
Sedikit Review adegan.
Acara berjalan dengan lancar. Liona begitu cantik hari ini, sampai aku tersihir untuk menatapnya terus. Netra terus saja tidak berkedip, pada wanita yang akan resmi jadi calon pengantinku mulai hari ini.
"Wajahmu sangat kelihatan, kalau Bos itu terpesona padanya!" ledek Cakra saat aku terus menatap ke arah Liona yang sedang makan.
"Jangan sembarangan kalau berucap," jawabku nyolot pura-pura tidak suka.
Minuman dalan tangan terus kuteguk sampai tandas. Sudah tidak tahu lagi berapa gelas yang sudah kuminum, yang jelas melihat wajah Liona bikin tenggorokan kering saja. Benar-benar situasi yang menyulap diriku hilang kendali akibat terpana.
"Beneran, nih! Kalau aku salah menebak? Lalu kenapa juga Bos dari tadi senyam-senyum sendiri melihat kearah calon?" imbuh Cakra.
"Haiist, bawel amat sih ini sekertaris. Jangan banyak pet ... pet seperti emak-emak, lama-lama mulut kamu nanti jadi rempong. Sudah, diam-diam memperhatikan tingkah Bosmu ini. Kalau tidak nurut, siap-siap kerja satu bulan penuh tidak usah dibayar. Memang mau kah?" ancamku sudah kesal akibat Cakra terlalu kepo.
"Hehehe, iya ... iya, Bos!" Cegegesan Cakra.
"Aku cuma mencoba menyadarkan Bos saja, jangan sampai jatuh cinta pada Liona. Bukankah ada surat perjanjian diantara kalian!" ucap Cakra mencoba mengingatkan.
Mulutnya yang keceplosan langsung kubekap kuat. Wajah sudah melihat ke kanan kiri dengan serius, sebab takut-takut jika ada seseorang didekat kami mendengarnya.
"Hiiih, benar-benar mulut kamu ini minta dilakban dan dioles bon cabe, biar diam tidak? Jangan sembarangan bicara," Kekesalanku yang masih membekap mulut Cakra.
"Emm ....eem," Rontaan Cakra meminta melepaskan bekapan.
Karena tidak ingin banyak orang yang curiga atas ulah kami, maka segera kulepaskan tangan yang sempat menempel dibibir sekertaris.
"Apa tidak lihat banyak orang disini? Bisa gawat kalau ada orang tahu dan mendengarnya," cakapku marah pada sekertaris.
"Iya ... iya, Bos. Maaf!" jawabnya menyesal.
"Hmm, lain kali jangan diulangi. Bisa mati jika ketahuan Nenek ataupun keluargaku," Kekhawatiran yang sudah melanda.
"Iya, Bosku sayang. Maaf, ok! Emm, lihat ... lihat itu," tunjuk Cakra ke arah Liona.
Mata langsung terbelalak kaget, saat mengetahui Kenzo telah mendekati Liona. Air yang semula kuteguk pelan-pelan sekarang kumasukkan mulut sampai tandas.
__ADS_1
Tidak suka apa yang kulihat sekarang, tanpa ba bi bu menghampiri kakak tiri, yang suka menyebalkan sifatnya itu.
"Lepaskan!" teriakku marah sudah mendekati mereka.
Kenzo yang awalnya memegang tangan Liona, seketika menoleh ke arahku yang mencoba mencegahnya. Tidak peduli atas tatapan semua orang menatap aneh ke arah kami bertiga, yang terpenting sekarang ingin memberi pelajaran.
"Wuuiih, adek tiri ternyata sudah datang," Basa-basinya yang memuakkan.
"Jangan banyak cincong kamu. Apa maksudnya kamu tidak mau melepaskan tangan calon istri?" tanyaku kasar dengan nada intonasi agak meninggi.
"Sini kamu!" suruhku pada Liona.
Liona yang kebingungan hanya diam menuruti keinginanku. Sekarang dia sudah bersembunyi dibelakang tubuhku.
"Tenang, sabar dulu adik tiri. Aku hanya ingin kenalan sama calon adik iparku yang cantik, itu saja kok!" jawabnya santai.
"Kenalan sih kenalan, tapi dengan cara sopan, tidak main kasar tak mau melepaskan tangan Liona. Kamu sebenarnya ingin kenalan atau mendekati." Emosi sudah menghampiri, saat Kenzo sepertinya meremehkan apa yang barusan dia lakukan tadi.
"Hahaha, kalau aku bilang kedua-duanya gimana?" Tatapan tajam Kenzo, yang sepertinya benar-benar ingin mencari masalah.
"Lepaskan, Arjuna. Apa yang kamu lakukan?" teriak suara Papa.
