
Sopir mertua perempuan sudah mengantar ke kediaman orangtua. Awalnya aku begitu takut jika pulang ikut mereka. Pasti akan marah besar mendengar masalah ini, jadi Mama Arjuna terpaksa aku suruh menelpon dan menjelaskan ini semua. Pada awalnya mereka terdengar marah besar dan sempat ada makian, namun Mama menyakinkan dan berhasil membujuk dengan segudang alasan.
Disepanjang perjalanan lelehan aliran deras ini tidak berhenti. Dada terus saja sesak untuk sekedar menghirup udara. Pandangan kosong menatap pepohonan jalan dari kaca mobil. Tidak patut dimaafkan lagi kesalahannya. Kata cerai yang terucap oleh bibir sendiri, semakin membuatku terpuruk dan terluka lebih dalam lagi.
Langkah semakin gontai saat sudah sampai ke rumah orangtua. Koper sudah diseret sopir. Tidak ada tenaga lagi membuatku harus terduduk diemperan rumah.
"Ini mau ditaruh dimana, Nona?" Sopir kelihatan bingung.
"Disitu saja, Pak. Terserah. Dimana-manapun jadi."
"Apa tidak lebih baik dibawa ke dalam saja?"
"Tidak usah, Pak. Orangtua saja kelihatannya sudah istirahat. Lampu dalam rumah saja sudah dimatikan semua."
"Oh, tapi apa tidak sebaiknya Nona masuk ke rumah juga. Ini sudah malam dan pasti diluar sangat dingin."
"Tidak usah, Pak. Aku tidak mau menganggu mereka.'
"Kalau Nona tidak berani mengetuknya, biar saya saja yang membantu membangunkan mereka. Udaranya sangat dingin banget ini. Nona, harus masuk rumah."
"Beneran, Pak. Tidak usah. Saya masih ingin menghirup udara segar saja. Bapak tidak usah khawatir."
"Ya sudah kalau begitu. Saya mau pamit pulang."
"Iya, Pak. hati-hati."
__ADS_1
"Jaga kesehatan, Non. Kalau terasa dingon sekali segera masuk rumah biar tidak terserang sakit, dan kalau ada apa-apa segera hubungi saya saja."
"Iya, Pak. Terima kasih nasehat dan perhatiannya."
"Iya, sama-sama. Bye ... bye. Selamat malam."
"Malam juga."
Beliau sudah pergi, meninggalkan diriku yang sendirian menatap langit malam yang sedang tertutup awan mendung, seperti hati ini yang mendung akan cinta yang tertutupkan awan masalah.
Berkali-kali menghembus nafas kasar. Apakah ini cobaan atau hanya masalah kecil yang perlu dihadapi dengan kesabaran dan keberanian saja? Wajah Arjuna sempat ingin meluluhkan hati ini dengan sikapnya yang begitu memelas, tapi dalam jiwa mengatakan jangan percaya begitu saja,. sebab didepan mata melihat dengan sendiri kejadian itu.
Ceklek, suara pintu dibuka. Menoleh ke arah suara. Ternyata Bapak dan Ibu yang keluar.
"Kami memang sengaja mau nunggu kamu.
"Maaf merepotkan."
"Tidak apa-apa. Kenapa kamu tidak masuk, Nak!"
"Lagi ingin duduk disini saja, Bu."
"Tapi ini sudsh malam dan hawanya sangat dingin," Saut Napak.
__ADS_1
"Ngak pa-pa, Pak. Rasa dingin ini mengalahkan kesedihanku."
"Hhheeeh, sini. Peluk Ibumu ini."
Tangan terbentang lebar. Tak tahan lagi jika tidak menyeruakkan airmata. Sekarang memag butuh sebuah pelukam. Ibu sangat mengerti jika hati yang sakit begitu dilanda kesedihan.
"Sudah, jangan terlalu sedih begini. Bapak, yakin ini hanya masalah kecil yang sedang menguji kesabaran kamu. Walau Bapak tidak selalu disamping kalian, tapi tahu kalau nak Arjuna itu orang baik, walau kadang sikap angkuhnya itu sangat menyebalkan. Dari wajah dan sikapnya Bapak tebak jika dia mulai sangat mencintai kamu,"Beliau berushaa menghibur.
"Entahlah, Pak. Semua kejadian itu kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Bagiku tidak ada alasan lagi untuk Arjuna mengelak. Semua jelas kalau dia sedang tidur sama wanita itu," Mengeluarkam uneg-uneg.
"Benar, Pak. Kita saat ini harus percaya sama anak kita. Orang kaya selalu begitu, tidak cukup hanya satu wanita. Mentang-mentang banyak harta, bisa seenaknya mempermainkan hati wanita termasuk Liona. Kalau sampai menantu si Arjuna si*lan itu nanti nyata melakukan itu, tak segan-segan akan kupotong-potong tubuh dan burungnya itu. Jangan pikir dia bisa bebas tidur bersama wanita lain," Emosi juga Ibu.
Hati Ibu pasti juga sakit dan geram, saat anaknya telah dipermainkan. Pasti kebanyakan Ibu akan maju duluan membela anaknya, sebab harta paling indah adalah melihat anaknya bahagia. Hati Ibu akan tentram, jika mendengar rumah tangga anak yang terbina akan adem ayem dan harmonis.
Bapak hanya busa mengalah, tidak bisa berkata apa-apa. Beberapa tetes embun sudah sangat membasahi baju Ibu. Mereka terus memberi semangat dan penjelasan agar aku bisa menahan emosi dulu dan mencari kebenarannya dulu.
Membekulah hati. Rasanya hambar. Tidak lagi merasakan indahnya kebahagiaan. Kebingungan membuat semakin terpuruk.
"Kau tahu saat rasa ini hadir, tapi kenapa sekarang kau patahkan dengan kejam?"
"Kau tahu saat rasa ini hadir, tapi kenapa sekarang kau patahkan dengan kejam?"
"Apa salahku padamu? Apakah kau memang mencintainya? Tapi kenapa harus mau menikahiku, dan selama ini apa kalian berpura-pura? Sonia memang lebih cantik dan segala-galanya bagiku, mungkinkah itu yang membuatmu harus berpaling. Tapi kenapa ... kenapa harus sekarang saat cinta ini hadir untukmu," Hati terus saja merancau sedih.
__ADS_1
Didalam kamar tak luput juga untuk dijadikan pelampiasan kesedihan. Banyak airmata yang sudah jatuh, sampai rasanya kering dan sedikit membengkak.