Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Pulang Larut Malam


__ADS_3

Dalam kegelapan malam, sedang menyusuri jalanan yang nampak sepi dan jarang kendaraan yang berlalu lalang lagi. Kerjaan yang menumpuk, harus membuatku lembur sampai larut malam begini. Karena sepi maka laju kendaraan terus saja kutancapkan kuat kecepatannya, agar segera sampai kerumah.



Shet, beberapa menit kemudian tempat tujuan akhirnya sampai juga. Lengan baju dipergelangan tangan, mencoba kugulung sedikit dinaikkan.


Bhugh, pintu mobil sudah kututup rapat saat sudah keluar. Jari-jari mencoba mengucek mata yang rasanya mulai pedih, akibat digunakan lelah berkerja dan sekarang ngantuk berat.


Leher belakang terus saja kuusap kasar. Dalam lift untuk menuju lantai atas apartemen, kepala terus saja kugoyangkan kiri kanan, rasanya sudah tidak tahan saja tengkuk yang begitu kaku, dikarenakan selama berkerja menunduk terus.


Kling, angka sudah menujukkan lantai 10, yang posisinya menuju apartemen pribadi.


Dengan lesu kaki sudah kuseret. Kekuatan mulai melemah efek lelah bekerja.



Tit ...tit, kode pin rumah apartemen mulai kupencet satu persatu.


Cekliek, pintu terbuka.


Wajah dibuat heran saat melihat keadaan rumah, ketika masih menyala semua lampunya. Pasti tebakkan tidak salah lagi, kalau ada orang yang sedang menunggu kedatanganku.


"Kamu belum tidur juga?" tanyaku yang langsung menuju ruang nonton telivisi, saat mendengar suara bisingnya.


"Eh, kamu sudah pulang," Liona yang awalnya fokus menonton, kini tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke arahku.


"Belum tidur sebab lagi menunggu kamu pulang," jawabnya kegirangan saat dia sekarang menyalami tangan punggungku.


"Tapi tidak selarut ini juga harus menunggu," cakap tak enak hati.


"Enggak pa-pa." Liona sambil nyengir, menunjukkan giginya yang putih bersih.


"Bukan gitu. Kalau aku sudah terbiasa dengan ini, tapi kamu 'kan belum pernah. Takutnya nanti akan sakit," jelasku.


"Tapi tidak enak kalau aku tidur duluan, sementara kamu masih berjibaku sama waktu dan kerjaan."


"Beneran tidak apa. Lain kali tidak usah ditunggu, kamu langsung tidur saja. Ingatlah sama kesehatan," imbuhku.


"Ya sudah kalau gitu, aku tidak akan menunggu kamu lagi," Kepala Liona sudah tertunduk dengan muka cemberut.

__ADS_1


Tengkuk hanya kuusap kasar lagi, saat melihat wajah sedihnya itu. Rasanya tidak tega mencegahnya, tapi ini semua demi menjaga agar dia tidak drop. Mungkin dia merasa kecewa sebab kucegah.


"Kamu jangan memasang wajah begitu. Jelek amat iiiih!" keluh tidak suka.


"Biarin."


"Ya sudah 'lah, aku mau tidur sekarang. Kalau tidak, pasti kamu akan ngomel-ngomel terus," ketusnya.


"Hmm, tidur yang nyenyak biar tidak telat buat sarapan besok," balik ketusku.


"Ok."


Liona melenggang pergi begitu saja tanpa melihat ke arahku lagi. Perempuan ini memang susah ditebak, apalagi kalau sudah ngambek begitu. Padahal hanya menyuruh demi kebaikkannya tadi, tapi sudah kelewatan agak merajuk.


Lelah yang mendera langsung menuju kamar. Baju segera kuganti tanpa mau mandi dulu sebab sudah malam. Jam telah menunjukkan diangka dua belas, sampai mata tidak kuat lagi untuk menahan agar tetap terjaga.


