Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Percakapan Yang Mengesalkan


__ADS_3

Tidak mengerti apa maksud Sonia, hingga menarik paksa tangan ini. Pasti ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Sekarang hanya nurut saja atas permintaan, untuk menjauh dari ruang suami dirawat.


"Bicara 'lah?" suruhku tidak sabar.


Kami berdua sudah berhenti disebuah tempat, yang ada tanaman bunga maupun dedaunan hias. Sepertinya ini tempat taman, agar para orang-orang yang dirawat bisa menghirup udara segar disini ketika suntuk.


"Ok, aku akan mulai."


"Eghem ... hemm, aku tahu sekali apa yang terjadi pada kalian," ucapnya membingungkan.


"Apa maksudnya?" jawab tidak mengerti arah pembicaraan.


"Hilih, tidak usah berpura-pura. Aku tahu sekali kalau pernikahan kalian itu pasti ada apa-apanya. Sekian tahun aku mengenal Arjuna, makanya mana mungkin Arjuna bisa menikah mendadak begini, tanpa ada pacaran maupun menunjukkan siapa wanita yang dia cintai dulu kepada kami para sahabat dan keluarga," cakapnya mencurigai kami.



"Sepertinya kamu salah besar, jika mengenal baik Arjuna."


"Kamu!" Tangan Sonia sudah mengambang diudara, yang sepertinya ingin manabok diriku saja.


Hanya bisa mengerutkan wajah sambil memejamkan mata, takut-takut jika Sonia benar-benar kasar.


"Aah, sial. Aku tidak akan mengotori tanganku ini untuk wanita kampungan kayak kamu."


"Ciiih, jaga mulut kamu itu. Walau kampungan begini, yang terpenting bisa mengalahkan dirimu yang sekian lama menginginkan Arjuna tapi selalu tidak dapat," cakap mengejek.


"Hilih, jangan bebangga begitu. Aku tidak akan tinggal diam mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian."


"Silahkan, sebab kamu bakalan tidak dapat apapun dari kami," Tidak mau kalah dari wanita yang sombong ini.


"Wah, tantangan kamu sangat mengiurkan, dan semakin membuatku mengebu ingin tahu. Lama aku mengenal Arjuna, jadi mana mungkin pria yang cool dan beribawa gitu memilih dirimu yang kumel begini," Mulut Sonia sudah menyunging, ketara betul kalau dia tidak menyukaiku.



"Ya, coba saja. Siapa tahu kamu beruntung. Sampai sejauh manapun kamu mencari tentang kami, pasti tidak akan dapat apa-apa. Karena kami menikah bukan hanya sekedar mainan, tapi juga didasari oleh perasaan cinta," Kebohongan agar bisa mematahkan ucapannya.


"Wah, benarkah itu? Tapi aku melihat kalian ini seperti tidak akrab, bahkan kelihatan renggang kayak tidak mau kenal satu sama yang lain," Kecurigaannya yang terus berlanjut.


"Jangan asal bicara. Kalau tidak ada bukti jangan ngomong sembarangan."


"Untuk saat ini memang tidak bisa membuktikan, tapi lihatlah! Suatu saat nanti pasti bisa membuktikan."


"Hmm, ok lah. Aku tunggu."


"Tunggu saja pembuktiaannya, sebab aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Arjuna. Sampai kapanpun itu, Arjuna adalah cinta sejatiku," ucapannya yang terdengar panas.


"Terserah!" Sebab muak langsung ingin melenggang pergi.


"Hei ... hei, kamu mau kemana? Aku belum selesai ngomong!" teriaknya yang tidak kupedulikan lagi.


"Serah!" jawab berbalik melengkingkan suara.

__ADS_1


"Dasar, tidak punya sopan santun," ocehnya.


Tidak peduli kata-katanya yang pedas, sambil berteriak-teriak mengajak ngobrol kembali. Kekesalan yang bersamayam, harus segera menyingkir agar diantara kami tidak ada perdebatan yang lebih jauh lagi


Wanita yang tidak menyerah dan benar-benar nekat. Rasanya ingin kugampar saja mulutnya tadi, saat tak ingin mengalah dan merelakan Arjuna. Seperti ucapannya tadi, tangan tidak ingin kotor hanya melakukan hal yang tidak berguna. Kalau melakukan kekerasan, pasti masalah diantara kami akan semakin runyam dan berbuntut panjang.


"Dasar, wanita tak tahu diri. Sudah tahu ditolak tapi masih saja berharap lebih dan mengejar cinta yang bakalan tak pasti," Hati ngedumel tak suka.


"Silahkan, kamu buktikan kalau bisa. Kalaupun ketahuan kami menikah tidak atas dasar cinta, pasti Arjuna akan tetap melindungi pernikahan kami, sebab selama kontrak surat itu berlaku, pasti Arjuna tidak akan tinggal diam begitu saja."


Hati terus ngedumel tidak suka. Langkah kembali ke ruangan Arjuna lagi. Rasanya kesal dan dada begitu meluap-luap ingin menumpahkan semua emosi.


