Terpaksa Menikahi Si Culun

Terpaksa Menikahi Si Culun
Acara ketemu keluarga calon


__ADS_3

Mobil jemputanpun sudah datang. Semua kelihatan mempesona, saat wajah sudah dipoles sedimikian rupa.


"Kok baju ini pas sekali dibadanku. Emm, kenapa Arjuna bisa tahu ukuran baju yang pas dibadan sekarang? Apa jangan ... jangan selama ini dia memang sedang mencari tahu diam-diam atau boleh dikatakan sedang gencar menyelidiki tentangku," guman hati yang merasa bingung.


"Aah, sudahlah. Yang penting dia tidak macam-macam," imbuh hati berkata.


Netra terus saja memandangi keindahan alam, yang nampak menyejukkan dari kaca. Hijaunya daun dan warna-warni bunga dipinggiran jalan sangat memanjakan mata. Semua kendaraan nampak sibuk sedang melajukan mesinnya. Keadaan nampak sedikit ramai, walau hari sudah pertengahan hari.


Rasa nyaman dalam mobil membuat netra semakin sayu-sayu ingin tidur saja. Mungkin tadi siang tidak sempat tidur, sehingga sekarang berkali-kali sudah menguap terus. Tubuh yang lelah sudah kusandarkan agak sedikit merosot kebawah, agar terasa nyaman hanya untuk sekedar memejamkan mata sebentar.


"Liona ... Liona?" Suara seorang pria memanggil.


"Liona ... Liona! Hadeh, nih orang nyenyak banget tidurnya," keluh suaranya.


Karena terdengar berisik dan mengesalkan, dengan terpaksa tidur yang nyenyakpun mencoba menyudahi, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Hmm ... emm," Sayu-sayu mata mulai terbuka sambil mengeliatkan badan.


"Eeh, kamu!" jawabku saat melihat wajah Arjuna.


"Hmm. Puas tidurnya?."


"Sudah cepetan bangun, jangan molor saja!" keluhnya kelihatan tidak suka.



"Hmm. Tapi mataku masih ngantuk ini. Izinkan aku sebentar saja memejamkan mata lagi," jawaban yang tidak ingin mengikuti perintahnya.


"Hidih, apa tidak lihat kamu sudah sampai dirumahku. Apa nanti mau kena marah, akibat lama menunggu kedatangan kamu," Cerewetnya mulut Arjuna.


"Ayo, cepetan."


"Hiist, iya ... iya, aku bangun sekarang."


Tas selempang yang kubawa langsung tersambar, dengan kaki mulai menapakki jalanan halaman rumah yang bagaikan istana. Wajah sudah takjub saat melihat betapa keindahan rumah bercatkan putih dan biru, yang berasa kental sekali keluarga terpandang dan kaya.

__ADS_1


"Rapikan rambut dan segera lap air liur kamu itu," keluh Arjuna lagi.



"What? Mana ada aku ngiler, jangan sembarangan kalau ngomong," bantahku tidak suka.


Tangan sudah mencoba meraba-raba.seluruh bagian area bibir, untuk memastikan kalau apa yang dikatakan pria cerewet ini tidaklah benar atau memang benar-benar ada.


"Mana ... mana, tidak ada 'pun."


"Haiist, pokoknya lap saja area itu. Kelihatan berantakan sekali," Tangan Arjuna sudah mengelap bibirku dengan sebuah tisu.


Wajahnya sudah kupandangi seksama, saat tubuh membungkuk untuk mendekati posisiku berdiri. Sangat tampan dan selalu mengugah keinginan untuk memiliki, siapapun yang selalu berdekatan dengannya.


Sepertinya ada yang aneh atas perlakuannya barusan, sehingga dengan cepat-cepat langsung saja melihat ke arah kaca mobil.


"Iiiihhh, kenapa kamu hapus lipstikkku!" Kekesalan saat tahu apa yang dia lakukan barusan.


