
Kaki mulai terasa pegal, saat kerja dari tadi terus saja bolak balik ke ruangan bos baru yang sangat sialan. Kalau tidak demi kesetiaan, pasti sudah dari awal dia hadir telah mengundurkan diri.
"Duh, capeknya. Pegal banget nih!"
Berhenti sejenak untuk duduk dibangku yang tersedia. Tangan terus memijit-mijit kaki. Rasanya tulang mau rontok dari persendian.
"Awas saja kamu, Kenzo. Suatu saat nanti akan kubuat kamu merasakan ini."
Hati terus saja merancau sedih. "Hiks. Bos, cepatlah kembali. Anak buah kesayanganmu ini sudah dipaksa kerja rodi. Aku sudah tidak tahan. Kapan kau kembali?"
Drzzzt, gawai bergetar. Melihat, dan tertera nama Bos kutu kampret.
"Dih, mau ngapain lagi sih nih orang?"
Melihat namanya saja bagaikan ingin sekali kutodongkan pistol saja biar dia cepat mati. Sudah mentok kesabaran ini menuruti semua keinginannya.
[Hallo, Bos. Ada apa, ya?]
Berbicara pelan. Seramah mungkin mengangkat teleponnya. Biar tidak curiga kalau aku sebenarnya sangat membencu, maka nada bicara harus selembut-lembutnya.
[Ada apa ... ada apa. Cepat bawa file yang harus kutanda tangani. Lelet amat sih jadi orang]
Suara yang mengelengar bagai petir, sehingga membuat gawai sedikit kujauhkan dari telinga. Teriakkanya begitu memuakkan.
[Eeh, maaf bos. Tadi ada urusan sebentar, jadi agak sedikit terlambat membawanya kepadamu]
[Tidak usah banyak berbusa mulut kamu itu. Cepetan bawa ke sini, sebab aku mau keluar karena ada urusan]
[Ba-bbaik, bos]
Gawai kumasukkan kantong. Melangkah seribu, supaya bisa cepat sampai ke ruangan harimau yang sedang mengamuk.
Tuk ... tuk, masih ada rasa sopan untuk meminta izin.
__ADS_1
"Masuk saja."
"Maaf, Bos. Jika menganggu."
"Tidak menganggu, cuma bikin kecewa saja. Lelet amat kerjaan kamu."
"Maaf, Bos. Sebab tadi banyak hal yang harus kukerjakan."
"Maaf ... maaf. Enak saja kamu bilang itu. Apa ini yang diajarkan adek tiriku yang sialan itu? Kerjaan dia saja banyak yang tidak becus, pasti bawahan juga selalu mengerjakan semua dengan tidak becus juga. Sama persis kalian ini," Hinanya.
Map yang ada ditangan kuremas kuat. Ingin rasanya membantah ucapannya barusan, namun kutahan agar tidak menimbulkan masalah, sebab bos Arjuna berpesan agar tidak berbuat ulah dulu, agar bisa menjaga baik perusahaan selama dia tinggal.
"Kenapa diam. Berarti benar 'kan yang kukatakan barusan. Dasat lelet kayak kura-kura," Imbuh dengan pedas menghina.
"Icch, kalau kau bukan bos saja, pasti mulut kamu itu kuulek dengan cabe biar jontor tidak bisa bicara lagi. Awas saja, suatu saat nanti perkataanmu akan terbalik. Akan kubuat kau menyesal," Hati begitu ngedumel tidak terima.
"Kenapa tatapan kamu tajam gitu? Kamu tidak suka 'kah?"
Mencari alasan yang tepat biar tidak kena marah. "Eh, enggak Bos. Cuma lagi mengamati wajah kamu yang sepertinya sedang ada semut tuh."
"Masak sih? Mana?" Tangannya mulai meraba."
"Itu tuh, dekat hidung!" Kebohongan.
"Mana ... mana?"
"Aduh, kayaknya jatuh kena senggol tanganmu barusan."
"Sudah. Tidak usah banyak bicara. Berikan filenya kesini. Aku mau tanda tangani sebab tidak ada waktu mau pergi."
Pinta paksa dengan merebut. Sikapnya benar-benar bagaikan orang yang tidak tahu sopan santun.
"Ini, Bos. Maaf jika lama."
__ADS_1
Dengan cekatan pena yang terpegang tangan, mulai membuat mahakarya sebuah tanda tangan.
"Lain kali, aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi, aham?"
"Ii-iyya, Bos."
"Sebab hari ini teledor, maka gaji akan kupotong dua puluh persen."
"Apa? Wah, janganlah Bos. Aku hanya melakukan kesalahan kecil, kenapa harus gaji yang jadi korban."
"Aku tidak peduli, sebab ini akan jadi pelajaran agar kamu tidak mengulangi kesalahan lagi. Tapi jika melakukan lagi maka potongan akan lebih besar dari ini, paham!"
Tidak bisa diajak nego. Sadis dan tega adalah sikap Kenzo yang mulai keluar.
"Iya, Bos. Paham!" Tertunduk lesu.
"Bagus. Pertahankan. Untung saja masih gaji yang aku potong, sebab kalau kamu tidak patuh maka akan segera kupecat."
Tatapan itu melihat ke arahku berdiri, seperti tidak suka. Semoga dia tidak curiga, jika aku mengemban tugas untuk menjaga dan memata-matai perusahaan.
"Hhh, iya Bos. Aku paham sekali dan tidak akan mengulanginya lagi."
"Good. Itu yang kumau. Semoga kamu tetap setia dan bisa diandalkan, sebab Arjuna bukan kagi atasan kamu."
"Iya, Bos."
Wajah jadi pucat dan tertunduk lesu. Tidak bisa dibayangkan jika perkataannya nyata. Manusia yang sangat tidak berperasaan, dulu tidak seperti ini dan itu baru saja aku rasakan serta temui dalam diri Kenzo.
"Baiklah. Aku akan pergi, jaga perusahaan dengan baik."
"Iya."
Tubuhnya sudah hilang bersama angin. Kalau aku punya kekuatan lebih untuk melawan, pasti dia akan segera kutumbangkan. Tangan begitu gatal ingin menjintak, biar otaknya bisa encer dan sikap bisa berubah sopan.
Berkali-kali terus saja ngedumel. Bukan saja otak yang terkuras, namun tenaga telah dibuat habis akibat keseringan mengurus perusahaan sendirian. Kerjaan Kenzo hanya menyuruh saja dan bermain gawai, tanpa mau melakukan apapun demi kebaikan perusahaan. Beda sekali dengan bos Arjuna mau bertindak sendiri untuk mengurusnya yang contohnya kerja sama, jadi aku ada waktu untuk mengerjakan urusan bagian kerjaanku sendiri.
__ADS_1