
Rasa pusing mulai menyerang kepala. Rasanya berat tidak kuat menahan isi seluruhnya. Samar-samar netra mencoba membuka. Terlihat semua serba putih, dan rasanya tempat ini asing alias bukan kamarku sendiri.
Tangan berusaha menahan beratnya kepala yang sakit berdenyut. Burung-burung kecil diatas kening, rasanya sedang menari ria melihat keadaanku sekarang. Tidak ada seseorangpun yang bisa aku tanyai.
"Dimana aku? Kenapa sepi?"
"Apa ini rumah sakit," Hati bertanya-tanya.
Seluruh persendian rasanya lemah terkurasnya tenaga. Netra menyapu seluruh pandangan, namun tidak kutemukan satu orangpun disini.
"Kemana semua orang?" guman hati.
Sekian detik akhirnya ada suara perempuan dan laki-laki, sedang ngobrol mendekati posisiku. Dari suara seperti kenal baik siapa pemiliknya.
Lemah membuatku harus memejamkan mata lagi. Rasanya masih enggan untuk mencoba bangun.
"Bagaimana ini, Cakra?" Suara sendu Liona.
Netra mencoba mengintip sedikit apa yang sedang terjadi. Sesuai dugaan, benar saja kalau Liona sedang terisak.
"Sudah. Kamu tidak usah sedih begini. Bos itu orangnya kuat. Yakinlah kalau dia baik-baik saja," Cakra seketaris kelihatan mencoba menenangkan Liona yang nampak bersalah.
"Tapi, kalau bukan gara-gara aku yang memberikan obat itu, mungkin Arjuna tidak akan sakit begini."
"Iya tahu. Kamu tidak salah. Obat itu 'kan memang tidak sengaja kamu berikan."
"Andaikan sebelum memberikan coba memeriksanya lebih teliti, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Sudah ... sudah. Hapus airmata kamu, tidak baik menangis sementara orangnya belum mati," jawab Cakra.
"Kurang asem. Bos sendiri diinginkan mati. Awas saja kalau aku sudah sehat, akan aku getok dan bejek-bejek kamu nanti, Cakra!" Kekesalan dalam hati.
"Semoga Arjuna benar-benar baik, sebab kalau kenapa-napa tidak bisa memaafkan diriku sendiri," Terdengar Liona ada penyesalan begitu dalam.
"Hmm, berarti aku masuk rumah sakit gara-gara dia? Gara-gara salah minum obat? Apes benar, niat hati mau untung tapi malah kena buntung begini," rancau hati.
Liona menangis tapi kenapa aku malah tertawa bahagia dalam hati? Mungkinkah akibat aku berhasil meluluhkan hatinya, agar tidak marah lagi padaku atas masalah kemarin? Sepertinya memang iya.
__ADS_1
Selimut yang tadi sempat sedikit tersingkap, kini sudah dibenahinya dengan menaikkan dikit sebatas perut. Cakra sudah pergi entah kemana. Kini tinggal Liona yang sedang memperhatikan wajahku.
Netra terus melirik sedikit. Masih mencoba pura-pura terpejam. Mau melihat sebatas mana Liona sangat menyesal, sebab telah membuatku terbaring sakit.
"Maafkan aku, Juna!" Lagi-lagi Liona terisak.
Tangan sudah dia genggam erat, sambil menjatuhkan tetesan embun dari pipi.
"Andaikata kalau obat itu tidak kuberikan, pasti kamu tidak akan sakit begini. Maafkan aku," Untuk kesekian kali Liona merasa menyesal.
Benar-benar tidak tega melihatnya begini, tapi rasanya penasaran saja sama sikapnya.
Ternyata Liona orangnya baik hati dan lemah lembut. Tidak seperti dugaan selama ini yang menyangka dia wanita tidak baik, sebab selalu membantah perkatan dan cerewet.
"Semoga kamu benar-benar wanita terbaik yang Allah kirim untukku," Rasanya hati begitu plong.
Tangan berusaha bergerak pelan-pelan. Dengan mulut bersuara lemah. Netra berpura-pura mulai membuka perlahan.
"Juna ... Arjuna!" Kepanikan Liona memanggil.
"Hmm!" jawab lemah.
"Hmm."
"Alhamdulillah, kalau kamu baik."
"Iya."
Posisi mencoba duduk, sebab belakang punggung terasa panas, mungkin efek terlalu lama berbaring. Liona membantu membenahi keinginanku, dengan cara menaruh bantal dibelakang sebagai pengganjal.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
"Kamu beneran baik 'kan?" tanya Liona lagi.
"Iya."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kamu habis nangis 'kah?" Mencoba memergokkinya.
"Mana ada!"
"Ada."
"Jangan main tuduh sembarangan!" Suara Liona nyolot tak senang.
"Mau bukti 'kah."
"Lihat dipipi kamu sama mata yang memerah."
"Masak sih?"
"Kan kamu tidak percaya. Kenyataan kalau kamu itu habis menangis."
"Suka-suka kamu nuduh." Mulut Liona sudah maju.
"Kenapa sih nih anak tidak mau mengakui kalau habis menangis? Tinggal bilang iya saja kok repot. Apa malu mengakui saja, dia?" hati bertanya-tanya penuh keheranan.
"Bukan gitu, tapi memang ada kenyataannya."
"Hmm. Ya sudah, aku mau keluar saja. Disini bikin bad mood."
"Eiiit, mau kemana? Masak orang lagi sakit ditinggal, apalagi aku baru sadar dari pingsan," Tangannya sudah tercekal agar tidak jadi pergi.
"Hmm. Maaf."
"Kamu dari tadi maaf ... maaf terus! Ada apa?" tanyaku pura-pura.
"Iiiih, tidak ada apa-apa, sih. Hanya lagi pengen meminta maaf saja."
"Hidih, sebenarnya apa sih yang sedang dipirkan Liona. Kenapa dia tidak mau mengakui," Kebingungan hati.
"Hmm, baguslah. Sering-sering bilang gitu walau kamu tidak ada salah sama sekali."
Liona kelihatan greget ingin *******-***** wajahku, tapi dia tahan agar aku tidak marah padanya. Setelah mendesak, Liona tetap kekuh tidak menangis. Bahkan meminta maaf untuk apa 'pun, dia tidak bisa menjawabnya dengan benar.
__ADS_1
Perut sudah keroncongan. Kusuruh Liona membeli makanan saja. Untung masih ada Cakra, jadi kalau warung nasi jauh bisa minta tolong dia. Jatah makan dari rumah sakit masih lama, sebab ini belum waktunya makan siang.