Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kesal Padanya


__ADS_3

"Kapan kamu akan ingat sih, Juna? Apa kamu nyaman sekali tadi dipeluk?" Kekesalan hati yang kini sedang ngedumel keluar dari ruangannya dirawat.


Tangan sudah bersedekap. Tidak peduli atas tatapan orang yang lewat, saat mulut ini bagaikan terkucir rapat, sehingga moyongnya sudah tak terkira lagi panjangnya.


"Awas saja kamu, Juna. Seenaknya saja kamu main peluk wanita lain."


"Hhhhhhh, kenapa kamu jadi sewot dan marah begini, Liona? Bukankah pernikahan kalian ini hanya drama? Tidak seharusnya kamu gedeg melihat suami kamu tadi," guman hati berbicara pada diri sendiri.



"Iiiiiiiihhhhhh!" Tangan telah mengepal, diiringi kaki berulang kali terhentak dilantai, mencoba meluapkan semua yang menjadi momok kekesalan.


Mungkin telah salah marah pada suami, tapi caranya menyambut wanita itu tidak kusukai, seperti genit menginginkan wanita yang dulu pernah suka padanya. Rela sih! Tapi mengapa hati ini seakan-akan memberontak, ingin sekali menjambak rambut dua sejoli yang berani-beraninya mesra saat aku tidak ada ditempat.


Andai saja ada pisau ditangan, pasti sudah kucincang-cincang tubuh mereka bagai perkedel. Cukup sadar diri jika Arjuna tidak menganggap diri ini berarti untuknya, tapi kalau bisa cukup hargai diriku sebagai istri, yang sekarang masih sah secara agama. Cukup malu juga, jika Cakra mengetahui hubungan kami sedikit tidak akrab.


Pelipis kucoba pijit-pijit pelan, biar bisa meredakan semuanya.


"Aku memang tidak berhak atas semuanya, tapi apakah kamu tidak bisa menghargai sedetikpun sebagai istri? Kelakuan kamu tadi seperti orang rendahan, yang tanpa menolak mau saja dipeluk-peluk. Mungkin aku disini tidak berhak mencegah kamu untuk melakukan ini itu, tapi coba bayangkan jika diposisiku saat ini, pasti kamu akan lebih kesal juga."


"Untung saja aku tadi bisa menahan diri, walau tangan sempat tidak kuat ingin mangampar, namun saat itu hanya bisa mencengkram saja!" rancau hati terus saja tidak tahan mengeluarkan uneg-uneg.


Wajah sudah kutengadahkan menatap atas langit-langit. Ada sebuah pusat titik yang berwarna hitam telah kutatap kamat-lamat. Beberapa menit terus menatap tanpa mengedipkan mata lagi.


"Apa kamu baik-baik saja, Liona?" sapa seseorang.

__ADS_1


"Ehh, kamu, Cakra."


"Aku baik-baik saja, kok."


Cakra langsung menyusul duduk ingin bersebelahan denganku, dibangku milik rumah sakit.



"Aku tahu kamu tidak baik-baik saja, masalah bos tadi."


"Serius. Aku baik-baik saja."


"Ok. Aku percaya kalau kamu baik. Tapi tetap meminta maaf atas kelakuan Sonia tadi. Kamu jangan kaget atas sikapnya seperti itu. Dia memang kayak gitu. Suka sembarangan melakukan tindakan. Kalau keinginannya tidak dituruti, ya! Dia itu tidak peduli lagi ada yang marah atau tidak, yang penting kemauannya harus terpenuhi."


"Mungkin sedikit paham tentang wanita itu. Bukankah dia orang yang cinta mati sama, Arjuna 'kan?."


Cakra sudah menjelaskan dengan serius. Aku hanya jadi pendengar setia. Sedikit lega hati ini saat sempat emosi merajai jiwa. Semua penuturan Cakra bisa memaklumi, makanya sonia nekat melakukan hal diluar dugaan.


"Jadi kamu jangan marah, atau ingin melakukan hal-hal yang tidak diiginkan sama Sonia. Tahu banget kalau dia salah. Tapi dia bertindak begitu, karena bos Arjuna tidak merespon sama sekali."


"Hhhh, iya aku bisa memahami. Semoga saja Sonia bisa sadar akan perbuatannya seperti tadi. Arjuna sudah menikah, jadi tidak pantas saja kalau Sonia melakukan itu. Tidak masalah kalau hanya kita yang melihat. Takutnya kalau orang lain melihat kelakuannya bersama Arjuna, pasti mereka akan berpikiran jelek dan bisa jadi bahan gosip."


"Amin, semoga saja dia bisa sadar dan memahami atas sikapnya itu. Kamu tidak usah khawatir, Sonia akan terus dalam pengawasanku, agar tidak macam-macam ataupun berbuat aneh-aneh lagi."


"Terima kasih, Cakra. Maaf, jika merepotkan kamu."

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa. Itu sudah jadi tugasku untuk melayani dan melindungi Bos."


"Iya, makasih."


"Bagaimana dengan hubungan kalian. Apa baik-baik saja? Bos tidak melakukan hal aneh-aneh 'kan? Terus, apakah kalian akan terus menjalani penikahan ini tanpa didasari cinta? Apa tidak sayang, jika pernikahan kalian itu suatu saat nanti akan berhenti ditengah jalan?" cecar pertanyaan Cakra.


"Jawabannya hanya satu yaitu aku tidak tahu. Pernikahan ini memang pura-pura, tapi kami berusaha akan melakukan yang terbaik didepan orang banyak. Masalah lanjut atau berhenti, biarkan waktu yang menjawabnya."


Rasanya ada perasaan sedih atas pertanyaan Cakra, tapi semua nyata kalau semua itu harus terpasrahkan pada waktu.


"Semoga kalian bisa dewasa mengambil keputusan pernikahan ini. Kalau bisa jangan sampai berhenti, sebab aku tahu kalian sebenarnya mulai saling menyayangi satu sama lain," tebaknya.


"Hah, masak sih!" Wajah sudah membulat, tidak percaya akan tebakkan Cakra.


"Jangan bohong 'lah. Dari sikap kalian itu ketahuan sekali, kalau kalian itu mulai ada rasa saling menyayangi."


"Hehehe. Kalau itu aku tidak tahu, sebab masalah perasaan aku sendiri masih kebingungan, apakah perasaan dekat-dekat terus dengannya, benar suka atau hanya sekedar kewajiban istri untuk tetap mendampingi."


"Ya sudah, tidak usah dipikirkan lagi. Yang terpenting kalian jangan sampai pernikahan itu gagal, hanya karena ada perjanjian tanpa ada cinta."


"Iya, Cakra. Insyaallah. Doakan saja yang terbaik untuk kami."


"Pasti itu. Selain bos Arjuna sebagai atasan, dia sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri."


"Iya."

__ADS_1


Patut saja Arjuna betah berlama-lama dengan Cakra, ternyata orangnya enak diajak ngobrol.


Pria disebelahku ini sangat dipercaya dan jadi kaki tangan Arjuna. Kalau tidak bisa mengatasi masalah dalam kehidupan maupun perusahaan, pasti Cakra akan ditunjuk maju duluan untuk mengantikan suamiku yang selalu saja merepotkan orang.


__ADS_2