Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Kedatangan teman lama


__ADS_3

Rasanya sungguh lelah sekali, saat beberapa pekerjaan kini menjadi tanggung jawabku semua. Bos yang sibuk dengan urusannya, kini telah membiarkan aku mengantikan semua urusan diperusahaannya sendirian untuk kukerjakan.


"Heeh, apes dah! Kenapa kerjaan yang numpuk ini tak habis-habis? Bos memang kejam sekali, membiarkan diriku yang malang ini mengerjakan semuanya. Tak apalah, yang penting akan dinaikkan dua kali lipat gaji nanti," keluhku tak senang.


Ceklek, tiba-tiba pintu dibuka kasar.


"Sonia, kamu?" Kekagetanku saat dia datang.


"Ada apa dengan ekspresi wajah kamu itu? Kayak lihat aku ini hantu saja," cakapnya yang tak senang.


"Bukan, gitu. Cuma aku kaget lihat kamu yang tiba-tiba saja datang ke sini," jawabku menjelaskan.


Sonia adalah teman kami waktu kuliah dulu. Dia adalah wanita baik, manis, lugu, dan baik hati. Banyak pria yang jatuh hati pada parasnya yang cantik, tapi entah mengapa hanya pada bos saja dia menginginkan cinta.



"Ooh. Mana Arjuna, kok tak nampak dia ada diruangan ini?" tanyanya sudah clingak-clinguk mencari.


"Bos, sedang sibuk!" jawabku.


"Sibuk apaan? Kok beberapa hari ini aku tidak nampak dia ada diperusahaan maupun dirumah," cakapnya yang membuatku bingung mau jawab apa.


"Biasalah masalah bisnis," jawabku santai.


"Bisnis apaan? Kenapa kamu tidak ikut? Biasanya kalau Arjuna ada kerjaan, kamu selalu saja ngekor dibelakangnya, jadi katakan dia dimana sekarang?" paksanya yang ingin tahu.


"Waduh, aku harus jawab apa ini? Jangan sampai Sonia tahu, kalau Bos sedang menjalankan misi. Bisa mati aku, jika semuanya terbongkar," guman hati yang makin bingung.


"Hehehe, ada pokoknya. Tidak jauh, kok! Sedang ada ditempat daerah terpencil," jawabku cegegesan.


"Iya, aku tahu dia sibuk bekerja. Tapi dimana itu, daerah terpencilnya? Aku mau menyusulnya, sebab rindu sama dia, saat sudah beberapa hari yang lalu tak bisa menemui, karena kesibukkanku juga dalam bekerja," tutur Sonia menerangkan.


"Pesan Bos sih, tak boleh ada yang tahu dimana dia sekarang, jadi kamu tak perlu tanya lagi, nanti bisa gawat jika dia marah besar, sebab ada orang lain yang mengetahui keberadaannya sekarang. Oh ya, kenapa sih kamu masih saja mengejar-ngejar bos, yang padahal dia itu tak suka padamu?" tanyaku penasaran.

__ADS_1



"Aku suka kemistrinya, tampan, cool, sifat angkuh, selalu marah-marah, tegas, apalagi bau-bau aroma keharuman tubuhnya, pasti selalu saja membuatku candu untuk terus lama-lama dekat dengannya," ucap Sonia yang membuatku geleng-geleng kepala.


"Memang bos itu yang terbaik, tapi apakah kamu tak lelah untuk mengejarnya terus? Apalagi pasti rasanya sakit sekali, saat berkali-kali mengungkapkan rasa tapi selalu ditolaknya. Contohnya waktu dikuliah dulu, pasti kalau itu terjadi padaku sungguh sangat memalukan sekali, hingga tak mau kuliah lagi" tanyaku heran atas sikap Sonia yang tak mau menyerah.


"Namanya juga cinta, pasti semua akan dilakukan tanpa peduli lagi atas rasa malu. Aku tak akan menyerah begitu saja, sampai Arjuna benar-benar jatuh dalam pelukanku," cakap Sonia yang sudah senyum-senyum sendiri, nampak sedang membayangkan sesuatu.


"Mimpi kali, ye! Kamu tahu sendiri bos itu orangnya susah sekali ditaklukkan, jadi lebih baik kamu menyerah saja," suruhku.


"Enggak ... enggak bisa. Sampai kapanpun aku akan tetap ngejar Arjuna, sebab aku yakin suatu saat nanti dia akan menerima perasaanku ini. Oleh karena itu, aku tak mau menyerah begitu saja sekarang, paham!" imbuh cakap Sonia kekuh ingin mendapatkan cinta bos Arjuna.


"Heeh, ya sudah kalau tidak mau aku nasehati. Aku sebagai teman hanya prihatin saja sama kamu, sebab sudah lama berjuang namun tak mendapatkan hasilnya," Kepasrahanku menjawab.


