
Perut rasanya kenyang sekali. Perut beberapa kali kuelus-elus, akibat sedikit merasakan begas, sebab terlalu rakus saat semua lauk yang terhidang didepan mata tadi terembat semua.
Mobil belum berjalan lagi, untuk melesat pergi dari bangunan yang banyak menolong orang sakit. Didalam sepinya tempat parkir, tubuh berusaha kurilekskan dengan bersandar dikursi mobil, agar hati yang kecewa bisa segera mereda.
"Kenapa aku selalu gagal memiliki kamu, Arjuna? Kurang bukti apa aku mencintaimu? Sudah sekian tahun semua tenaga aku kerahkan, tapi kenapa lagi dan lagi kamu selalu menolakku?" Tanpa diduga bulir-bulir airmata jatuh.
Keadaan yang selalu saja sama, habis menemui Arjuna menitikkan airmata, saat dalam kesendirian merenungi penolakan darinya. Sakit dan perih banget rasanya hati ini, tapi entah mengapa aku tidak bisa berkata kasar ataupun marah pada pangeran pujaan hatiku itu.
Wajah yang mengibakan ini tidak pernah kutunjukkan pada siapapun. Cukup dalam heningnya kesendirian, manangisi cinta yang tidak tergapai. Berkali-kali ingin sempat menyudahi ini semua. Hati yang begitu kuat mencintai mengalahkan kata-kata untuk menyerah, sehingga setiap ada waktu dan kesempatan selalu mengejar cinta yang jelas-jelas tidak akan terwujud.
"Aku tahu tidak pantas untukku, tapi apakah kau tidak bisa sedetik saja melihat ketulusan hatiku yang sangat menyayangimu, wahai Arjuna?"
"Didalam dasarnya lautan masih besar dasar cintaku padamu, tapi kenapa sedikitpun kamu tidak bisa menyelami ketulusan hati ini. Wajahmu selalu menghantui agar aku bisa memilikimu, tapi why ... why, sedikitpun tidak bisa melirikku." Tangisan kian pecah.
"Sekian tahun aku mengenalmu, tapi kenapa harus wanita kampungan itu yang kamu pilih. Kenapa harus dia? Apakah lebih berharga dirinya, dari pada diriku yang sekian tahun berjuang? Kamu memang kejam sekali, Arjuna. Kalau tidak gara-gara aku mencintaimu, pasti sudah lama aku tidak ingin mengenalmu, tapi ya inilah yang namanya cinta setengah mati, yang sampai kapanpun kalau ada kesempatan akan mencintaimu lagi."
"Tidak peduli kalau kamu sudah menikah sekalipun. Ya, aku hanya ingin memiliki kamu, juna!" Lelehan airmata kembali kuseka dengan tangan, saat semangat ingin mendapatkan dia kembali lagi.
Setiap ada semangat, tidak peduli jika jatuh dalam kubangan sekalipun, pokoknya keinginan harus terwujud, walau badan nanti bisa-bisa jadi remuk redam sekalipun.
Sayang, jangan tinggalkan diriku
Tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dirimu.
Bisa merasakan cinta yang bergelora ini
Yang hanya untukmu seorang.
...Tatapan ini terus bagai terbakar api...
...Hingga membuat tangan kepanasan....
...Saat sepanjang malam...
__ADS_1
...Pikiran terus berpusat hanya padamu....
Ingin kuapai tapi tidak bisa
Padahal bersedia melakukan apapun.
Biarkan diriku masuk dalam hatimu
Karena sangat ... sangat mencintaimu.
...Oh, pujaan hati ......
...Terimalah diriku yang tidak pantas ini....
...Padahal dilihat tidak ada yang tersisa lagi...
...Tapi kenapa semakin terbelenggu cinta....
Rasanya ingin terus memejamkan mata
Saat bayanganmu selalu hadir.
Membuatku terus mabuk kepayang.
...Walau sangat menyakitkan...
...Mencoba terus bertahan....
...Walau sangat mustahil...
...Mencoba tetap percaya pasti bisa....
Pintu mobil telah kubuka. Rasanya ingin kembali lagi ke dalam rumah sakit.
Cakra setelah menemani makan tadi, mengantar sampai ke mobil saja, untuk memastikan kalau aku mau pulang dan tidak menganggu pujaan hati. Bukan Sonia, kalau tidak ada seribu akal untuk sekedar menatap ataupun menyentuh Arjuna.
__ADS_1
Langkah mulai tergesa-gesa mendekati ruangan pujaan hati dirawat, namun belum sempat ingin melangkahkan kecepatan lebih seketika mendadak terhenti, saat melihat Cakra sedang asyik berbicara dengan wanita yang jadi musuh.
"Awas kamu, Liona. Akan kubuktikan kalau kamu itu tidak pantas bersanding dengan Arjuna!" Geram hati.
Kepala terus menyembul, untuk memperhatikan mereka berdua, yang kelihatannya sedang bercakap-cakap serius.
Kaki mulai pegal, saat beberapa menit menunggu Cakra agar secepatnya menyingkir dari Liona. Beberapa kali kaki terus bergetak-gerak, akibat ingin bergantian posisi supaya tidak letih berlebihan ketika terus berdiri.
"Yes, akhirnya kamu pergi juga, Cakra!" Kegembiraan saat melihat Cakra kini masuk keruangan Arjuna dirawat.
Tidak ingin berbasa-basi, langkah seribu ingin telah terlakukan. Tidak mengukur berapa centi lebar-lebar langkah ini. Yang jelas harus segera menemui Liona.
"Bisa bicara sebentar denganku?" pinta yamg langsung menarik tangan Liona.
"Ehh, apa yang kamu lakukan!" Liona kelihatan ingin berontak.
"Diam kamu. Sebentar saja!" bentakku.
Melakukan ini agar bisa menjauh dari ruangan Arjuna, sebab tidak ingin Arjuna maupun Cakra mendengar pembicaraan kami nanti.
"Tapi tidak usah menarik kasar begitu!" Keluh Liona sudah membanting kasar tanganku.
"Ooh, sorry." Kedua tangan langsung kuangkat ke atas.
"Memang ada apa, sih? Kalau mau bicara, segera bicaralah. Tidak usah menarik-narik tangan segala," ketus Liona.
"Ok 'lah. Tapi apakah kamu bisa diajak bicara baik-baik, dengan cara agak sedikit jauh dari ruangan Arjuna?" tanyaku.
"Emm, bisa."
"Ok, ayo. Sebab aku tidak sabar ingin mengatakan sesuatu denganmu."
"Hmm."
__ADS_1
Sudah melangkah duluan, dan Liona hanya membuntuti dari belakang. Belokan demi belokan ruangan sudah kami lewati. Tidak ingin ketahuan, jadi mencari tempat yang aman untuk berbicara leluasa empat mata dengan Liona saja.
Mungkin tidak baik berbicara dengan Liona tanpa diketahui oleh Arjuna, tapi ini sangat penting sekali, agar Liona bisa tahu diri bahwa dia itu tidak pantas mendapatkan Arjuna.