The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 73


__ADS_3

Setelah puas menangis dan saling peluk, Mommy Sarah melepaskan pelukannya namun kedua tangannya masih berada di kedua bahu Alish. Ditatapnya Alish, wajah yang sayu, mata yang sembab dan merah. Jangan lupakan juga lingkaran hitam dibawah mata, akibat tidak tidur semalaman.


" Kau harus kuat, sayang. Mommy pun yakin, Ze juga pasti kuat. " ucap Mommy Sarah dengan suara serak.


Alish tidak sanggup bicara, dia hanya bisa mengangguk sambil terus terisak. Mommy Sarah kembali merasa tidak tega, dia pun memeluk Alish. Mereka kembali menangis.


Ketiga pria tampan yang ada disana ikut merasa haru. Mata mereka pun ikut basah, terutama William. Dia sangat tahu kasih sayang untuk Hyeong nya itu dari Mommy dan Kakak iparnya itu.


Willi pun juga sangat tahu segala macam penderitaan yang telah dialami oleh Zehan dahulu. Walaupun anak satu-satunya, namun seperti tidak dianggap ada. Selalu ditinggal pergi,, diurus oleh pembantu dan sopir.


Daddy Jo kembali mengusap punggung sang istri dengan lembut. Senyum kecil dibibirnya, berusaha untuk tetap tegar.


" Sudah,,,. Jangan menangis lagi,, kasihan Ze. Kita do'akan yang terbaik untuknya. Dan Daddy juga yakin kalau Ze pasti kuat melewatinya. " nasihat Daddy Jo dengan lembut.


Mommy Sarah dan Alish melepaskan pelukan mereka lalu mengangguk bersamaan. Mereka pun kemudian duduk. Tangan Mommy Sarah menggenggam tangan Alish, seakan memberinya kekuatan.


*


*


*


Seminggu berlalu dengan cepat,,


Dan keadaan Zehan masih tetap sama. Alish memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus suaminya.


Rayhan dan William selalu datang setiap pagi dan saat pulang kerja. Mereka selalu membawakan makanan untuk Alish,, karena mereka tahu, Alish tidak mau keluar dari ruangan Zehan dirawat selain untuk mandi.


Keadaan Alish pun tak kalah buruk dari Zehan. Tubuhnya semakin kurus dan lemah. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah, lingkaran hitam dibawah matanya semakin jelas.


Hati William semakin sakit melihat keadaan Kakak iparnya itu. Dia benar-benar yakin, kalau Kakak iparnya itu tulus mencintai Hyeong nya. Bukan seperti yang dituduhkan oleh Papa mertuanya yaitu Papa Zehan, Mark.


William mengepalkan tangannya, dan rahangnya mengeras bila mengingat kejadian yang lalu. Tepatnya seminggu setelah sang Mommy melabrak Papa Mark. ( Sudah othor revisi cerita di bab 71,ya.Silahkan baca ulang supaya lebih jelas.)


Flashback on,,


William yang sedang minum kopi di sebuah cafe, tanpa sengaja melihat kedatangan Papa Mark, saat dia sedang melihat kearah pintu masuk. Seketika William langsung menundukkan kepalanya, supaya tidak terlihat oleh Papa Mark.


Dan tak lama kemudian, Alish masuk. Mereka duduk tepat di meja sebelah William, yang duduk membelakangi Papa Mark dan Alish. William memasang tajam kupingnya, berusaha mencuri dengan pembicaraan mereka.


" Maafkan saya karena terlambat. " ucap Alish dengan sopan sambil setengah membungkuk.


" Duduk,,! " sahut Papa Mark tegas, tanpa menjawab permintaan maaf Alish.


Alish pun mengikuti ucapan Papa Mark, dan duduk berhadapan dengan Papa Mark. Tangannya berkeringat dingin, dan merasa tegang sekaligus takut.


" Apa kau benar istrinya Zehan,,? " tanya Papa Mark tanpa basa basi.


" Benar, Tuan. " suara Alish sedikit bergetar, Alish menundukkan pandangannya. Tidak berani menatap lawan bicara yang ada dihadapannya itu.


" Kau tahu, siapa saya,,,? " Alish menggeleng pelan.


" Saya Papa kandung Zehan. " Sontak Alish langsung mengangkat wajahnya dan menatap pria yang ada didepannya. Alish menelan salivanya dengan susah payah.


Wajah yang sangat mirip dengan Zehan namun terlihat lebih dewasa dan lebih dingin. Rahang yang tegas dan mata yang tajam.

__ADS_1


" Maaf,, saya tidak tahu, Papa. " ucap Alish pelan.


" Jangan panggil saya, Papa. Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah merestui pernikahan kalian. Dan saya tidak akan pernah menganggap kau menantuku. Tidak akan pernah,,!! " tegas Papa Mark.


DEG,,,,


Hati Alish terasa sakit,, dadanya terasa sesak. Air matanya sudah keluar namun ditahannya supaya tidak jatuh. Alish hanya bisa diam.


" Ambil ini,,!! " Papa Mark meletakkan selembar cek diatas meja.


Mata Alish membulat melihat jumlah nilai yang tertulis disana. 10 Milyar,,,


Alish kembali menatap Papa Mark.


" Saya tahu,, kau pasti mendekati anak saya karena uang kan,,. Dan ini,, ambillah. Lalu pergi dari kehidupan anak saya. "


Tanpa peduli sakit yang dirasakan Alish,, Papa Mark seakan merendahkan Alish. Air mata Alish semakin menggenang dipelupuk matanya.


