The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
Seasons 2 : Cowok Narsis dan Gadis Bar-bar # bab 5


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin dari Dokter,, Fatimah membawa pulang Alif dan Ali. Fatimah menggendong Alif di tangan kiri sementara tangan kanannya menggandeng Ali.


Dua paperbag tadi dibawa oleh Ali. Sebenarnya sejak tadi Ali penasaran dengan isi paperbag itu, namun ditahannya. Pikirnya, lebih baik nanti saja dirumah.


Fatimah memutuskan pulang dengan menggunakan taksi. Walaupun baginya sedikit mahal, namun itu lebih baik dari pada naik angkot dengan keadaan Alif yang terluka.


Fatimah memang tidak mengetahui apa lagi mengenal siapa yang sudah menolong Alif, namun dalam hati dia tetap mengucapkan rasa syukur. Bahkan mendo'akan orang itu atas kebaikan nya.


Sesampainya dirumah, Fatimah membawa Alif kedalam kamarnya. Kamar satu-satunya yang ada dirumah kontrakan kecil tersebut. Mereka memang tidur bertiga.


Fatimah merebahkan tubuh Alif dengan perlahan dan hati-hati. Ali duduk di pinggir kasur masih dengan memegang dua paperbag pemberian William.


" Kak,,,. Ini sebenarnya apa,,,? Dan dari siapa,,? " tanya Ali yang sejak tadi bersabar untuk bertanya.


Fatimah menoleh sesaat, menatap barang yang dimaksud Ali. Tapi kemudian dia melanjutkan kegiatannya yaitu menyelimuti Alif.


Fatimah ikut duduk di pinggir kasur. Dia menghela nafas panjang sambil membuka topinya.


" Sebenarnya Kakak juga ga tau itu apa,,? Tapi kata Suster tadi, itu dikasih sama orang yang udah nolongin Alif. Kamu benar-benar ga tau, siapa orang itu,,? " Fatimah baik bertanya sementara Ali menggeleng sebagai jawaban.


Lagi-lagi, Fatimah hanya bisa menarik nafas panjang. Lalu diraihnya paperbag itu.


" Kita buka sama-sama ya. " Ali mengangguk sambil tersenyum.


Mata Fatimah membelalak saat melihat isi dari paperbag itu. Perlengkapan sekolah lengkap, yang terdiri dari tas, buku dan peralatan menulis. Dan Fatimah lebih kaget lagi saat didalamnya ada sebuah amplop. Masing-masing paperbag berisi satu amplop.


Mata Ali berbinar senang saat melihat isi paperbag itu. Dia memang sudah lama menginginkan sebuah tas baru. Tas nya sudah lama dan sudah sedikit sobek dibagian atasnya.


" Waahhh,,,. Perlengkapan sekolah,,,. Bagus banget ya, Kak. " seru Ali.


Fatimah menatap wajah bahagia sang adik. Dia tersenyum kecut, karena merasa bersalah belum bisa membelikan alat-alat sekolah yang baru untuk Ali. Fatimah mengangguk.


" Iya,, Tas nya bagus. " ucap lirih.


" Boleh Ali pakai, Kak,,? " tanya Ali dengan mata yang masih terus menatap tas tersebut.


" Boleh. Kamu pakai saja ya,, buat sekolah besok. "


Ali langsung meraih tas tersebut dan memeluknya. Dia mengangguk sambil tersenyum.


" Makasih, Kak. "


" Alhamdulillah,,,. Berterimakasih nya pada siapa,,,? " Ali tersenyum.


" Alhamdulillah,,,. Terimakasih, Ya Allah. " ucap Ali tulus.


Lalu matanya kembali menatap paperbag yang satu lagi.


" Terus yang itu buat siapa, Kak,,? " tanya Ali.

__ADS_1


" Emm,,, mungkin orang itu awalnya ingin memberikan buat Alif. Tapi karena Alif masih kecil, jadi lebih baik Kakak simpan. Buat jaga-jaga kalau nanti tas kamu rusak. "


Ali mengangguk, lalu kembali memeluk tas yang dipegangnya.


" Kak,, Ali beresin buku ya, buat besok sekolah. Sekalian dipindahin semua nya ke tas baru. " ucap Ali dengan semangat.


Fatimah tersenyum lalu mengangguk. Ali segera berlari keluar kamar, sementara Fatimah lagi-lagi menghela nafasnya.


" Maafin Kakak ya, Al. Kakak belum bisa kasih kamu kebahagiaan. Bahkan pemberian dari orang yang tidak kita kenal saja, kamu sudah sangat senang. Apalagi kalau Kakak yang membelikannya,, kamu pasti lebih bahagia lagi. " gumam Fatimah sedih.


Fatimah menoleh kearah Alif, yang kembali tertidur. Fatimah mengecup kening Alif dengan lembut dan penuh kasih.


Fatimah meraih amplop yang tergeletak disamping paperbag tadi. Dia pun membuka amplop tersebut, dan matanya kembali membulat saat melihat isi amplop tersebut.


Masing-masing isi dari amplop tersebut berjumlah sepuluh lembar uang berwarna pink. Sebenarnya isi amplop tersebut sudah ditambahkan oleh William.


" Banyak sekali isinya. Siapa sebenarnya orang itu,,,? " gumam Fatimah lagi.


