
Alish masuk kembali kedalam ruangan Zehan setelah William dan Rayhan pergi. Alish duduk di kursi samping brankar Zehan terbaring. Dengan perlahan, Alish meraih tangan Zehan lalu mengecupnya lembut.
" Bangunlah,, Hubby. Aku mohon,,, " lirih Alish,, menahan tangis.
" Kamu yang dulu melarangku untuk pergi tapi sekarang,, kamu seperti ini. Sudah seminggu berlalu dan kamu masih betah tertidur. Apa kamu tidak ingin bangun dan melihat wajahku lagi, Hubby,,? ". Suara Alish mulai serak.
" Apa kamu yang sebenarnya ingin pergi meninggalkan ku seorang diri lagi,,, seperti dulu,,,? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi, Hubby,,? ". Air mata Alish pun lolos begitu saja, mengalir di pipinya yang terlihat tirus.
" Bila kamu ingin pergi,, maka bawalah aku serta. Aku tidak ingin sendiri disini tanpamu, Hubby. Bangunlah,,,, aku mohon,,. " Alish berulang kali bicara dan memohon pada Zehan.
Alish tak sanggup lagi,, dia menundukkan kepalanya dipinggir brankar, masih tetap menggenggam tangan Zehan. Dia mulai menangis.
Tiba-tiba,,,
Tiiitttttt,,,,,
Bunyi panjang terdengar membuat Alish sontak mengangkat kepalanya. Tangisnya semakin kencang,, kepalanya menggeleng,, tidak percaya. Alish segera menekan tombol panggilan darurat.
" Tidak,, Hubby. Aku mohon,,, jangan tinggalkan aku. Hubby,,,, Bangun,,,!!! " Alish memekik kencang sambil menggoyangkan tubuh Zehan.
" Bangunlah,,, Hubby. Kumohon,, bangun,,,. "
Pintu ruangan terbuka,, beberapa dokter dan suster masuk dengan tergesa-gesa. Mereka berusaha mengambil tindakan penyelamatan. Alish mundur perlahan,,, kepalanya terus menggeleng.
Pandangan nya mulai kabur,, tubuhnya mulai lemas. Perlahan namun pasti,, tubuh Alish jatuh ke lantai. Dia pingsan,,,
Membuat ruangan itu semakin gaduh.
Teriakan Dokter yang terus memompa jantung Zehan supaya kembali berdetak,,, dan teriakan seorang suster yang melihat Alish pingsan. Ruangan itu benar-benar kacau.
Sementara itu ditempat lain,,
Zehan tiba-tiba melihat sebuah cahaya terang. Dia pun bangun dari duduknya. Dia tidak tahu, sudah berapa lama dia berada di ruangan itu. Zehan terus menatap arah cahaya itu berasal.
" Apakah sudah saatnya aku pergi,,? Aku benar-benar mati sekarang,,? "
Disaat Zehan ingin melangkah,, tiba-tiba saja kedua tangannya digenggam oleh tangan mungil. Dan itu bukan hanya satu,, tapi ada dua tangan berbeda yang menahannya.
Zehan menoleh kebelakang dan melihat sepasang anak kecil kembar. Satu laki-laki dan yang satu lagi perempuan. Namun wajah mereka sangat mirip.
Zehan menatap mereka seakan bertanya, Siapa kalian,,?
" Apa kau ingin pergi,,,? " tanya anak laki-laki itu.
Zehan melepaskan salah satu pegangan tangan anak itu. Dia memutar badannya lalu berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi kedua anak itu.
" Apa kau yakin benar-benar ingin pergi,,? " tanya anak laki-laki itu lagi.
" Bila saat ini memang adalah waktuku untuk pergi,, berarti aku memang harus pergi. " jawab Zehan seraya mengusap pucuk kepala anak laki-laki itu.
" Apa kau sudah tidak mencintai istrimu lagi,,,? " kali ini anak perempuan itu yang bertanya.
Zehan tersenyum sendu. Dia teringat wajah sang istri yang sangat dicintai dan dirindukan nya itu.
" Tentu saja aku sangat mencintainya,, bahkan sangat mencintainya. " jawab Zehan lirih.
Zehan mengangkat tangannya lalu membelai lembut gadis kecil itu. Zehan menatap mata gadis kecil itu,, mata yang sama persis dengan mata sang istri.
" Apa yang kalian lakukan disini,,,? Apa orangtua kalian tidak mencari,,? " tanya Zehan.
Wajah kedua anak kembar itu berubah muram. Matanya terlihat sedih.