*********


Bunyi nyaring alarm begitu memekak telinga. Tangan mencoba meraih untuk mematikan. Kusetting jam lima, walau terlambat untuk melaksanakan sholat shubuh tapi masih ada waktu untuk menjalankannya. Rasa ngilu disekujur tubuh, enggan sekali diajak kompromi untuk bangun awal-awal ketika adzan berkumandang.



Wajah berkali-kali kuusap kasar, agar bisa sadar lebih kuat dari rasa ngantuk. Slop yang tersedia dibawah katil segera kutarik untuk memakainya. Tak ingin kehabisan waktu, segera meluncur untuk ke kamar mandi membersihakn diri.


Sekian menit dan detik, melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim akhirnya selesai juga. Sajadah segera kulipat dan simpan rapi. Baju khas sembahyang sudah kucopot satu persatu kancingnya, untuk segera ganti dengan baju kerja. Malas rasanya ingin kerja, tapi demi kelangsungan hidup keluarga tidak boleh gegabah main cuti.


Aroma khas bumbu masakan begitu menyeruak menusuk hidung. Perutpun sampai keroncongan tak sabar ingin mencicipi. Acara berdandan rapi dan casual sudah selesai, kini tinggal keluar untuk segera merasakan masakan yg tercium mengugah selera.


"Pagi!" sapaku pada Liona yang masih sibuk menyiapkan segalanya.


"Pagi juga."


"Belum siap lagi 'kah ini?" tanyaku saat Liona tidak bisa diam bolak-balik menyiapkan.


"Sebentar lagi akan beres semua."


Tangan segera membuka piring yang posisinya tadi masih tengkurep. Air putih yang tersedia dimeja makan segera kuteguk, untuk menghilangkan haus pada kerongkongan yang kering. Sendok dan garpu tak luput ikut terambil. Nasi yang sudah ada dimeja segera kucedok, untuk segera dibubuhkan dipiring.


__ADS_1


Liona sekarang mulai bergabung untuk makan juga. Pakaiannya sudah ganti dan sekarang terlihat rapi, dan itu membuatku


mengkerutkan kening sebab merasa curiga.


"Pakaian kamu kok aneh begitu?" Heran sudah.



"Aneh gimana? Apa tidak cocok dibadan 'kah?" Liona balik bertanya.


"Bukan. Maksudku aneh sebab rapi sekali."


"Oh, gitu. Aku hari ini mau ke hotel kampung ibu sama bapak," jelasnya.


"Mau ngapain kesana lagi?" tanyaku tak suka.


"Mau menolong mereka sebentar. Tadi malam menelpon suruh kesana, sebab banyak kerjaan dan pelanggan. Mereka agak kerepotan akan hal itu dan meminta bantuanku ," terangnya.


"Waduh, apakah Liona akan bertemu sama si kutu kupret Kenzo lagi? Kalau iya, tidak akan kubiarkan Kenzo mendekati Liona lagi?" guman hati yang merasa was-was.


"Memang kenapa? Apa kamu tidak mengizinkan?" tanyanya sudah memonyongkan mulut.


"Bukan tidak mengizinkan datang kesana, tapi kamu kenapa tidak bilang dari awal."


"Lah, kamu saja tadi malam pulangnya begitu larut. Ya, mana bisa kasih tahu kamu sementara sibuk kerja, dan tadi malam waktu pulang aku lupa kasih tahu kamu."


"Hmm."


"Tapi kamu beneran mengizinkan ... 'kan?"


imbuhnya menatap nanar.


"Hmm, iya."


"Terima kasih."


"Tapi nanti kuantar."


"Oke."

__ADS_1


Wajah Liona kelihatan sumringah bahagia, bagaikan anak kecil yang baru saja menerima sekantong permen. Mungkin dengan mengizinkan bisa ketemu Kenzo, aku bisa mencari tahu segera apa tujuannya pria itu ingin mendekati Liona.


__ADS_2