Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Khawatir Dia Hilang


__ADS_3

Lapar makin membuat perut tidak tahan berkeroncongan. Beberapa hari ini harus bermalasan dikasur. Ulah Arjuna kemarin membuatku tidak ingin senang-senang melihat dunia luar. Padahal ini adalah liburan kami, bukannya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan tapi malah guling-guling terus dipembaringan. Rasanya ada sesuatu yang menganjal tidak suka atas tindakan yang melanggar atura dan perjanjian kami, bikin kecewa saja.


"Kemana sih, Arjuna? Kenapa handphonenya tersambung namun tidak diangkat? Apa tidak tahu kalau dari tadi aku sangat kelaparan?"


Berkali-kali nomor yang berjumlah dua belas digit miliknya terus kuhubungi. Aneh sekali, tadi berpamitan mau keluar sebentar tapi kenapa tidak ada jawaban darinya.



"Heran dech. Kemana sih dia? Masak membeli sesuatu saja sampai tiga jam begini tidak kembali. Jangan bilang dia beli beli makanan, namun tidak bisa berbagi dan dimakan sendirian olehnya," Pikiran sudah kemana-mana.


"Apa jangan-jangan dia sudah dikamarnya tapi lupa mampir kesini. Awas saja kalau dia ada dikamarnya, bakalan tak jadikan berkedel kamu."


Jadinya emosi. Sudah tahu kelaparan menunggu dia, tapi seenaknya saja dia bermalasan dikamar sendiri. Dengan tergesa-gesa berusaha menghampiri kamar yang bersebelahan denganku.


Pintu langsung kubuka. Tidak dikunci. Cukup aneh, sebab kalau ada didalam, pasti pintu tidak dibiarkan begitu saja, sebab banyak barang berharga takut jika ada sembarangan orang tiba-tiba masuk.


"Juna, apa kau-?" ucapan seketika terhenti, saat melihat kesekeliling mencari sosoknya tapi tidak ada.


"Heran. Kemana dia?"


Gawai berusaha menghubungi nomornya lagi. Seketika dikejutkan saat ada deringan nada diatas nakas. Menghampiri untuk mengambilnya. Tertera nomorku sendiri digawainya yang berwarna hitam pekat.



"Kok bisa handphonenya ditinggal? Kemana dia?" Rasanya sedih juga jika Arjuna tiba-tiba hilang.

__ADS_1


"Ceroboh sekali sih gawainya tidak dibawa," Keluhku lagi.


Badan langsung kubanting dipembaringannya. Wajah mencoba menerawang ke langit-lwngit. Mengapa aku berubah jadi khawatir berlebihan begini, apakah cinta juga mulai menghampiriku? Walau Arjuna orangnya nampak cuek, dibalik itu ada pribadi yang baik dan penyayang.


Entah sudah berapa jam menunggu, masih saja Arjuna tidak kembali. Langkah mondar mandir sambil jari-jari kugigit. Tidak biasa-biasanya dia akan lama begini.


Waktu terus merangkak dipertengahan malam. Kekhawatiran membuat pikiran jadi aneh-aneh. Andai saja handphone bisa dibawa dia, pasti akan tahu keberadaannya sekarang.


"Ya ampun, kemana Arjuna? Kenapa dia belum kembali juga? Apakah sedang terjadi sesuatu padanya? Tapi kemana dia sekarang? Kenapa tidak ada kabar sama sekali. Mana tadi tidak berpamitan mau pergi kemana," Dalam benak terus saja bertanya.


"Duh, Juna. Kemana kamu? Kenapa tidak ada. Ya Allah, lindungi dia jika terjadi sesuatu. Semoga dia akan baik-baik saja amin," Kegelisahan makin menjadi-jadi.


Tidak ada orang yang kukenal dihotel ini, makanya akan susah bertanya dimanakah keberadaannya.


"Aku harus mencarinya kemana? Oh Juna, kembalilah sekarang. Apa kamu tidak tahu kalau aku khawatir banget ini," Isak tangisan kian menjadi-jadi.


Klunting. Tiba-tiba gawai menerima sebuah pesan.


"Dari siapa, ya? Kok nomor baru?" Sedang merasa heran.


Mencoba membukanya dan membaca isi pesannya.


[Kamu datanglah ke kamar nomor 302, maka akan menemukan suami kamu]


Wajah mengeryit. Heran atas pesan yang kuterima. Cukup aneh sekali ada nomor tidak dikenal langsung memberitahukan keberadaan Arjuna.

__ADS_1


"Darimana dia tahu nomorku?" Hati bertanya.


"Apakah pesan ini benar? Apa ini hanya jebakan saja. Duh, Juna. Aku harus bagaimana ini?"


"Aah, semoga apa yang dia katakan benar kalau Arjuna ada disana?" Kemantapan.


Waktu tidak kusia-siakan. Secepatnya bergegas ketempat sesuai pesan itu. Lift berselang dua angka dari kamar kami menuju tujuan. Tidak ada rasa ketenangan yang terjadi padaku. Kegusaran terus bersemayam. Takut kalau ini adalah jebakan maka aku yang kena, tapi jika tidak kesana pasti menyesal tidak bisa tahu keberadaan dan keadaannya sekarang.


Satu persatu kamar yang kulewati telah kubaca angkanya. Masih tidak menemukan. Hati terus berdebar hebat dan ketakutan. Mungkinkah ini adalah kebaikan atau justru malapetaka. Semua hanya kupasrahkan kepada sang Ilahi, jika memang akulah yang jadi korban marabahaya nantinya.


"Akhirnya kutemukam juga!" Sudah senang, sebab berkeliling mencari nomornya selalu tidak sama atas pesan.


Semakin keheranan. Pintu sedikit terbuka. Seperti sengaja tidak dikunci.


"Masuk ... tidak ... masuk ... tidak!" Keraguan.


"Kenapa perasaan dari tadi tidak nyaman sekali, ya. Ada apa ini? Semoga hanya firsatku saja. Bismillah," Mencoba menenangkan diri sendiri.


Tuk ... tuk. Dengan pelan pintunya kuketuk. Tidak ingin gegabah masuk kamar orang, takut jika kena omelan sebab lancang. Sudah beberapa bunyinya, namun tidak ada sautan sama sekali dari orang dari dalam. Jika ada penghuninya pasti akan menyimbat.


"Astagfirullah, kenapa aneh begini. Kok aku jadi merinding, ya? Apa jangan-jangan itu pesan dari dunia lain? Aaah, tidak mungkin. Jangan terlalu berkhayal aneh, Liona. Huff, Semoga ini hanya pemikiranku saja yang sedang cemas dan ketakutan."


Dengan hati-hati pintu kubuka sedikit melebar. Lamat-lamat bergeser pintu. Wajah masih kebingungan saat menyapu beberapa bagian dari kamar. Ada satu pusat berhatianku yang membuat mata terbelalak tidak percaya.


Braakkk, tiba-tiba gawai terlepas dari pegangan tangan. Mulut kututup rapat -rapat agar tidak mengeluarkan suara. Airmata tidak bisa terbendung lagi agar tidak luruh begitu deras.

__ADS_1


Sebuah batu terasa menimpa badan. Sungguh berat sampai aku tidak bisa menyangganya. Apa yang kulihat sekarang sungguh diluar dugaan. Hati yang sesak kutahan. Ingin menjerit sekuatnya namun tercekat. Kepala terus mengeleng-geleng mencoba menyadarkan diri sendiri bahwa yang kulihat sekarang hanyalah mimpi belaka, bukan kenyataan yang bikin sakit hati saja.


__ADS_2