Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kabur meninggalkannya


__ADS_3

Walau mereka sedang tiduran tidak melihatku, rasa syok membuat mundur-mundur tidak percaya. Mulut kubungkam kuat-kuat agar tidak mengeluarkan suara.


Klutak, tiba-tiba handphone jatuh. Sekuat tenaga ingin berteriak memergokki mereka agar bisa bangun, namun tenaga tidak cukup kuat untuk membongkar semuanya.



"Kau begitu tega, Arjuna. Apa salahku? Apakah kata-kata manis yang kau ucapkan semalam hanyalah kebohongan belaka? Aaaa, kenapa aku terlalu terbuai akan dirimu? Kenapa aku mulai menyukaimu? Apakah rasa ini salah untukmu? Kenapa ... kenapa, kau justru menghianatiku?" Hati terus terisak pilu.


Kaki terus saja berlari sekencang-kencangnya. Menghindari apa yang barusan kulihat didepan mataku sendiri. Semua orang yang kulewati sudah merasa heran, sebab tak kunjung jua bulir-bulir ini berhenti, malah kian menjadi-jadi bak air bah yang tidak bisa dihentikan begitu saja.


"Dek, kamu kenapa?" Saat ada Bapak-bapak bertanya atas kondisiku.


Dalam lift ada sekitar lima orang. Semua menatap keheranan. Mungkin mereka iba saat aku terus saja mengeluarkan air mata. Mereka mencoba menenangkan, namun tak semudah membalik tangan bisa langsung meredakannya.


"Aku baik-baik saja, Pak, Bu. Maaf, saya permisi dulu," pamit duluan, ketika lift terbuka.

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa masuk kamar. Kunci sampai terjatuh, padahal sudah benar memasangnya, mungkin inilah akibat kemarahan bercampur dengan syok. Tangan terus gemetaran tidak bisa mengendalikan diri sendiri. Terduduk lemas. Airmata terus luruh. Dengan nada lirih mencoba berteriak. Kunci kubanting kasar dipintu. Kekesalan semakin memuncak, dan berhasil mengrogoti hati yang mulai rapuh.



Bangkit berdiri. Mengerahkan semua tenaga agar kuat berjalan. Lagi-lagi tangan mencoba mmebuka pintu. Klek ... klek, dua kali putaran berhasil. Bagaikan tidak makan satu tahun, tenaga terasa terkuras. Tidak ada tulang lagi untuk menguatkan langkah kaki.


"Aku harus kuat. Ayo Liona, kamu harus pergi dari sini. Buat apa kamu bertahan, kalau Arjuna sudah tega menyakiti kamu. Biarkan pria itu bahagia dengan pilihannya sekarang. Dari awal pernikahan kalian hanyalah drama, jadi mungkin inilah waktunya semua berakhir."


Tangan mengambil koper. Resletingnya segera kugeser. Semua baju kuambil. Sangking gugup atas amarah, ada beberapa helai yang jatuh dilantai. Kubiarkan saja baju yang berserakan. Niat utama harus segera masuk semua dan secepatnya undur diri dari sini.


Tidak ada kata pamit. Semua terasa sakit, buat apa memimta izin padanya dulu, kala dia sudah tega satu selimut dengan wanita lain.


Kunci kamar kuserahkan pada pihak receptionist hotel. Sempat ada pertanyaan ketika belum waktunya habis pemesanan, namun mulut hanya kelu tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Didepan hotel sudah menunggu taxi yang lewat. Tujuan utma adalah pulang. Entah nanti kesasar atau tidak yang terpenting jangan sampai muncul dihadapan Arjuna lagi. Untung saja tidak menunggu waktu lama. Ada taxi lewat dan aku segera menghentikannya.

__ADS_1



Tidak peduli lagi, ketika pak sopir menatap terus kebelakang. Melihat diri ini tanpa henti menangis tersedu-sedu. Begitu kacau diriku sekarang. Tangan tak luput untuk memukul-mukul dada. Sedikit merundukkan badan. Sesak nafas kian terasa. Angin tidak sempurna masuk dipernafasan. Tangisan kegoncangan cukup membuat tercekat dada. Sekuat apapun aku menahan rasa sakit itu, pasti akan jatuh jua dengan kelemahan airmata.


"Aaah, Juna. Sakiiiitttt! Kenapa kau tega padaku? Apakah salahku? Apa ini taktikmu agar kita tidak bisa bersama. Kau kejam ... kejam sekali."


Pak sopir berkali-kali bertanya kemanakah aku akan turun. Namun suaranya hanya terasa angin lalu. Tidak kurespon. Yang ada hanya menangis dan terus menangis. Mencoba menata hati sesak yang mulai sulit dikendalikan. Beliau jadi kebingungan sendiri.


"Kali ini kau sudah menbuatku sangat iecewa. Maafkan aku jika suatu saat nanti kita harus mengakhiri ini semua. Kamu yang berbuat duluan, jadi jangan salahkan jika aku bisa kasar juga membalas semuanya. Tunggu saja, pasti waktu itu akan datang. Bahagialah sekarang dengan wanitamu, sebab istri yang kau dzolimi ini tidak akan rela sampai kapanpun, maka tunggulah tindakan apa yang akan kulakukan padamu," Hati terus saja berguman geram.


Andai saja aku mempunyai kekuatan lebih, pasti akan aku hujamkan pisau ke tubuh mereka saat itu juga. Seenaknya saja berselingkuh. Padahal kurang apa aku mencintai dan patuh padanya sebagai istri. Memang kadang ada bantahan, namun masih saja melayaninya dengan baik.


Mungkinkah ini memang permainan Arjuna saja agar bisa mendapatkan tanah kami. Sesak, bila itu benar. Kenapa dia begitu tega mempermaikan hatiku.


"Apakah ada rasa balas dendam dihatimu, Juna? Setelah kau mengikatku dengan cinta dan jatuh kedalamnya, kau akan membalas dengan mencampakkanku begitu saja. Kalau itu benar adanya, aku juga tidak akan tinggal diam. Kamu tega, akupun juga bisa tega. Tunggu saatnya!" Walau airmata masih saja luruh, rasa geram dihati membuatku kobaran kemarahan mulai menyala.

__ADS_1


__ADS_2