
Wajah terus saja murung apa yang harus kulakukan, ketika pinangan seseorang didepan mata tapi tidak diinginkan. Langkah apa yang harus diambil, saat cinta tidak ada pada diri kami.
"Apa ... apa yang harus kulakukan? Setuju menerima ... tidak ... setuju ... tidak!" guman hati menimang-nimang.
"Bisa bicara sebentar, Nak!" ucap Bapak.
Aku yang sedang melamun didalam kamar dengan posisi menyangga dagu, harus dikejutkan oleh suara beliau sehingga lamunan seketika buyar.
"Iya, Pak!" jawabku menyetujui.
"Mari kita duduk didepan. Ada Ibu sama adekmu yang sedang menunggu disana," cakap beliau memberitahu.
"Emm, baiklah."
Bapak yang berjalan duluan sudah kuikuti dari belakang, untuk datang ketempat yang beliau suruh tadi. Ibu dan Tio sudah menatap tajam atas kedatanganku.
"Duduklah, Nak!" suruh beliau.
Aku hanya nurut saja, yang sudah duduk berdekatan dengan Ibu.
"Pasti kamu bertanya-tanya kenapa Bapak panggil kesini. Kamu tahu 'kan kedatangan tamu kemarin dan Bapak akan membicarakan hal itu sama kamu," terang beliau.
"Iya, Pak!" jawabku tertunduk.
"Kami tidak ingin masalah sengketa tanah mengorbankan dirimu. Pernikahan tanpa dasar cinta, pasti akan membuat rumit rumah tangga nanti. Kami tidak ingin ada penyesalan sama kamu, bahkan pernikahan yang sudah terbina akan dipermasalahkan suatu saat nanti. Bapak hanya ingin bertanya apakah kamu ingin menerima atau menolak lamaran itu?" tanya keseriusan Bapak.
"Liona, juga bingung sekarang. Kalau tidak menerima permintaan mereka, pasti akan banyak warga yang terluka. Sumber pencarian kita akan merosot, akibat mereka yang mudah untuk menjatuhkan bisnis-bisnis kita. Liona tidak ingin warga disini menjadi sedih, apalagi kehilangan mata pencaharian," jelasku.
"Ibu tahu, Nak. Tapi pernikahan ini, kalau bisa jangan ada paksaan. Pasti ujung-ujungnya akan ada yang terluka," simbat Ibu yang sudah mengelus pelan rambutku.
"Benar kata, Ibu. Kakak kalau gegabah mengambil keputusan, maka semua akan hancur dikemudian hari," saut Tio ikut-ikutan.
__ADS_1
"Anak kecil tahu, apa!" ketusku.
"Dibilangin tidak percaya. Iya 'kan, Pak!" ucap Tio meminta dukungan.
"Hmm, benar."
"Nah 'kan!"
Mata sudah melotot tajam kearah Tio, sebab tidak suka sama dia yang sok benar.
"Semua keputusan ada padamu, Nak. Kalau tidak bisa jangan dipaksakan. Bapak tidak ingin kamu menderita. Kami ingin melihat kamu bahagia, mendapatkan suami sampai menua bersama nanti," imbuh Bapak.
"Iya, Pak. Insyaallah, Liona akan pikirkan ini dengan baik-baik."
"Berdoalah dan jangan lupa sholat istikharah untuk meminta petunjuk. Jika dia adalah jodohmu, pasti kalian akan terus didekatkan. Ibu dan dan Bapak hanya mendoakan yang terbaik untukmu saja, Nak!" ujar Ibu sendu.
"Iya, Nak. Jika kamu bahagia, kami semua akan ikut bahagia," simbat Ibu yang sudah memelukku erat.
Tio yang melihat rasa haru ini, sekarang ikut-ikutan memeluk kami juga. Keluarga kami yang sederhana selalu diliputi kebahagiaan, karena kebersamaan selalu terbangun. Jika ada masalah, kami semua akan bahu-membahu saling membantu.
******
Mentari pagi telah menyapa, dengan sinar yang kian terang menyinari bumi. Siulan burung yang saling bersahutan, begitu merdu ketika didengarkan. Udara pagi begitu sejuk ketika dihirup. Alam yang masih asri begitu memanjakan mata, untuk terus memandangnya.
Shret ... shret, tangan sibuk menyapu halaman rumah. Malas ke hotel, membuatku menyuruh Tio untuk menjaga sementara, lagian ini hari libur dia sekolah.
Shiit ... shet, ada mobil mewah yang seketika berhenti dihalaman depan rumah kami.
__ADS_1
"Wah, ada apa ini? Kok tumben-tumbennya ada tamu agung, siapa mereka?" tanya dalam hati.
Sekarang ada dua pria berjas hitam, dengan tubuh kekar lengkap memakai kaca mata hitam juga.
"Permisi, apakah anda Nona Liona?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, benar. Nama itu, dengan saya sendiri. Ada apa, ya?" ucap kebingunganku.
"Kami disuruh oleh tuan Arjuna, untuk membawa Nona ke tempatnya," jelas mereka.
"Apa?" Kekagetanku.
"Iya, Nona. Jadi bolehkah sekarang nona ikut dengan kami," izinkan mereka.
"Sebentar ... sebentar. Apa tidak salah si Arjuna menyuruh kalian kesini? Memang ada apa?" tanyaku tidak percaya.
"Benar, Nona. Kami disuruh langsung oleh tuan muda, untuk menjemput Nona Liona. Ikut dulu sama kami, nanti kalau sudah ketemu sama tuan muda, Nona akan tahu alasannya," jelas mereka.
"Tapi--?" Keraguanku.
"Kami tidak akan menyakiti. Ini murni atas perintah majikan. Jadi bolehkah Nona ikut kami sakarang?" pinta mereka lagi.
"Huuf, iya deh. Tapi sebentar dulu ya, saya akan pamit sama orangtua," jawabku akhirnya menyetujui.
"Baiklah, Nona. Kami akan sabar menunggu."
Sapu seketika kuletakkan, untuk segera memasuki rumah.
Semua sudah kuceritakan pada orangtua dan untungnya mereka mengizinkan.
Mereka sudah mengantar kepergianku sampai ke depan rumah. Wajah yang tidak suka berias kubuat polos, lagian kalau jelek pasti si Arjuna akan menolak mentah-mentah perjodohan ini.
__ADS_1