
Api dendam mulai berkobar. Tidak terima ats penurunan jabatan ini. Kalau bukan ada pembelaan ayah kandung, pasti akan kupastikan hidup si Kenzo tidak tenang.
"Silahkan kau tertawa puas sekarang, Kenzo. Akan kubiarkan kamu untuk sementara ini duduk dikursi jabatan. Bukan aku mengalah, tapi merasa menang sebab kau pasti menginginkannya. Kemiskinanmu membuatku hanya tertawa kecil, saat keserakahan telah membuatmu mencapai pucak, tapi akan kujamin jika itu tidak akan lama, sebab aku akan secepatnya merebut yang menjadi hak milikku itu."
"Untuk kau, Pa. Kenapa tega melakukan ini. Pasti suatu saat kau akan menyesal sebab telah menelantarkan mama, ditambah kau menghancurkan usaha keluarga yang selama ini kupegang. Apakah kau masih bisa disebut orang tua, ketika anak dan istrimu kau sakiti? Cinta butamu sangat memuakkan. Akan kubuktikan bahwa aku bisa melebihi mencapai pucak dibandingkan anak tiri yang kau bela sekarang. Ingat itu, aku akan mencapai kesuksesan tanpa kau harus dibelakangku.
Kecewa pasti, namun lebih besar amarah yang datang. Tidak menyangka jika masalah akan bermunculan. Dari istri, sekarang kekuasaan. Kelihatan khawatir sekali atas apa yang menimpaku sekarang
"Hei, Bos."
Cakra sudah berlarian menghampiriku, yang tengah duduk melamun.
"Hmm."
"Jangan sedih begitu, Bos. Pasti ada jalan dari semua. Yakinlah, semua masalah ini akan balik semula baik-baik saja."
Hanya Cakra yang mengerti akan hati yang begitu sedih. Untung saja kesetiaannya tidak diragukan lagi. Siapapun yang bekerjasama dengannya akan senang sebab selain pintar, Cakra kalau disuruh ini itu langsung tanggap mengerjakan.
"Iya. Terima kasih atas dukungannya."
"Masalah perusahaan kita akan cari cara agar kembali ke tanganmu secepatnya."
"Masalah itu kamu urus saja, sebab sekarang masalah Liona yang lebih penting. Jangan sampai aku benar-benar kehilangannya. Dia wanita berharga dalam hidupku."
__ADS_1
Lemah rasanya jika mengenang masalah rumah tangga.
"Kalau memang berharga bagi hidup kamu, ngapain melakukan itu sama Sonia? 'Kan aku yang tidak mengalami saja, merasakan juga yang terjadi pada Liona yaitu sakit hati."
"Ciiieh, emang kamu mau bela siapa sih?"
"Ya, Bos 'lah, tapi kalau salah pasti aku akan membela yang benar dan membantu yang lemah."
"Sudah tahupun kenapa masih seperti menyalahkan diriku. Memang aku cowok gampangan yang mau tidur sama wanita lain."
"Kan siapa tahu Bos mau. Punya segalanya gitu."
Cletak, kening Cakra kujitak. Langsung diusap dengan tangannya, mungkin efek terlalu kuat jadi merasa sakit.
"Uluh ... uluh, marah akut nih ceritanya? 'Kan Bos tadi tanya, ya kujawab yang sesungguhnya. Jangan marah dan usir aku ya ... ya. Hehehehe!"
Wajahnya yang cengar-cengir dengan mimik muka merayu.
"Ogah, jika kamu tidak setia."
"Bukan begitu, Bos. Aku masih setia kok. Jangan diragukan lagi masalah itu, cuma aku agak ragu harus membela yang mana, sebab berita masih simpang siur. Percaya banget kok kalau Bos ini orangnya tidak neko-neko."
"Nah, tahupun! Makanya kalau bicara dijaga. Jangan sembarangan saja. Bikin tambah emosi saja kamu ini."
__ADS_1
"Maaflah, Bos. Jangan ngambek lagi, ya! 'Kan kamu Bos paling baik hati," ucapnya merayu lagi. Takut jika dipecat.
Menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Masalah sangat rumit, mau mencari jalan keluar dari arah mana memulainya, kelihatan sangat sulit dan tidak ada jalan lagi. Dalam hati tetap yakin jika semua masalah bisa diselesaikan dengan baik, jika kita sudah ada titik terang dari jalan itu.
"Sekarang apa rencana kamu?"
"Menurutku sekarang ini kita bagi tugas saja. Aku akan urus masalah Liona dulu, sedangkan kamu urus perusahaan dan awasi terus ulah Kenzo. Takutnya dia tidak baik menguasai bidang perusahaan, malah akan bikin bangkrut nanti. Kamu adalah orang yang tepat bisa-bisa memata-matai dan menjaga keseimbangan perusahaan."
"Ide bagus itu, Bos."
"Baiklah. Kita segera laksanakan tugas ini. Lebih cepat lebih baik. Jangan lupa kerahkan anak buah secara diam-diam, untuk menyelidiki sampai tuntas kejadian dihotel kemarin.
"Siap laksanakan."
"Bagus. Tetaplah bekerja sama dengan baik. Terima kasih sebab kau masih ada disampingku, saat tepuruk dan jatuh begini."
"Duh, aku jadi terharu."
"Dih, lebay kumat."
"Hehehe. Sekali-kali terharu dipuji Bos sendiri. Aku yang berterima kasih, sebab Bos selalu membantuku ketika kesusahan kuliah maupun sekarang, yang padahal aku bukan siapa-siapa ketika dulu. Tahu sendirilah dari kalangan keluarga bawah, jadi seharusnya aku yang mengucapkan itu."
"Hmm, tenang saja. Jika kamu kesusahan pasti aku akan menolong kamu terus, tapi dengan syarat tetap setia dan selalu dibelakangku untuk memberi dukungan."
"Pasti itu, Bos. Jangan khawtir."
__ADS_1
"Baguslah."
Kami terus ngobrol. Banyak siasat yang kita bicarakan, agar tidak gagal menjalankan misi yang sudah tersusun rapi. Semoga kami berdua berhasil memecahkan masalah ini. Tapi yang tersulit bagiku adalah menyembuhkan luka liona. Sebelum ada bukti kuat pasti Liona tidak akan bisa memafkanku.