Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Keinginan Mama


__ADS_3

Mungkin hanya satu kata yang bisa dikatakan sekarang, yaitu agar diriku bisa merubah sikap lebih baik lagi pada Liona. Tidak menyangka jika dia telah memberikan kejutan dihari kelahiran. Rasanya bahagia telah bercampur sedih, ketika mengenang selama ini tidak ada pihak keluarga yang mengingatnya. Hanya dialah sekarang orang pertama yang berhasil membuat hati sekarang berbunga-bunga.


"Kalau bahagia bagi-bagi dong?" Cakra menyinggung.


Kami berdua sekarang berada dalam mobil, menuju klien untuk rapat kerjasama.


"Dih, ngapain harus dibagi juga. Kepo amat."


"Heleh, sombong amat. Kenapa sih, dari tadi aku perhatikan senyum-senyum sendiri seperti orang gila," Sekertaris merasa curiga.



"Tidak ada kok. Kamu saja yang salah memperhatikan mungkin," elakkku.


"Hadeh, mataku masih belum buta. Gimana ya menjelaskannya. Walau Bos, tidak sedang tersenyum tapi kelihatan banget lho kalau aura sekarang sedang terpancar bahagia."


"Haduh, macam peramal saja kamu itu. Masak sih, kelihatan banget 'kah?" Gantian kepo sambil tangan meraba-raba wajah.


"Kan benar. Gitu saja tadi pakai ngeles. Iya, kelihatan sekali itu. Sekarang berhenti terseyum, ok. Untung aku yang lihatnya, kalau orang lain pasti sudah menyangka telah gila. Apa ngak malu tuh jika orang seganteng Bos sekarang dianggap sedang tidak waras."


"Haiiis, berpikiran jauh amat. Kurang asem, ngatain orang gila juga itu mulut kamu." Dongkol ingin kutabok saja.


"Habis ngeri dan aneh saja lihatnya. Memang ada apaan, sih? Tidak biasa-biasanya Bos kayak gini?" Cakra terus saja ingin tahu.


"Ada deh."


"Hadeh, pelit amat jadi orang."


"Bukan gitu 'lah. Rahasia ini."


"Coba aku tebak. Apa jangan-jangan ini karena Liona."


"Kok bisa nebak gitu."


"Lah, sekarang memang yang lagi dekat banget sama Bos hanya dia seorang."


"Iya, yah."


"Berarti benar tebakanku."

__ADS_1


"Hmm, iya ... iya."


"Heran saja sama wanita unik itu. Sikapnya tiap hari bikin aku makin kagum saja. Semua tindakannya bikin tersentuh dan kadang membuat diriku melakukan hal-hal konyol dan kadang merubah diriku yang tak seperti biasanya. Wanita yang benar-benar bikin tak waras saja," Mimik muka ini sudah membayangkan akan wajah istri.



"Itu namanya sedang buta akan cinta."


"Cihh, asal jemplak saja mulut kamu."


"Aku tuh juga pernah merasakannya, Bos. Apa tidak lihat kanan kiri ok semua banyak gendengan, jadi tahu yang mana benar-benar sedang jatuh cinta atau hanya sekedar kagum saja."


"Tapi entahlah. Aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi padaku, yang jelas terasa bahagia saja ketika sering didekatnya."


"Baguslah kalau bisa merubah mood Bos, yang dulu sering marah-marah kini jadi lemah lembut."


"Dih, malah ngatain pemarah juga."


"Ya iyalah, coba kembali mengenang sikap bos dulu sama sekarang. Ada perubahan tidak? Ada yang beda tidak? Pasti ada 'kan." Cakra terus mengoceh sambil menyetir.


"Hmm, iya juga sih."


Obrolan sesama pria terus terjadi. Tidak sia-sia punya teman sekaligus bawahan seperti Cakra, yang banyak pengalaman tentang pacaran. Walau dia sering mempermainkan hati wanita, tapi kalau menjalin hal yang lebih serius pasti akan ditanggapi lebih serius juga, namun sayang katanya belum ada yang pas untuk dijadikan pelabuhan terakhirnya.


Beberapa jam setelah menemui klien, akhinya kami kembali keperusahaan. Berkas-berkas sudah berserakan dimeja. Banyak yang harus kupelajari. Sedikit pusing, tapi ini adalah tuntutan kerja agar perusahaan akan lebih maju lagi.


