
Zehan dengan setianya menemani Alish melakukan aktifitas pekerjaannya. Sesekali Alish menyahut dengan berbisik saat Zehan bertanya padanya.
Saat istirahat tiba, Alish makan siang digudang penyimpanan seperti kemarin. Alish kembali menyuapi Zehan karena Alish takut kalau-kalau ada orang yang tiba-tiba masuk kedalam gudang dan melihat sendok melayang.
Sesekali Alish tersenyum saat Zehan mengeluh kenapa harus disuapin Alish, seperti anak bayi katanya.
Dan disaat Alish tersenyum, disaat yang sama pula, ada getaran aneh dalam diri Zehan. Entah apa itu, Zehan tidak mengerti tapi yang jelas, Zehan merasa sangat bahagia.
Waktu berlalu dengan cepat, dan tanpa terasa sudah hampir satu bulan Zehan tinggal bersama dengan Alish. Dan selama itu pula, bayangan dari masa lalunya terus datang. Kadang jelas kadang buram hanya ada suara. Tapi Zehan masih belum berani bercerita pada Alish.
Hingga suatu hari,,
" Kak,, besok aku libur. Dan besok jadwal aku datang ke yayasan Bunda. Kakak mau ikut atau tetap dirumah,,? " tanya Alish.
Zehan yang hampir tertidur, langsung membuka matanya dan menoleh kearah Alish yang sedang duduk bersandar di dinding tepat diatas kasur lantainya. Alish sedang membaca buku novel bekas yang dibelinya ditoko buku bekas.
" Kau mau ke sana,,? Memang kau sudah gajian,,? " tanya Zehan.
" Sudah Kak, beberapa hari yang lalu. Besok sebelum ke yayasan Bunda, aku mau belanja dulu sebentar. Untuk dibawa kesana. Sembako untuk Bunda dan makanan kecil untuk Adik-adik. " jelas Alish tanpa mengalihkan pandangannya.
" Oke,, aku ikut. Aku penasaran dengan tempat tinggal masa kecilmu. " sahut Zehan.
" Ya sudah, Kakak tidur duluan saja. Aku masih ingin membaca buku ini. " ucap Alish.
Zehan pun kembali memejamkan matanya. Lengan tangan kirinya berada dibawah kepalanya sementara lengan tangan kanannya untuk menutupi kedua matanya.
Tak lama kemudian,, Alish pun mulai mengantuk.Alish mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dalam hitungan detik, terdengar dengkuran halus.
__ADS_1
Dan lagi-lagi,, seperti malam-malam sebelumnya, Zehan bangun dari tidurnya dan duduk disamping tubuh Alish. Matanya lekat menatap Alish dan tangannya membelai lembut pipi Alish.
Zehan juga merapikan anak rambut Alish yang sedikit menutupi wajahnya. Dan menyelipkan nya dibelakang telinga Alish. Senyuman kecil menghiasi bibir Zehan.
" Entah rasa apa yang saat ini sedang aku rasakan padamu, Lish,,? Yang pasti, aku merasa sangat nyaman dan bahagia bersamamu. Aku ingin selalu berada disampingmu. Tapi bisakah,,? Harusnya aku sadar diri, aku ini hanyalah hantu. Dan kau masih mempunyai kehidupan yang panjang. Kau akan mengenal seorang pria, lalu jatuh cinta dan kemudian menikah. Dan aku,,? aku hanya bisa menjadi bayangan mu. Entah mengapa,, terasa sesak dan sakit dalam dada ini, saat aku membayangkannya. Tidak mungkin kan aku jatuh cinta padamu,,? " gumam Zehan pada Alish, seakan dia berbicara padanya.
Setelah puas memandangi wajah cantik Alish, Zehan pun kembali ke tempatnya tidur. Posisi yang sama setiap kali Zehan tidur.
Keesokan harinya,,
Lagi-lagi Zehan terbangun karena menghirup aroma harum masakan Alish. Zehan beranjak dari tidurnya dan berjalan menghampiri Alish.
" Kakak sudah bangun,,? Sebentar lagi sarapannya siap. " ucap Alish setelah melihat Zehan duduk di kursi meja makan.
Tak lama, Alish mulai menghidangkan makanan diatas meja. Hanya masakan sederhana. Nasi putih dengan sayur sop dan tempe goreng. Tak lupa sambal tomat, untuk penambah rasa pedas.
Dua puluh menit kemudian,, Alish keluar dari kamar mandi sudah ganti baju dan hanya tinggal merapikan rambut dan wajahnya. Setelah rapi, Alish keluar dari rumah dan tak lupa mengajak Zehan. Alish tidak membawa sepedanya, karena dia akan naik taxi online.
Alish mampir kesebuah minimarket untuk membeli sembako dan makanan ringan untuk dibawa ke yayasan. Semua tindakan Alish tak luput dari tatapan Zehan.
Selesai belanja, Alish naik kedalam taxi online nya yang sudah menunggu didepan minimarket itu. Zehan pun ikut masuk dalam mobil.
Setengah jam perjalanan, Alish sudah sampai didepan gerbang Yayasan Kasih Bunda. Tempat tinggalnya dimasa lalu. Alish masuk kedalam yayasan diikuti oleh Zehan. Bunda Ani dan Adik-adik kecilnya sudah menantinya didepan pintu masuk. Karena semalam Alish sudah mengabari Bunda Ani.
Mereka menyambut Alish dengan bahagia. Bunda Ani memeluk Alish erat dan menanyakan kabarnya. Dan Adik-adik kecilnya ikut memeluk Alish saat Alish sedang membagikan makanan kecil untuk mereka.
Bunda Ani sudah masuk kedalam membawa sembako pemberian Alish. Adik-adik kecil yang sudah dibagi makanan, mulai membubarkan diri.
__ADS_1
Sepasang mata kecil, menatap tajam kearah Zehan. Membuat Zehan mengernyitkan dahinya.
" Mengapa anak itu melnatapku dengan tajam,,? Apakah dia juga bisa melihatku,,? " batin Zehan.
Semua tindakan Zehan ditatap tajam oleh anak itu, anak lelaki berusia enam tahun. Alish pun melihat kearah anak lelaki itu yang terus saja memandangi Zehan. Alish menghampiri anak itu dan memberikan makanan kecil untuknya.
" Kau kenapa, Andi sayang,,? " tanya Alish.
" Siapa Kakak itu,,? " tanya anak lelaki yang bernama Andi itu menunjuk kearah Zehan dengan dagunya.
Alish tersentak kaget, tidak menyangka kalau Andi juga dapat melihat Zehan. Alish pun menoleh kearah Zehan dengan tatapan bingung nya.
****
~~ Bersambung,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, love, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir di karya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka, karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌
__ADS_1
****