikan kekasih. Bagiku wajah tak perlu terlalu cantik, sebab pria yang benar-benar tulus akan mencintai kita, tak melihat rupa melainkan hatinya.
Dalam keluarga makan bersama keluarga adalah hal yang wajib dan perlu dilakukan, sebab jika lauk yang tersedia dimeja makan harus sama-sama menikmatinya, jangan makan duluan hingga yang belakangan ingin makan tak kebagian lauk.
"Kalian tadi habis dari mana?" tanya Ibu.
"Memberi pelajaran pada orang," jawan Tio santai, sambil menyendok makanan untuk masuk ke dalam mulut.
"Maksudnya?" tanya Ibu kembali.
Seketika tangan membekap mulut Tio, biar dia tak ember menceritakan apa yang kami lakukan tadi siang.
"Jangan sampai Tio menjelaskan, bisa mati aku kena semprot Ibu," guman hati yang takut.
"Heheheh, tidak dari mana-mana kok, Bu. Kami cuma jalan-jalan saja," jawabku cegegesan.
"Benar 'kan adekku sayang?" tanyaku melotot tajam ke arah wajah Tio.
Tio nampak meronta atas aksiku, namun semua tak membuatku lengah untuk melepas bekapan mulutnya terus, sebab jika ketahuan orangtua pasti kami akan kena marah habis-habisan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Liona. Kenapa kamu bekap kuat mulut adekmu begitu? Ayo lepaskan, pasti kalian telah menyembunyikan sesuatu," ucap kecurigaan Ibu.
"Enggak kok, Bu. Ini beneran, kami tadi siang hanya keliling jalan-jalan," pungkirku menjawab.
"Ada apa sih, ini? Kenapa kalian makan saja pakai ribut-ribut segala? Tak baik didepan makanan tak segera makan, tapi malah sibuk gaduh dan berbicara terus," saut jawab Bapak yang sudah mulai ikut bergabung untuk makan.
"Ini 'loh, Pak. Ibu itu tadi bertanya pada mereka berdua, mengenai tadi siang kemana! Kok sampai ada perang ditempat kita, mereka tak nampak. Mulut Tio sampai dibekap-bekap begitu, pasti ada sesuatu yang dirahasiakan mereka," cakap Ibu menjelaskan.
"Benarkah itu? Sekarang kalian jawab jujur atas pertanyaan Ibu tadi. Bapak tak pernah mengajari kalian untuk berbohong, jadi katakanlah yang sebenarnya sekarang," suruh Bapak.
Aku dan Tio langsung saling bertatap muka, dengan kepala langsung menunduk, tak berani ingin menceritakan yang sebenarnya.
"Ini semua gara-gara kak Liona yang ngajak Tio, padahal 'kan sudah menolaknya mentah-mentah. Kak Liona kasih iming-iming, jadinya Tio tergoda dan nurut saja atas perintahnya," ungkap Tio berlebihan.
"Biarin, wleeek!" cakapnya santai sambil terus menyendok makanan.
"Jawab Liona. Kamu adalah orang yang jadi panutan untuk adekmu, jadi jangan membuat contoh yang tak baik," cecar Ibu.
"Anu ... anu, Bu. Itu ... itu, kami sebenarnya tadi siang ke perusahaan yang jadi musuh kita," jelasku sudah takut-takut jika kena marah.
"Perusahaan musuh? Maksudnya?" tanya Ibu tak mengerti.
"Maksudnya ke perusahaan yang dipimpin oleh orang yang bernama Arjuna itu," lantang jawabku dengan jelas.
__ADS_1
"Apa?" jawab orangtua kompak.
"Wah, kalian ini mau cari mati saja, dengan masuk kandang harimau. Apa kalian ini tak berpikir jika terjadi sesuatu yang berbahaya pada kalian, hah!" jawab Ibu sudah bernada emosi.
"Bukan gitu, Bu. Kami hanya ingin membuktikan, bahwa kita ini tak main-main untuk mempertahankan tanah yang menjadi hak kita," ucap Tio ingin membela diri kami.
"Bapak tahu, tapi itu sama saja kalian membahayakan diri kalian sendiri. Jangan ulangi tingkah kalian itu, sebab jika terjadi apa-apa sama kalian, pasti Bapak sama Ibu juga yang akan susah, paham!" ujar Bapak dengan bertutur kata penuh kelembutan.
"Iya, Pak. Maafkan kami. Kami janji tidak akan berbuat ulah yang macam-macam lagi. Lagian kami tidak aneh-aneh, hanya melemparkan telur busuk saja pada pemilik perusahaan itu," jawabku masih menundukkan kepala, sebab ada rasa bersalah pada diriku.
"Hah, benarkah melempar pakai itu? Hahaha, pasti si pemilik perusahaan itu akan bau tujuh hari tujuh malam, hahaha! Terus ... terus, cerita selanjutnya gimana tuh?" Kekepoan Ibu sambil tertawa.
"Iya, Ibu. Ciius, telur itu Liona tembak menggunakan ketapel, dan pastinya tepat mengenai wajah serta bajunya. Cerita selanjutnya kami tidak tahu atas orang itu, sebab kami setelah itu lari terbirit-birit karena takut ketahuan. Namanya mereka itu kuat dan pintar, entah mengapa kami tadi ketangkap dengan mudah," ujarku lesu.
"Apa? Ketangkap? Kalian ini kok ceroboh bisa ketangkap?" imbuh tanya Ibu.
"Tidak tahu, Bu. Tapi kami mengucapkan syukur, sebab tidak ada hukuman atau balas dendam pada kami, hingga jadilah kami dilepaskan begitu saja," jelasku.
"Bagus itu, tapi lain kali jadikan pelajaran, bahwa orang yang kalian lawan itu bukan orang sembarangan, dan kalau bisa lebih hati-hati, mengerti!" saut jawab Bapak, sambil menyendok makanan.
"Iya, Pak!" jawab aku dan Tio kompak.
Sebuah kejujuran sangat diperlukan dikeluarga kami, agar tidak ada perdebatan dan menyalahkan satu sama lain. Benar kata bapak, bahwa kami tidak boleh berkata bohong, agar keluarga tetap utuh dan harmonis atas kebahagiaan.
__ADS_1