
Malam pertama? Mendengar kata itu, aku merasa biasa saja, karena bisa kutebak Arjuna tidak akan pernah menyentuhku. Jantungpun tidak berdegub kencang karena merasa takut ataupun grogi.
Sepertinya tidak akan ada cerita malam pertama bagi kami, seperti di kisah-kisah pengantin lain. Melihat sikap Arjuna yang seperti itu, kemungkinan aku tidak boleh tidur berada didekatnya.
Ketika di airport kemarin mama melepas kami dengan begitu bahagianya. Tampak raut wajah bahagia dari beliau, karena menganggap kami akan melakukan malam syadu berdua setelah ini.
Kepala mulai sedikit pusing, mungkin banyaknya air yang masuk dari rongga hidung. Rambut terpaksa kusisir dengan tangan, sebab tidak ada dan kini terletak bersama kotak riasan didekat tempat tidur. Hawa dingin terus menusuk tulang. Rasanya tidak sabar ingin bergulung dalam selimut, agar bisa memanaskan tubuh akibat basah kuyup kena air kolam renang.
Ceklek, pintu kamar mandi kubuka.
"Astagfirullah, mengagetkan saja kamu ini," keluhku saat tahu Arjuna berdiri santai, dengan tangan satu menempel didinding untuk menyangga tubuhnya.
"Aaah, masak. Gini saja sampai kaget. Emang aku hantu bikin kamu takut begitu," tebaknya.
"Enggak ada 'lah. Siapa juga takut sama kamu."
"Iya 'kah?" Tangan lebarnya tiba-tiba mengelus pelan bagian pipi.
Senyuman mengerikan namun ramah membuat bulu kuduk meremang.
Seketika aku merasa ngeri sendiri, saat merasa ada gelagat aneh dari Arjuna sekarang. Jangan-jangan Arjuna telah dipaksa mamanya untuk menyentuhku, biar bisa memenuhi keinginan beliau segera memberikan cucu. Bisa gawat ini. Aku belum siap untuk itu.
Jantung yang sedari tadi aman-aman saja seketika berdegub kencang, ketika melirik samar-samar ke arah Arjuna yang terus mengawasi langkahku. Tiap hentakan kaki, dia sepertinya terus menatap penuh arti yang terselubung.
"Kenapa sih dia masih dikamar ini? Kenapa malah santai dikamarku, bukankah ada kamar sendiri? Jangan sampai 'lah, pikiran-pikiran ini membuat Juna nekad ingin mendekat kesini?" Kekhawatiran hati.
__ADS_1
"Mana dia menatap aneh gitu ke arahku. Semoga saja dia tidak macam-macam malam ini."
Membayangkan apa yang akan dilakukan Arjuna nanti bikin ngeri, saat kami terjebak hanya berdua saja dalam kamar.
Akibat tidak kuat lagi oleh hawa dingin. Tubuh segera kumasukkan dalam selimut. Sekarang tubuh telah sempurna tertutupkan kain tebal nan menghangatkan.
"Gimana keadaan kamu?"
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah."
Terasa tempat tidur bergerak tanda dia telah duduk mendekatiku.
"Hmm."
"Masih sore juga, masak mau tidur."
"Aku lelah."
"Ya sudahlah, tidur sana."
"Hmm."
Selimut dibenahinya dengan sebatas dada. Merasa lega ketika pikiran yang tadi aneh-aneh dan telah su'udzon padanya ternyata tidak terjadi.
"Selamat malam."
__ADS_1
"Hmm, malam juga. Jangan lupa kunci pintunya," suruhku.
Lelah yang mendera membuat mata sayu-sayu terpejam, sampai tidak sadar kalau ternyata Arjuna telah berani menaiki ranjang. Dengan santai dia sudah duduk disampingku, yang tengah sibuk sedang bermain gawai.
"Siapa yang mau mengkuncinya?"
"Apa maksudnya? Kenapa kamu masih disini? Mana duduk disini juga," Ngegas tidak suka.
"Lah, memang salahkah aku mau tidur disini? Kamu itu kan istri sahku," jawab santai sudah memandang ke arahku, dan kini dia mengesampingkan gawai yang sempat terpegang tangan.
"Ya jelas salah 'lah."
"Mana ... mana letak salahnya? Bukankah tujuan kita kesini mau bulan madu?" Tidak mau menyerah untuk menjawab.
"Iya, aku tahu. Tapi bukankah dari awal ada kesepakatan diantara kita, kalau kamu tidak boleh berbuat macam-macam apalagi sampai menyetuhku." Hati dibuat kesal.
"Kege'eran banget jadi orang. Siapa juga yang mau menyentuh kamu. Pikiran kotor dan sudah tidak waras ini, cletakk!" Jari sudah menyentil kening.
"Awww, sakit."
"Biar kapok. Biar pikiran kamu sedikit terbuka. Aku tuh mau tidur disini sebab khawatir dan takut sama kondisi kamu yang kenapa-kenapa lagi nanti."
"Ya elah, aku sudah dewasa tahu. Tidak harus juga dijagain sampai kamu ikutan mau berbaring disini."
"Apa hak kamu? Suka-suka aku mau tidur dimana, toh ini semua mama yang membiyai. Lagian kamu istri sah, jadi harus nurut sama suami, termasuk aku mau tidur dimana."
Makin lama bikin telinga panas. Rasanya percuma jika berdebat dengan dia. Kuasa atas diriku memang besar, jadi kalau mambantah dan mengusirpun akan sulit.
__ADS_1