
Kebahagiaan hal yang paling diiginkan setiap manusia, namun kadang kita harus melewati jalan yang terjal lebih dahulu. Bahkan ada yang sudah berjuang sekuat tenaga, tapi hanya ada kesedihan yang datang.
Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai lika-liku kehidupan. Kadang tidak cukup atau lupa untuk mengucapkan syukur, yang mana selalu saja mengeluh atas keadaan yang terjadi. Walau kebahagiaan belum sempat hadir ditengah-tengah kehidupan manusia itu sendiri, seharusnya kita tetap mensyukuri keadaan sebab sudah diberi kesehatan, rezeki bisa mengisi perut, sehat jasmani semua raga, sehingga bisa beraktifitas lancar dikehidupan sehari-hari.
Begitulah dengan diriku yang sekarang harus menjalani rumah tangga yang pelik dan rumit, namun terus menerus yakin dan tetap bersabar bahwa semuanya akan indah dan bahagia pada waktunya.
Hari ini akan membuat kejutan buat Arjuna. Semoga berjalan lancar dan tidak ada halangan apapun. Semua pernak-pernik telah dibantu Cakra. Semua dibelinya termasuk hiasan-hiasan yang berupa bunga.
"Fiiuuuh, untung saja bos tadi dapat celaka, jadi aku ada kesempatan untuk datang kesini!" Cakra telah menghembuskan nafas kasar.
"Apa, yang kamu bilang tadi? Celaka? Arjuna tidak apa-apa 'kan? Kok bisa terjadi begitu?" cecarku tidak sabar ingin tahu.
"Hehe, bukan luka serius kok, cuma ada inseden kecil kejedok saja dan tidak sengaja mobil nabrak tadi," terangnya.
"Oh, begitu. Kirain tadi ada luka parah."
"Enggak 'lah. Hanya kejadian kecil yang ceroboh."
"Baguslah kalau begitu."
"Emm, kamu tidak apa-apa 'kan menyiapkan semuanya sendirian. Takutnya kalau aku tidak kembali secepatnya nanti ngomel-ngomel pulak si bos?" tanyanya.
"Aman 'lah. Hanya menghias biasa saja, tidak perlu mewah, sebab takut tidak ada waktu banyak nanti."
__ADS_1
"Baik 'lah kalau begitu. Aku tinggal beneran ini."
"Iya, kamu hati-hati dijalan dan jangan ceroboh kayak bos kamu," sindirku.
"Yang jelas iya 'lah. Mungkin bos sedang sial karena dapat karma. Ya sudah, selamat bekerja dan hati-hati melakukan semuanya sendirian."
"Pasti itu. Terima kasih sudah repot-repot meluangkan datang ke sini."
"Iya, sama-sama. Tidak usah sungkan begitu, kita ini teman." Cakra tersenyum manis dengan lengsung pipi telah timbul.
Jaket yang tergeletak diatas sofa, telah disambar Cakra untuk segera dipakai. Akhirnya pria yang baik itu mulai pamit dan melangkah kakinya tergesa-gesa keluar rumah. Tangan melambai-lambai mengucapkan selamat tinggal.
"Em, Cakra tadi kalau tidak salah dengar mengucapkan karma? Maksudnya apaan, ya? Kenapa dari tadi yang dia bicarakan otakku tidak nyambung sama sekali sih," guman hati sedang berpikir.
Mungkin tidak pantas jika seseorang perempuan melakukan ini, tapi sebagai istri yang ingin dihargainya sedikit memberi kejutan mungkin tidak apa-apa. Mungkin ini sebagai hadiah atas rasa terima kasih, saat sudah memberikan pengalaman hidup sebagai wanita kaya, maupun bisa bersanding dengan dia walau kenyataan semua penuh drama.
"Terima kasih, Arjuna. Kamu telah hadir dalam hidupku. Tidak pernah merasakan sebahagia ini ketika bersama kamu. Walau kita sering adu mulut, tapi itu hanya pelampiasanku yang mungkin kesal, akibat kamu tidak peka akan hadirku selama ini ingin berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu."