"Sudah diam saja!" jawabnya santai yang lagi-lagi ingin mengelap lagi.


Deg, rasanya kata-katanya barusan berhasil mengetarkan hati, sampai-sampai sudah merasa terbang bagaikan diatas awan.


"Apakah aku tadi tidak salah dengar, 'kan! Kalau dia memujiku cantik barusan. Astaga, aku beneran tidak mimpi atas ucapan Arjuna barusan," guman hati yang sudah terkesima.


Untuk memastikan sedikit mencubit pelan pipi sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Arjuna sudah menatap aneh kearahku.


"Hehehe, tidak ada apa-apa kok!" Ngelesnya diriku menjawab.


"Ooh."


Arjuna sudah melangkah duluan, meninggalkan diriku yang masih berdiri terbengong.


"Ayo cepetan ikut masuk. Apa perlu kutarik tangan kamu juga, hanya sekedar masuk rumah saja," perintahnya yang mengeluh.

__ADS_1


"Iya ... iya, sebentar!" jawab sudah berlarian kecil, untuk segera menyusul langkah Arjuna yang duluan.


Wajah mencoba menyapu keseluruh bagian depan rumah. Kelihatan elegan dan minimalis, dan terkesan megah. Berbeda sekali dengan rumah disekitaran kampungku, yang biasa-biasa saja walau mereka terbilang orang yang punya harta.


Ceklek, pintu rumahnya sudah dibuka.


Langkahnya yang lebar tidak bisa kuimbangi, sehingga berulang kali harus berlarian kecil agar bisa mengejarnya.


"Wah ... wah, tamu yang diundang ternyata sudah datang," sambutan ramah Nenek Arjuna.


Wajah mereka nampak sumringah bahagia sekali, saat melihat wanita yang akan jadi bagian keluarga mereka nanti sudah hadir. Semua terlihat sudah berkumpul termasuk keluarga tiri Arjuna.


Sebagai rasa hormat, satu persatu kucium tangan punggug mereka. Semua kelihatan ramah dan senang..


"Kamu cantik sekalu, Cu!" ucap Nenek sudah memeluk tubuhku dengan erat.


"Iya, Nek. Terima kasih atas pujiannya."


"Iya, Cu. Kamu nanti memang pantas bersanding bersama Arjuna. Selain wajahnya yang rupawan bisa memikat semua wanita, sifat kamu yang kelihatan sopan dan baik hati, pasti bisa merubah sikapnya yang arogan dan selalu membangkang," ungkap Nenek mengenai Arjuna.


"Mana ada aku pembangkang. Yang ada kalian semualah yang selalu membuat hatiku kecewa," ketus langsung omongan Arjuna.


"Hilih, cari muka saja," simbat Kenzo terdengar tidak senang.


"Apa yang kamu bilang tadi!" Langkah Arjuna sudah maju seperti ingin menantang.


"Sudah ... sudah, Nak. Tahan emosi kamu. Tidak enak sama Liona sebagai tamu," cegah Mama Arjuna menahan tangannya.


"Iya, Arjuna. Maafkan ucapan Nenek tadi, ok! Kita disini berkumpul untuk menyambut calon cucu nenek, agar bisa lebih mengenal keluarga kita. Bukannya ingin melihat kalian untuk saling bertengkar," saut Nenek jadi tak enak hati.


"Hmm."


Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini, yang jelas aku tidak boleh terlalu kepo, atas ketegangan-ketegangan yang kelihatan selalu muncul dari keluarga mereka. Sebagai anggota baru, aku harus berupaya menjaga sikap dengan baik dan sopan, agar tidak dicap sebagai wanita yang tidak berbudi baik.


Setelah ada sedikit ketengangan tadi, akhirnya kami semua sudah berkumpul dalam satu meja makan. Tidak ada satu patahpun kata-kata keluar dari mulut kami semua, yang ada hanya detingan sendok dan kekhidmatan para keluarga mereka menikmati makanan.

__ADS_1


__ADS_2