Keadaan terlihat sepi. Mungkin Cakra sudah pergi untuk ke perusahaan. Arjuna menatap nyelanang ke arahku, yang baru masuk dari arah pintu. Sorotan netranya tajam, dengan alis sedikit naik.



"Kamu kenapa cemberut begitu?" tanyanya.


"Tidak ada!" ketus menjawab.


"Mana mungkin tidak ada. Lihat! Bibir kamu maju begitu."


"Mana ... mana?" Nyolot jawaban.


"Hhhh, mari sini!" panggilnya.


"Ada apa, sih?."


"Sini dulu, kenapa? Dipanggil suami kok banyak membantah."


"Nah, kalau begini 'kan bagus. Tanda kalau istri sangat patuh sama suami."


"Eghem."


"Ayo cepetan duduk sini."


Arjuna ingin menarik tanganku, agar segera duduk didekatnya.


"Hiih, banyak maunya."


"Astaga, banyak ngeluh. 'Kan bagus kalau berbicara sambil duduk."


"Iya ... iya!" Kuturuti kemauannya.


"Kenapa bibir ini jelek banget, kayak bebek mau nyosor saja." Jari Arjuna sudah meraih untuk menyentuh.



"Diih, menghina banget kayak bebek. Dibilangin tadi tidak apa-apa, masih saja tidak percaya!" ketus perkataan.


"Biarin. Memang mirip bebek, kelihatan monyong sekali. Kamu itu tidak pandai menyembunyikan apapun, jadi aku pasti tahu apa yang terjadi pada dirimu saat ini."

__ADS_1


Wajah Arjuna begitu dekat denganku, yang hanya menyisakan jarak beberapa centi saja. Tatapannya begitu mengintrogasi. Wajahnya terus menyelami muka yang masih menyimpan kekesalan.


"Serius, tidak ada apa-apa."


"Apa aku perlu buktikan, dengan cara membuka kunci bibirmu yang sepertinya masih tersegel ini."


Wajah berubah seketika menjadi membulat. Pikiran mencoba mencerna apa yang barusan dia katakan.


"Maksudnya!" Kedua alis sudah naik, sebab kurang paham.


Tangannya sudah meraba dan mengelus perlahan-lahan bibir lembutku. Sikapnya membuat tegang dan bikin tubuh mulai terasa gerah. Netra terus saja membaca wajahku. Bola matanya terus bergerak-gerak, seakan-akan menunggu jawaban dari mulut ini.


Aku tahu apa yang dinginkan Arjuna sekarang, namun memang sengaja pura-pura tidak mengetahui. Pergerakannya mulai nekat mendekatiku, saat kepala mulai kikuk kaku. Semakin lama semakin terus maju. Mambuat nafasnya bisa terhirup mudah olehku.


"Stop, jangan lakukan ini!" cegahku dengan cara menutup mulut dengan kedua tangan.


Sorot netra tajam, yang terbaca kalau ada sejuta tanya tentang sikapku barusan.


"Kenapa tidak boleh. Bukankah aku berhak atas ini semua?"


"Kita hanya pura-pura, jadi jangan melebihi batas."


"Ahhhhhhh, iya. Benar ... benar sekali." Wajah Arjuna kini mulai menjauh.


"Wah, apakah dia marah sebab tidak dituruti keinginannya barusan," rancau hati yang mencoba membaca ekspresi Juna sekarang.


"Ok 'lah. Kamu urus dirimu sendiri. Aku ngantuk mau istirahat sekarang!" Sewotnya kata-kata.


Arjuna sudah kembali terbaring, dengan manarik kasar selimut untuk segera menutupi tubuhnya.


"Ahh, kayaknya dia memang marah. Tapi ucapanku tadi 'kan memang tidak salah."


Kepala kugaruk-kagaruk. Rasanya masih bertanya-tanya, apa tindakan tadi salah atau benar? Memang kami sudah menikah, tapi situasi yang pura-pura tidak bisa berlebihan. Mengantisipasi kalau suatu saat nanti kami akan terpisah. Tidak mau jika seseorang yang akan hadir dihidupku berikutnya, akan menerima bekasnya saja.


"Juna?"


"Mmm."


"Apa kau marah?"


"Marah untuk apa?"


"Yang masalah tadi."


"Untuk apa aku marah, jika apa yang kamu katakan adalah benar."


"Tapi sikapmu itu menunjukkan kalau sedang marah."


"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Aku mau tidur. Intinya, tidak ada yang namanya marah terjadi padaku sekarang."


"Hhh, ya sudahlah kalau kamu mau tidur. Aku tidak akan menganggu."

__ADS_1


"Mmm."


Kelihatan sekali Arjuna sekarang tidak ingin berbicara padaku. Rasanya jadi serba salah, tapi itu jalan satu-satunya agar tidak terjadi sikap yang berlebihan, ketika hubungan kami hanya drama diatas kertas saja.


__ADS_2