"Walau suatu saat kerja kerasku ingin bersama kamu telah menjadi sia-sia, tapi aku tetap akan tetap berterima kasih sebab telah menjadi bagian dari hidup kamu. Banyak hal yang telah kupahami dan kau ajarkan, sehingga bisa jadi wanita yang anggun dimata orang yang pernah mencela."
"Hhhh, mungkin aku harus banyak belajar ilmu bersabar, ketika pernikahan kita hanyalah diatas kertas. Semoga ke depannya kamu akan menemukan wanita yang cocok dan mencintaimu dengan tulus, tidak sepertiku yang selalu mengecewakan maupun membuat kamu marah. Walau ada rasa perih didada, namun mulai sekarang aku akan belajar tegar dan tidak cengeng. Terima kasih Arjunaku," Ditengah-tengah melanjutkan menghias, tangan hanya mengambang memegangi pernak-pernik.
__ADS_1
Entah airmata apa yang jatuh sekarang? Apakah kebahagiaan yang kudapat selama ini bersama Arjuna, ataukah pilunya hati sebab ini semua hanya permainan, yang sewaktu-waktu akan jadi bom waktu menghancurkan dan kehilangan semuanya.
Tidak ingin larut dalam kesedihan. Akupun beralih sibuk memasak beberapa makanan yang disukai Arjuna. Walau belum banyak yang kuketahui, namun sebisa mungkin memasak yang terbaik untuknya. Semoga saja dia tetap suka lauk seperti hari-hari kemarin.
Meja makan penuh dengan masakan. Tidak lupa lilin tersedia ditengah-tengah menu makanan. Hiasan bunga juga tidak ketinggalan. Mata sedang menyapu seluruh ruangan. Kelihatan perfect. Jantung bergetar tak sabar ingin menunggu kepulangannya.
Air hangat-hangat kuku mulai menguyur seluruh tubuh. Cukup menyegarkan, setelah setengah hari bergulat dengan kesibukkan menghias. Dalam kuguyuran air, netra terpejam penuh penghayatan, ketika pikiran kembali melayang-layang akan hubungan kami. Mungkin akan terasa sesak sekali, jika suatu saat perpisahan itu akan terjadi sungguhan.
Beberapa menit kemudian>>>
Firasat yang tidak baik. Kata perpisahan terus saja tergiang-ngiang. Tangan yang merias wajahpun sampai ikutan tidak fokus, yang berkali-kali salah tempat memberikan polesan. Tisupun sudah berapa buah kubuang dilantai, yang jelas sudah banyak berserakan dimana-mana.
"Hhh, kenapa bayangan kata perpisahan begitu menghantuiku? Apakah aku terlalu takut jika kehilangan kamu, Arjuna? Tapi mungkin inilah nasib kita, yang telah ditakdirkan tidak bisa bersama. Semoga aku akan tabah menghadapi ini semua." Berkali-kali menghembuskan nafas panjang.
Waktu sudah menunjukkan hampir mengumandangkan adzan magrib, tapi belum ada tanda-tanda Arjuna akan pulang ke rumah. Karena bosan, badan kurebahkan diatas pembaringan. Tangan mencoba berkeliling menjelajahi aplikasi hijau. Begitu jelas status Arjuna kalau dia masih diperusahaan.
"Ciiih, kenapa dia pasang status begituan? Orang sok sibuk. Apa tidak tahu kalau aku garing menunggu kamu dari tadi. Lihat nih! Riasan sampai mulai luntur akibat keringat," Kedongkolan hati yang ngomel-ngonel sendiri.
"Aah, peduli amat. Bila perlu kamu tidur sekalian diperusahaan!" Hati dibuat emosi.
Gawai langsung kuletakkan begitu saja. Atap-atap langit kutatap seksama. Pikiran terus saja kosong, entah melayang dan kemana lagi berkelana. Kaki yang awalnya terjuntai, kini kutarik untuk ikut naik diatas kasur.
Lama sekali berangan-angan, hingga mata makin lama makin ciut tak tahan lagi ingin memejamkan mata. Alam mimpi terus menghantui saat sudah berjalan-jalan menikmati panorama alam.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama dengkuran terjadi. Rasanya cukup lama terlelap. Leher terasa kaku saat mulai bangun.