
Lama tidak ketemu sama pujaan hati, membuatku harus menahan rindu yang kian kuat mengebu.
Setelah sekian bulan kami tidak berpapasan, terdengar kabar kalau dia sedang sakit dan sedang menjalani rawat inap. Tidak ingin membuang waktu, langsung gercep segera mendatangi tempat dia dirawat.
Tidak suka sampai datang ke sana, tapi ketemu sama si istri yang sangat kucurigai sakarang. Sikap mereka yang sudah sah menjadi suami istri tapi kelihatan biasa-biasa saja, bahkan nampak agak menjaga jarak diantara keduanya, dan itu semakin menguatkan diri untuk terus curiga, dengan segudang pemikiran kalau pernikahan mereka pasti ada apa-apanya.
"Lepaskan ... lepaskan aku, Cakra!" tangannya kubanting kuat.
"Eiiiit, mau kemana lagi!" Cakra berhasil meraih tanganku kembali.
"Hehehe, mau ke dalam 'lah."
"Tidak bisa."
"Kamu kenapa sih, suka betul menghalang-halangi aku ketemu sama Arjuna. Tega banget kamu sebagai teman!" keluh sudah memonyongkan bibir.
Tangan sudah terlepas, dan kami berdua duduk dibangku yang sudah disediakan pihak rumah sakit.
"Bukan gitu, Sonia. Kamu tahu sendiri kalau bos itu sikapnya keras. Takutnya kalau dia tidak terkontrol emosi, malah kamu yang apes dibentak-bentaknya nanti," terang Cakra.
"Iya tahu. Tapi dari dulu kamu selalu ingin diriku berjauhan dari Arjuna, 'kan?" tuduh.
"Jangan ngadi-ngadi kalau berbicara. Bukan aku yang menghalangi, tapi bos sendiri yang mau menghindari kamu. Tahu sendiri 'lah sebabnya, dikarenakan tidak cinta sama kamu."
"Hehhhh, iya juga sih. Tapi aku merasa kamu juga ikut andil."
"Main tuduh sembarangan. Yang penting sekarang kamu jauhi bos. Tahu sendirilah mereka itu sudah menikah, jadi jangan berharap banyak kamu ada celah untuk mendapatkan hati bos."
"Walau sekarang tidak bisa, entah mengapa hati yakin sekali suatu saat nanti kami akan bersatu."
"Jangan mimpi disiang bolong."
__ADS_1
"Serius, Cakra."
"Makin ngelantur saja ucapan kamu. Memang lagi kesambet apa dan dari mana, sih!" ujar Cakra yang bikin dongkol.
"Issssshhh, kejam banget kamu kalau bicara. Naluri seorang wanita yang sangat mencintai itu sangat kuat. Bahkan bisa merasakan apa yang bakalan terjadi."
"Dih, emang kamu mulai berubah profesi sebagai peramal."
"Itu cuma keyakinan dalam hati saja, Cakra. Masak orang berpendidikan kayak kamu tidak percaya."
"Iya ... ya, aku percaya cuma 1 persen."
Hati kian dibuat emosi atas sikap Cakra. Sebagai teman baik bukannya mendukung tapi malah kayak menghalangi.
Obrolan yang konyol terus kuungkapkan kepada Cakra, tapi dia menanggapi dengan menganggukkan kepala dan jawaban iya saja.
Cakra selalu siap siaga sebagai teman. Ketika suntukpun dia selalu hadir untuk menemani diriku. Pandai mengambil hati orang dan mematahkan ucapan, sehingga akupun kadang kalah sama dia.
"Aku lapar, nih!" rengekku.
"Lapar ya makan 'lah."
"Tapi ... tapi--?" cakap tidak bisa meneruskan kata-kata.
"Tapi kenapa, juga?" Cakra sudah mengerutkan kening.
"Tapi aku tidak bawa uang cash. Tadi buru-buru kesini, sebab dengar kabar Arjuna sakit langsung berangkat," jelasku.
"Kalau gitu makan tuh bos Arjuna. Siapa tahu bisa kenyang," ejeknya.
"Hidih. Kalau Arjuna menyatakan cinta padaku, dijamin setahun tidak makan akan aman, sebab hanya Arjuna yang kuinginkan," Netra sudah menatap langit-langit atap rumah sakit sambil membayangkan ucapan.
__ADS_1
"Issh ... iiisssh, makan tuh cinta sebab patah hati."
"Hiiiisss, tega amat."
"Kalau dibodohi cinta ya gini, rela tidak makan hanya ingin terpenuhi oleh cinta buta. Bos, sudah punya istri jadi jangan terlalu berharap banyak."
"Biarin. Walau Arjuna sampai tua memiliki istri, tetap akan aku tunggu dudanya."
"Hiiissst, makin gila saja kamu ini. Memang tidak ada pria lain selain bos."
"Enggak ... enggak ... enggak ada. Cuma satu nama dihatiku, yaitu Arjuna yang tampan bisa memanahkan hati ini."
"Hadeh. Kalau buta akan cinta ya gini, pikiran jadi tidak waras. Apapun akan dilakukan sampai hal gila sekalipun ingin terjalani. Ya sudah, jadi tidak makannya? Mumpung aku lagi baik hati dan tidak ada kerjaan."
"Hm, jadi dong."
Cakra sudah berdiri tidak sabar ingin mengajak.
"Ya ... iya, cepetan bangun. Jangan mikir cinta melulu, nanti jadinya sakit akibat kelaparan."
"Iya, sabar kenapa."
"Ini sudah terlalu sabar hadapi cewek kayak kamu. Aku lagi tidak ada waktu banyak, sebab mau pergi ke perusahaan bos."
"Ok 'lah, kita meluncur mencari makan."
"Ya iya, cepetan."
"Ok."
Cakra memang kurang ajar, masak nona orang kaya begini diajak makan di warteg.
Malu sekali rasanya, tapi keburu perut lapar ya apa yg ada didepan mata tetap dimakan. Seumur-umur tidak pernah makan pakai tangan, tapi hari ini begitu sialnya disuruh sama Cakra untuk makan memakai tangan langsung. Awalnya jijik dengan apa yang kulakukan, tapi lama-lama kok enak dan merasa nyaman saja.
__ADS_1