"Ajari anakmu yang tidak sopan ini dulu, barulah aku akan lepaskannya," ancamku tidak takut pada ayah kandung.
Wajah kenzo sudah mengkerut, ingin membantah tapi terasa takut saja apa yang kulakukan saat emosi.
"Sudah ... sudah, Nak. Lepaskan, kakak tirimu. Malu dilihat sama orang," ucap Mama yang sudah ikut-ikutan mencampuri urusan kami.
"Iya, Bos. Tenangkan dirimu dulu. Lihat! Banyak orang yang sedang memperhatikan ke arah kalian," ujar Cakra yang berusaha melerai kami, dengan cara memegang tanganku agar menyingkir dari mengancam Kenzo.
Tidak ingin mempermalukan keluarga, langsung saja kerah baju Kenzo kulepas, tapi sedikit memberi pelajaran dengan cara mendorong tubuhnya, sehingga Kenzo sedikit oleng ingin tersungkur, namun naasnya sudah ditangkap oleh orang-orang yang ada dibelakangnya.
"Sedikit saja kamu menyentuh calonku, maka kamu akan menerima akibatnya lebih dari ini, paham!" ancamku pada Kenzo.
Kulihat dia hanya bisa menyeringai tidak suka.
Tidak kupedulikan lagi tatapan orang-orang, yang penting sekarang adalah menarik tangan Liona untuk segera mengikuti langkahku.
__ADS_1
"Mau dibawa kemana?" tanya Liona yang tidak mengerti.
"Diam kamu," bentakku.
Bgugh, dengan kuat kubanting tubuh Liona membentur tembok diluar rumah.
"Aaaa!" Suaramya kesakitan.
"Hei, Arjuna. Apa yang kamu lakukan? Apa tidak bisa baik-baik kamu ingin berbicara," Kemarahan Liona tidak suka.
Braaak, dengan kasar kugebrak tembok menggunakan dua tangan, untuk segera mengunci Liona agar tidak bisa keluar dan memberontak.
Wajah kami bergitu dekat tidak menyisakan jarak sekali. Tatapan netra sudah sama-sama melotot tajam. Bau minyak wangi begitu menguar wangi dari tubuhnya. Bola mata yang bergerak bersamaan berjalan, membuatku salah tingkah atas sikapnya ini.
"Aku tidak akan bisa lembut, jika kamu centil mau berkenalan pada sembarangan orang," jelasku memelankan suara sambil tetap memandangi wajah Liona.
"Kenapa kamu malah menyalahkan diriku? Apa kamu tidak lihat atas kejadian didalam tadi? Bukankah kakak kamu sendiri yang memaksa berkenalan." Wajah sudah bersemu kemerahan dengan nada suara pelan-pelan.
"Aku tahu, tapi sikapmu sangat menunjukkan kalau kamu seakan-akan mau juga untuk berkenalan bahkan mendekatinya," jelasku mencoba menyelidiki dari ekspresi wajah.
"Hidih, jangan salah sangka. Tidak semua tebakkanmu adalah benar," jawab Liona sudah memalingkan wajah.
Sepertinya dia menyadari kalau aku terlalu dalam menatap tajam wajahnya, yang sangat cantik bermake-up tipis-tipis, kontras sekali sama kulitnya yang putih seperti susu.
"Kenapa kamu berpaling?" Tangan sudah mengelus pelan pipinya.
"Lepaskan aku. Jangan kurang ajar kamu, apa tidak ingat sama perjanjian kita," Liona sedang mengingatkan.
"Ekhgem ... hmm. Tentunya saja aku ingat. Maafkan atas sikapku barusan," cakapku sudah melepaskan kuncian tangan.
"Silahkan mau berbuat apa sama orang lain, tapi aku berharap kamu menjauhi kakak tiriku itu, paham!" ucapku memperingatkan sebelum pergi.
"Paham 'kan apa yang aku katakan? Dan bila perlu, kunci terus bibir dan tangan kamu itu, biar tetap per*wan tidak genit dijamah sama orang lain." Kali ini aku benar-benar pergi sambil memberi pelajaran padanya.
"Aduh, apa yang aku lakukan padanya barusan? Jantungku saja sudah mau copot saat dekat-dekat tadi, malah ini berani membelai pipinya, apakah aku sudah gila melakukan itu. Buru-buru pergi saja, biar Liona tidak curiga atas wajahku yang sekarang terasa memanas," guman hati yang grogi.
Langkah sudah tergesa-gesa mamasuki mobil, membiaekan Liona yang masih berdiri terpaku atas kelakuan barusan. Semoga saja dia tidak salah sangka atas sikapku yang kali ini sedikit berlebihan.
__ADS_1