Dengan terpaksa, Fatimah menyimpan uang tersebut untuk pengobatan Alif dan uang sekolah Ali nanti. Walaupun terasa berat untuk menggunakan nya, namun dia bisa apa bila saat ini dia benar-benar membutuhkannya.


Setelah merapikan semuanya, Fatimah pun keluar dari kamar, dan berniat memasak untuk mereka bertiga makan nanti malam.


*


*


*


Zehan mengetuk pintu kamar William, karena menurut perhitungannya William pasti sudah selesai mandi.


Dan benar saja, William membuka pintu dan sudah berganti pakaian. Bahkan rambutnya masih terlihat basah. Zehan masuk tanpa permisi, membuat si pemilik kamar berdecak kesal.


" Siapa,,? " tanya Zehan langsung duduk disofa kamar William.


William duduk dipinggir ranjangnya, menatap Zehan sambil mengernyitkan dahinya.


" Siapa,,, yang siapa,,,? " William balik bertanya membuat Zehan berdecih.


" Cih,,,. Apakah otakmu sudah berhenti berfungsi hingga tidak bisa mengerti maksud ucapanku,,? "


Sontak William langsung melempar bantal pada Zehan sambil menatapnya kesal.


" Hyeong masuk tanpa permisi dan sekarang menghinaku,, maksud Hyeong apa,,,? " sungut William.


" Siapa anak tadi,,,? " ulang Zehan dan memperjelas.


Raut wajah William berubah seketika. Dia menghela nafas panjang.


" Pada awalnya aku datang kerumah Fatimah karena ingin memberikan bingkisan yang Hyeong berikan tadi pada kedua adik Fatimah. Dan aku juga tahu, saat aku datang tadi Fatimah pasti belum pulang. "

__ADS_1


" Namun saat aku baru saja turun dari mobil, aku melihat adik Fatimah keluar dari rumah dengan wajah panik sekaligus ketakutan Bahkan dia hampir menangis dan berteriak. "


" Saat aku mendekat dan bertanya, ternyata keponakan Fatimah yang baru berusia dua tahun jatuh dan kepalanya terbentur ujung meja. Dan meja tersebut terbuat dari kaca. Dahi anak itu terluka bahkan sobek karena benturan tadi. "


" Hampir separuh wajahnya sudah berdarah. Dan aku membawanya kerumah sakit bersama dengan adik Fatimah. Aku tidak menyadari kalau darah anak itu mengenai kemeja ku. Hingga membuat Mommy salah paham. "


William menjelaskan panjang lebar, Zehan menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa tersebut.


" Lalu anak itu sekarang bagaimana,,,? "


" Anak itu mendapat dua jahitan di dahinya. Aku juga sudah membayar lunas semua biaya pengobatan termasuk kamar. Saat aku pergi meninggalkan mereka, anak itu masih tertidur karena aku menyuruh dokter untuk membiusnya. "


" Lalu kau bertemu dengan Fatimah,,? " William menggeleng pelan.


" Aku langsung pulang setelah menemui Dokter dan menebus resep obat untuk anak itu. Aku menitipkan bingkisan darimu beserta obat pada suster bagian informasi. Karena aku yakin, kalau Fatimah pasti akan bertanya pada bagian informasi. "


Zehan melempar kembali bantal yang tadi dilempar William padanya.


" Bo*doh,,,. Siapa pun pasti akan datang ke ruang informasi untuk bertanya kabar pasien. Haish,,,, rupanya otakmu benar-benar sudah kurang berfungsi,,,. "


" Hyeong,,,,!!! " seru William marah.


" Tidak usah berteriak. Keluar untuk makan malam,, setelah itu kita temui Papa untuk bertanya tentang keluarga Smith. " Zehan beranjak dari duduknya.


William menghela nafas lalu ikut berlari. Mereka keluar dari kamar William dan pergi menuju ruang makan untuk makan malam.


William juga merasa ucapan Zehan benar, secepatnya mereka harus segera mengetahui siapa keluarga Smith yang sebenarnya. William ingin keluarga kaya namun kejam tersebut, segera mendapatkan hukuman atas kesalahannya pada keluarga Fatimah.


Entah mengapa, hati William langsung terpatri pada sosok Fatimah saat pertama kali melihatnya. Gadis cantik dari keluarga sederhana bahkan bisa disebut kekurangan, namun tidak memanfaatkan kemiskinannya untuk meminta-minta.


Gadis tersebut bekerja keras untuk menghidupi mereka bertiga serta menyekolahkan adik semata wayangnya. Bahkan gadis itu rela merawat sang keponakan yang yatim piatu dan memanggil dirinya dengan sebutan Bunda.


William ingin bisa lebih dekat dengan Fatimah, dan membuktikan pada Fatimah kalau tidak semua orang kaya itu jahat dan kejam. Dan William pun bertekad untuk mendapatkan hati gadis tersebut.


*


*


*


~~ ***Bersambung,,


Mohon maaf,, kalau othor jarang up. Karena sedang hamil, othor jadi sering ngerasa cepet capek dan lelah.


Silahkan sabar menunggu bab selanjutnya bila kalian mau. Namun bila kalian merasa bosan dan tidak suka, silahkan skip.


Terimakasih sudah mau mampir dikarya othor,, dan sudah mau membaca.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤✌✌***


***


__ADS_2