Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Baru pertama kali naik pesawat


__ADS_3

Lama sekali bernegosiasi sama Liona. Sampai akhirnya terjadi kesepakatan, kalau kami akan menjalankan hari berbulan madu.


Hati cukup gembira sih, tapi sayang sekali Liona akan ikut asal ada perjajian diantara kami, yaitu aku tidak boleh macam-macam padanya, jika melangggar sesuai isi kontrak nikah maka harus menganti dua kali lipat sesuai isi didalamnya.



Mungkin baru pertama kali Liona merasakan naik pesawat, yang terlihat dari cara dia kaku dan ketakutan. Lengan tidak kepas dia pegang terus. Sampai mau lepas landas saja sampai dicengkram kuat, dan aku hanya meringis menahan sakit demi dirinya.


Benar-benar perempuan ketinggalan zaman, namun senang saja ada sedikit hiburan akibat kelucuan dia, yang melakukan sesuatu harus bertanya dan mencobanya pelan-pelan. Banyak mata sempat memandang ke arah kami, namun kuacuhkan saja sudah kepalang dibuat malu didepan umum.


"Wah, tinggi sekali. Kenapa pesawatnya berjalan diawan? Apa awan itu tanda sebagai jalan? Apa kita nanti tidak akan jatuh naik pesawat ini?" tanyanya yang bodoh.


Mata kututup dengan buku pemanduan pesawat, sebab malas sekali melayani Liona yang banyak tanya.


"Ciih, ditanya kok malah ngak jawab, sih?" Suara terdengar kesal.


Takut jika dia akan marah lagi, maka hanya bisa mendengus panjang. Wajahnya nampak cemberut dengan bersedekapkan tangan.


"Jangan sewot gitu 'lah. Aku tadi mau tidur, bukan tidak ingin menjawab pertanyaan kamu," Alasan kebohongan.



"Masak!" acuhnya.

__ADS_1


"Suer tekewer-kewer. Tidak akan jatuh 'lah, sayang. Disini aman, apa tidak lihat yang kamu pakai ini! Semua dilengkapi safelty belt. Lagian kamu tidak usah takut, 'kan ada aku yang siap siaga akan menjagamu," Tangan sudah mengusap-ngusap pelan pipinya.


"Iya juga, ya. Kenapa tidak mikir sampai ke situ."


"Mungkin ini baru pertama kali, makanya kamu banyak pertanyaan yang ingin diketahui. Sudah tidur sana gih, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan."


"Hmm, ok 'lah."


Mudahnya membujuk. Jadi anak manis dan penurut sekarang, mau juga mengikuti perkataanku. Mata juga ikutan terpejam, sebab sebelum berangkat tadi masih sempat mampir ke perusahaan pagi-pagi buta.


Tangannya yang diatas pembatas tempat duduk sudah kugenggam erat. Terasa dingin makanya sekarang kumasukkan ke dalam jaket. Begitu nyeyak dia tidur, sampai apa yang kulakukan dia tidak rasakan.


Tatapan terus nyelanang ke arah wajahnya yang imut. Begitu sempurna ciptaan tuhan dihadapanku sekarang. Ada sedikit penyesalan, sebab selama ini selalu membuat dia marah ataupun kecewa, sehingga untuk bulan madu ini aku akan berusaha membuat hatinya segembira mungkin.


Jemputan sudah datang. Semua benar-benar terencana. Tanpa bingung menyewa maupun menunggu. Semua sudah diatur mama sedimikian rupa, sehingga kami tidak kerepotan lagi untuk menuju ke tempat tujuan.


Muka sudah pucat dan kondisi tubuhnya melemah. Tidak tega terhadapnya, maka dia kuberi kesempatan untuk bermanja ria dengan mengendong tubuhnya dibelakamg punggungku. Banyak mata sedang memperhatikan kearah kami. Bersikap cuek, sebab Liona yang sepertinya tidak kuat berjalan harus terselamatkan dulu.



Dari pengecekkan nama dihotel, sampai akan menuju kamar kami berdua, Liona masih melekatkan tubuh dibadanku. Walau sudah berpeluh keringat menetes dan kehabisan nafas akibat capek mengendong, semua kutahan biar dia tidak kecewa lagi.


"Gimana keadaan kamu?" tanya saat Liona terbaring lemah dikasur.

__ADS_1


"Perut rasanya seperti diaduk-aduk, dan kepala berat banget pusingnya. Mau muntah tidak bisa ini, makanya tenaga macam terkuras habis." Penjelasan yang sangat mengkhawatirkan.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu saja. Aku akan coba cari obat. Jangan kemana-mana, ok!" Tangan berusaha menyelimuti seluruh tubuhnya.



"Hmm, hati-hati."


"Iya."


Tidak tega meninggalkan dia sendirian, tapi lebih tidak tega jika dia nanti tidak sembuh dan tidak ada tenaga. Dengan langkah lebar sedikit larian, secepat mungkin berusaha mencari obat yang sesuai dia butuhkan.


Akhirnya setelah beberapa kali keliling, ada juga. Efek baru menginjakkan ke tempat baru, makanya sedikit lama mencari. Untung saja ada pak sopir taxi yang mengantar sesuai tujuan.


"Liona ... Liona. Bangunlah!" cakap mengoyangkan sedikit lengannya.


"Ehh, Iya." Sayu-sayu dia mulai membuka mata.


"Ini ambilah dan minum dulu. Semoga bisa meredakan perut kamu yang lagi mual itu."


"Iya. Terima kasih."


Sempat kutawar untuk makan dulu, sebab dari berangkat sampai didalam pesawat tidak ada sebutir nasipun yang masuk dalam perut. Katanya nanti saja, dikarenakan peritnya masih diaduk-aduk sakit sekali. Setelah meminum obat dia ingin istirahat kembali.

__ADS_1


"Heeh, cepat sembuh, Liona. Dihari bahagia ini tidak mungkin kamu akan melewatinya. Aku tahu kamu juga bahagia sekali ingin jalan-jalan, tapi kalau sudah sakit begini semua bisa tertunda. Maafkan aku jika selalu merepotkan kamu," Kesedihan melihatnya tergolek lemah.


Berkali-kali selimut kubenahi agar bisa menutupi tubuh Liona yang sedang meringkuk kedinginan. Sempat membeli makanan dua porsi, namun melihatnya yang sakit jadi tidak bisa menelan juga itu butir-butir nasi.


__ADS_2