Tok ... tok. Pintu diketuk seseorang.


"Masuk saja."


"Hallo, sayang!" sapa seseorang.


"Eeh, Mama. Tumben datang ke sini! Ada apaan, nih?" Langsung saja berdiri untuk menyambut beliau.


"Ini 'kan perusahaan anak, ya sekali-kali bolehlah datang," Beliau menyambut hangat tanganku yang ingin mencium takzim.


"Iya, Ma. Kapanpun Mama mau boleh kok kesini. Tidak ada larangan sama sekali," Langsung saja kuajak duduk beliau.


"Iya, Nak. Gimana kabar kamu sama Liona?" tanya beliau.

__ADS_1


"Alhamdulillah kami baik."


"Syukurlah kalau begitu. Emm, ngomong-ngomong kapan nih kalian ada rencana mau bulan madu?."


"Hah, apaan sih, Ma."


"Haduh, Nak. Kalian sudah beberapa bulan menikah. Masak tidak ada rencana untuk menikmati moment indah berduaan saja, sih."


"Hehehe, tidak sampai kepikiran ke situ sih, Ma. Lagian Juna banyak kerjaan, jadi ya begitulah mana ada waktu mau gituan."


"Masalah pekerjan 'kan ada Cakra yang bisa ngurus dan gantiin. Sekarang kamu turuti perkataan Mama. Lagian mama lihat, kalian ini masih sama-sama malu kucing, jadi saran Mama sih kalian kalau mau akrab ya jalan satu-satunya dengan berbulan madu."


"Hehehe, entar 'lah, Ma. Masih belum kepikiran sampai itu."


"Tidak bisa entar-entar. Nih, ambil! Sekalian hadiah ulang tahun kamu," Mama telah menyodorkan sebuah amplop putih memanjang.


"Apaan nih, Ma!" Kuambil dan berusaha membukanya.


Alamak, betapa kagetnya sebuah kertas yeng tertuliskan pesanan tiket perjalanan ke Bali selama dua minggu.


"Gimana? Kamu mau 'kan?."


"Duh, gimana ya, Ma. Juna Belum siap mengenai hal ini. Lagian Liona belum tentu mau jika hanya kami berduaan saja pergi."


"Masalah Liona gampang. 'Kan kalau berduaan saja malah bagus, siapa tahu Mama akan segera menerima cucu."


"Apaan sih, Ma."


"Hihii, kan siapa tahu. Dia akan jadi nurut jika kamu yang nyuruh. Kalian bulan madu bukan berarti harus memenuhi kewajiban kamu sebagai suami. Mama tahu kalau kalian masih ada rasa canggung. Mama, hanya bermaksud agar kalian bisa istirahat sejenak merasakan moment bahagia. Jangan sampai 'lah, Liona terus-menerus suntuk sebab sering kamu abaikan."


"Hmm, entarlah. Juna nanti coba akan tanyakan mau apa tidak. Yang jelas Juna sekarang mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, sebab Mama selalu memberikan kasih sayang terbaik dan perhatian lebih sama anak kamu ini."


"Iya, Nak. Santai saja. Mama akan melakukan hal apapun itu demi kamu agar selalu bahagia."


"Iya, Ma. Terima kasih." Tubuh beliau sudah kupeluk.


"Sama-sama, Nak."


Mungkin ada benarnya ide Mama sekarang, bahwa harus membawa Liona untuk sejenak istirahat dari aktifitas sehari-hari. Sebagai tanda terima kasih atas kejutan ulang tahun kemarin, mungkin inilah moment yang pas untuk membalasnya.

__ADS_1


Rasa syukur tak luput terus kuucapkan, saat banyak sekali kekecewaan dan rasa sedih ketika dulu, tapi Mama selalu ada untukku agar menjadi anak lebih kuat dan berani. Mungkin akibat Papa yang kurang memberi perhatian, maka Mama selalu berusaha menutupi itu semua dengan memberi dukungan lebih. Lelah Mama selalu terbayar saat aku tersenyum bahagia juga. Kata beliau, cukup aku bisa tertawa sudah bisa membayar lelah beliau membesarkanku.


__ADS_2