"Iya, Cakra. Walaupun aku tak mendengarkan perkataanmu, namun aku tetap banyak-banyak terima kasih, sebab kamu adalah teman terbaik didekatku, yang selalu saja ada untuk membantuku dalam kesusaahan, maaf ya!" Cakapnya tak enak hati, dan kini mengenggam erat tanganku yang sebelah kiri.


"Iya, Sonia. Aku sebagai sehabat hanya bisa berdoa, dan menolong sebisa mungkin saja, untuk kamu mendapatkan yang terbaik," jawabku memberikan senyuman termanis, sambil menepuk tangannya yang memegang tanganku.


"Pokoknya tetap terima kasih, sebab kamu memang yang terbaik," jawabnya yang juga membalas senyum.


Tapi aku begitu benci banget, saat Sonia selalu keras kepala ketika permintaannya harus dituruti, yang padahal belum tentu pintanya itu bisa didapatkan segera, yang contohnya dalam mengejar bos. Tapi sikapnya yang tak mau menyerah itulah yang kusuka, akibat dia terus saja gigih tanpa kenal kata lelah.


Percakapan kami terus terjadi, hingga tanpa sadar melupakan sejenak pekerjaan yang membuatku cukup lelah tadi. Tawanya yang menawan selalu membuatku damai, hingga diriku selalu ingin terus-menerus berdekatan dengannya. Sebab tak ada hasil mengorek-ngorek informasi mengenai bos, maka Sonia kini pulang dengan kekecewaan.


Dert ... dert, gawai telah berbunyi, menandakan ada sebuah panggilan.


Klik, sudah kugeser tombol angkat, saat tahu nama bos sedang melakukan video call.


[Wudiiiih, baru satu hari ditempat orang, makin tampan saja kamu, bos!]


Ejekku menyinggung, saat nampak wajah bos Arjuna kini berbeda.


[Tampan kepalamu peyang. Apa tidak lihat hidungku merah kayak badut, ditambah bentol-bentol parah kayak gini]

__ADS_1


[Hahahaha, sungguh malang sekali nasibmu, bos. Apa sudah apes 'kah kena serangan?]


[Serangan apaan? Mereka sekarang masih nampak stabil atas kebaikannya, walau ada satu orang saja yang bikin kesel]


[Wah ... wah, siapa itu? Jadi kepo aku]


[Yang jelas musuh yang kubenci]


[Cewek atau cowok?]


[Cewek]


Nampak bos Arjuna kini terus saja mengaruk-garuk tekuk, sekujur wajah, dan beberapa bagian lainnya.


[Wuiiih, enak dong cewek. Jangan sampai bermusuhan terlalu lama, bisa-bisa nanti akan jatuh cintrong pulak]


[Apaan sih, ngelantur amat pembicaraan kamu. Aku ngak akan jatuh cinta sama dia. Ogah baget! Sifatnya yang bikin kesel dan selalu bicara ceplas-ceplos, bikin tambah benci saja sama dia. Dia memang cantik, sih! Tapi aku tak suka sama sifatnya itu. Lagian dia itu musuh, jadi jangan berpikiran aneh-aneh jauh amat]


[Bener nih, ngak bakalan suka. Biasanya rasa benci dihati, maka akan turun ke hati pulak, ha ... ha ... ha. Kalau dia memang cantik buat aku saja, mumpung jadi jomblo lapuk ini]


[Dasar playboy cap kaleng-kaleng, ada yang bilang cantik saja main mau embat saja. Jangan banyak bicara, cepetan jemput aku sekarang diperempatan waktu kamu turunkan aku kemarin. Aku sudah tak tahan ini, apa kamu ngak lihat! Tangan mengaruk-garuk terus ini]


[Siip, bos. Akan segera kujemput. Kalau boleh tahu kenapa bisa kambuh parah begitu, sih?]


[Ini akibat hidungku tepat mencium debu-debu yang terlalu kotor]


[Hadeh, sampai segitunya bos mau menyelidiki mereka. Apa ngak bisa nyuruh orang lain saja, biar kamu tidak sengsara begitu?]


[Tidak bisa, aku mau menyelidiki sendiri, apa sebabnya mereka mempertahankan tanah itu]


[Ya sudah, tak apa. Aku akan segera jemput bos sekarang, sebab takutnya elergi kamu makin parah nanti, jika tidak secepatnya dibawa kedokter]


[Heeh, cepetan kesininya, jangan lama-lama]

__ADS_1


[Sipp, ok]


Tut ... tut, panggilan akhirnya telah diakhiri dengan bos duluan yang mematikannya. Langsung saja kusambar jas, untuk segera menjemput bos Arjuna, yang nampak sedang tak tahan lagi atas penyakit alerginya.


__ADS_2