Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Teringat Padanya


__ADS_3

Ketika dia kau hadirkan dalam cerita cinta kita, maka yang ada hanya ada nestapa kelukaan. Apakah aku harus membiarkan dia bahagia dengan pilihannya itu? Tidak rela, ya itulah yang sempat terpenjara dalam hati, tapi apakah alur kisah kehidupan yang sudah diatur harus ditentang.


Daun terus berguguran, begitu juga dengan cinta ini yang kian hari kian terkikis hilang. Saat rasa sakit itu hadir, yang ada hanya kebencian.


Embun pagi menyambut dengan dingjn, beda sekali wajah yang menyambut pagi penuh kebekuan atas rasa kekecewaan.


Hidup belum tentu indah, langit belum tentu cerah, dan malam belum tentu banyak bintang. Roda kehidupan terus berputar, kadang kita menang merasa diatas segalanya, namun kalau tidak sadar diri akan merasakan jatuh jua. Begitulah dengan rasa cinta yang hadir dengan percaya diri bahwa akan dapat balasan terbaik, namun diri ini tidak pernah mengaca bahwa dia tak pantas untukku, hingga rasa sakit itu membuat jatuh ke kubangan pulak.


Malam ini aku bisa menuliskan bait-bait yang paling sedih. Menyadari bahwa aku tak lagi memilikinya. Merasakan bahwa aku telah kehilangannya. Mendengarkan suara malam yang tak bertepi, tapi makin tak bertepi tanpa dia.



"Kenapa kau begitu tega padaku, Juna? Dimanakah letak hatimu, sampai kau tega melakukan itu?" Tangan menengadah ingin merasakan dingin hembusan angin malam.


Kehampaan membawa sejuta rasa yang semangat menjadi mati. Dunia bagaikan tak bisa terpijakki, ketika yang ada hanya kekosongan hati tersakiti.


Termenung menerima semua nasib. Malam ini tidak ubahnya sepi, saat kau tertawa tanpa tahu aku merasa sedih sendiri. Didalam keheningan itu hanya wajahmu yang terus terbayang. Kau sudah ada yang memiliki, apakah bisa merasakan itu semua?.


Tok ... tok. Diketuk Ibu kandung dipertengahan pintu yang terbuka lebar..


"Bolehkah Ibu masuk?"


"Iya, Bu. Mari sini duduk."

__ADS_1


Dibawah jendela menatap langit yang mengelapkan warna kelamnya. Ada kursi kosong. Ibu menghampiri dan duduk tepay didepanku.


"Apa kebutusanmu masih bulat ingin meminta bercerai dari Arjuna?"


"Aku tidak tahu, Bu."


"Kau seperti masih bimbang dan sepenuhnya belum bisa melepaskan pria itu."


"Apa yang kamu katakan benar, Bu. Gimana tidak bimbang sedang hatiku sudah terpaut padanya, namun dia dibelakang sudah berani menujamkan pisau perselingkuhan."


"Masalah itu belum tentu benar sebab terlalu mendadak, tapi juga bisa nyata karena Arjuna orang kaya, jadi bisa saja bersama lebih dari satu wanita. Siapa tahu tidak hanya kamu saja yang telah didekatnya."


"Ibu benar. Tapi Arjuna tidak mungkin bisa melakukan itu yaitu bermain wanita."


"Hhhh, tidak tahu, Bu. Semua semakin membuatku pusing. Dalam hati yang terdalam masih ada keraguan kalau dia tega seperti itu, tapi didepan mata kepalaku sendiri itu sangat nyata. Semua jadi membingungkan dan terkesan memojokkan."


"Ya sudah, biarkan waktu yang menjawab semua itu. Kebenaran pasti akan terungkap, sedangkan kebusukan akan tetap kalah, dan menyiksa pelaku yang memang tidak baik itu."


"Hmm, Bu."


"Daripada kamu babyak melamun, lebih baik ikutan Ibu membuat kue didapur. Siapa tahu bisa menghilangkan stres kamu."


"Baiklah."

__ADS_1


"Tapi makanlah dulu. Dari sore kamu belum makan 'kan? Cepat makan, biar nantii tidak sakit dan ada tenaga."


"Iya, bu."


Jawaban selalu saja tidak semangat. Tetap ada rasa separuh kehidupan telah hilang.


Malam ini tidak ubahnya sepi.


Sat kau tertawa tanpa tahu aku merasa sedih sendiri.


Saat malam mulai gelap.


Biarkan kekhawatiranku memudar.


Hanya tidur lelap yang bisa membantumu memulai hari besok dengan penuh energi.


Di suatu malam, langit menangis.


Seskan menemani sekeping hati yang sunyi.


Dan tangisan itu menghidupkan semula setiap rasa yang telah mati.


Aku ingin kamu saja yang menemaniku membuka pagi hingga melepas senja, menenangkan malam dan membagi cerita.

__ADS_1


__ADS_2