" Saya sudah menyelidiki siapa kau sebenarnya. Hanya seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di sebuah Yayasan, berharap menjadi bagian dari keluarga Lee,,? Cih,, jangan harap. Sampai kapanpun,, itu tidak akan pernah terjadi. "


Akhirnya,, air mata itu pun lolos juga, jatuh mengalir dipipi mulus Alish. Tangannya meremas dadanya pelan,, sakit,, sangat sakit. Di hina dan direndahkan oleh Papa dari suaminya itu.


Sementara William, yang mendengarnya dari belakang punggung Mark,, hanya bisa mengepalkan tangannya. Dia sangat marah akan ucapan Papa Mark. Ingin rasanya, tangan itu memukul mulut pedas sang Paman.


" Sekarang ambil cek itu, lalu pergi dari hadapanku dan dari kehidupan Zehan. Bahkan kalau perlu,, jangan pernah muncul lagi. "


Alish berusaha untuk tersenyum lalu memegang cek itu, namun bukannya diambil, Alish justru menggeser nya kedepan Papa Mark, membuat Papa Mark mengernyitkan dahinya. Dan menatap tajam Alish.


" Saya memang orang miskin, tapi saya tidak perlu uang itu. Saya akan pergi meninggalkan putra anda,,, "


Rasanya William ingin segera bangun dari duduknya dan menggebrak meja tersebut. Namun sebelum dia melakukannya, suara Alish kembali terdengar.


Seketika senyuman kecil terbit di sudut bibir William. Dia benar-benar salut pada Kakak iparnya itu. Alish bangun dari duduknya.


" Saya rasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Saya permisi dan selamat sore. "


Usai mengucap itu, Alish pun beranjak pergi dan keluar dari cafe itu tanpa memesan lagi. Hatinya sudah terasa cukup marah sekaligus sakit.


Papa Mark mengeraskan rahangnya lalu mengambil cek itu dan tangannya mengepal sambil meramas cek tersebut. Sementara William tersenyum puas, sambil memegang ponselnya.


Ya,, William sengaja merekam pembicaraan Alish dan Papa Mark. William segera mengirimnya pada Zehan, supaya Zehan tahu dengan perbuatan Papa nya. Sekaligus supaya Zehan tahu, kekuatan tak terduga dari sang istri.


Flashback off,,,


William membantu Alish untuk duduk di kursi saat keluar dari ruangan Zehan. William takut Alish terjatuh karena terlihat sangat lemas dan tak bertenaga.


William menyerahkan paperbag berisi makanan, sementara Rayhan masuk kedalam ruangan Zehan untuk melihat keadaan Zehan.


" Makanlah dulu, Kakak ipar. " William mengeluarkan wadah makanan dan memberikan nya pada Alish.


" Kakak belum lapar, Will. "


" Will mohon,, jangan seperti ini terus, Kak. Lihat Kakak sekarang,, semakin kurus. Apa yang harus Will katakan, saat Hyeong bangun nanti dan bertanya. " William meletakkan wadah makanan tersebut dipangkuan Alish.


Dengan terpaksa,, Alish berusaha untuk memakannya, walau mulutnya terasa pahit dan rasanya sangat mual.

__ADS_1


Baru beberapa suap makanan yang masuk,, Alish tidak dapat menahan mualnya. Dia meletakkan wadah makanan tersebut dikursi lalu bergegas menuju kamar mandi.


William yang kaget dan terkejut, mengikuti Alish dengan setengah berlari.


" Kakak ipar kenapa,,? " seru William, berusaha mengejar Alish.


Alish terus berlari sambil menutup mulutnya. Alish memuntahkan makanan nya begitu dia masuk kedalam kamar mandi rumah sakit.


*Hoeek,,,,


Hoek*,,,


Alish merasa lemas, setelah muntah beberapa kali. Dia pun mencuci mulutnya, demi menghilangkan bekas sisa muntahan. Sementara William hanya bisa mondar-mandir didepan pintu kamar mandi. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Alish.


" Kakak ipar tidak apa-apa,,? " tanya William khawatir begitu Alish keluar dari kamar mandi.


Alish tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Matanya basah dan merah karena muntah tadi.


" Kakak tidak apa-apa. Mungkin asam lambung Kakak kumat, karena Kakak telat makan. "


Jawaban Alish semakin membuat William semakin khawatir.


" Kita periksa kedokter ya, Kak,,? " Alish menggeleng.


" Tidak usah. Kakak hanya ingin kembali melihat Kakak mu. "


William pun tidak bisa berbuat apa-apa,, dia hanya membantu Alish berjalan keruangan Zehan. Karena keadaan Alish benar-benar semakin lemah setelah muntah barusan.


Disaat mereka sampai,, Rayhan sudah berada dikursi tunggu, depan ruangan Zehan dirawat. Rayhan bangun dari duduknya, saat melihat keadaan Alish yang benar-benar kacau.


" Nona,, anda kenapa,,,? " tanya Rayhan ikut khawatir.


" Aku tidak apa-apa, Kak Ray. Aku hanya ingin masuk kedalam. Apa kamu ingin masuk, Will,,,? " William menggeleng.


" Besok saja,,,. Sekarang lebih baik, Kakak ipar masuk dan istirahat didalam. Makanannya nanti aku letakkan di nakas saja. " Alish mengangguk.


Dengan perlahan, Alish masuk kedalam ruangan Zehan, diikuti oleh William yang membawa wadah makanan untuk Alish.


William keluar dari ruangan setelah dia meletakkan wadah tersebut di nakas. Dia menghela nafas panjang.


" Aku takut Kakak ipar ikutan sakit, Ray. " lirih William.


Rayhan hanya terdiam,, dan ikut menghela nafas. Bingung harus berbuat apa. Rayhan dan William memutuskan untuk pulang.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa untuk like, vote dan comment nya. Othor usahakan up setiap hari,, Do'akan othor selalu sehat.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌**


***


__ADS_2