" Ibu kami sakit,, dan semakin lemah. Dan Ayah kami sekarat,, bahkan seperti nya dia juga akan segera pergi. Dan keberadaan kami sendiri pun, mereka tidak mengetahui nya. Kami benar-benar sedih,,, " .
__ADS_1
Ucapan anak laki-laki itu membuat Zehan menurunkan tangannya seketika dan menatap lekat wajah kedua anak itu.
" Maafkan aku,, aku tidak tahu. Tapi saat ini, aku benar-benar harus segera pergi. "
Zehan lantas berdiri lalu kembali memutar badannya, membelakangi kedua anak kembar itu. Zehan mulai melangkah,, perlahan mulai menjauh.
" Apa kau benar-benar ingin pergi meninggalkan kami, Ayah,,,? " sontak langkah Zehan langsung berhenti.
Dia membalik badannya lalu menatap lagi wajah kedua anak itu. Mata Zehan seakan mengisyaratkan pertanyaan,, Ayah,,,?.
" Kau adalah Ayah kami. Dan saat ini Ibu kami sakit dan sedang berjuang untuk bertahan karena Ayah akan segera pergi. Apakah Ayah tidak ingin kehadiran kami,,? ".
Mata Zehan mulai berkabut mendengar ucapan anak laki-laki itu. Kakinya kembali melangkah, mendekat kearah kedua anak itu. Zehan kembali berjongkok.
" Ayah,,,? Kalian anakku,,,? " Kedua anak itu mengangguk.
" Benarkah,,,? " lagi-lagi mereka mengangguk.
Zehan langsung memeluk kedua anak itu. Aimatanya pun berhasil lolos dari matanya.
" Anakku,,,. Ya Allah,, benarkah mereka adalah anak-anakku,,,? Terimakasih,, Ya Allah,, ternyata istri ku sedang hamil saat ini. " ucap Zehan dalam hati.
" Lalu kenapa kalian ada disini,,? " tanya Zehan sambil melepas pelukannya.
" Karena Ibu kami sedang sakit dan sangat lemah. Entah kami dapat bertahan atau tidak,,? Kami mungkin tidak akan bertahan bila Ayah pergi. Karena Ibu benar-benar sudah sangat lemah. "
Zehan merasa hancur mendengar sang istri sakit dan lemah tak berdaya. Tangan gadis kecil itu meraih tangan Zehan.
" Kembalilah, Ayah. Dan ikutlah dengan kami. Kami juga sangat ingin dapat lahir kedunia. " gadis kecil itu menarik-narik tangan Zehan.
" Bisakah Ayah kembali,,,? " tanya Zehan.
Anak laki-laki itu ikut meraih tangan Zehan yang satunya. Zehan pun berdiri. Kedua anak itu menarik tangan Zehan, menjauh dari cahaya terang tadi. Zehan sempat menoleh, namun langkah kakinya tidak berhenti. Dia terus mengikuti langkah kedua anak kembar yang mereka bilang kalau mereka adalah anak-anaknya.
Mata Zehan tiba-tiba merasa silau,, sangat silau hingga dia pun memejamkan matanya. Semuanya kembali putih.
Alish merintih menahan pusing dan lemas di badannya. William sedang duduk langsung bangkit dan mendekat ke brankar Alish.
" Kakak ipar,,,. Kau sudah sadar,,,? " William merasa lega.
Setelah lebih dari enam jam Alish pingsan,, akhirnya dia sadar. Dan William merasa sangat lega.
" Aku dimana, Will,,? Dan aku kenapa,,? " tanya Alish lemah.
" Kakak ipar dirumah sakit,, dan tadi Kakak pingsan. " seketika Alish langung ingat tentang Zehan.
Mata Alish membulat dan mulai berair. Tanpa sadar, Alish bangun dan duduk di brankar nya.
" Suamiku,,,. Bagaimana dengan Zehan, Will,,,? " Alish terisak.
" Tenang,,. Kakak ipar harus tenang. "
" Bagaimana aku bisa tenang, Will. " Alish berusaha untuk turun walau badannya benar-benar lemas.
" Kakak ipar jangan gegabah,,, jaga kandungan Kakak. " Alish terdiam seketika.
Kakinya sudah turun separuh dari brankar, dia lalu menoleh kearah William penuh tanya.
" Kandungan,,,? " William mengangguk.
" Kakak ipar tadi pingsan dikamar Hyeong. Dan setelah diperiksa,, ternyata Kakak sedang mengandung. "
Alish kembali menangis,, dan semakin kencang hingga bahunya bergetar. William bingung,, tangannya menggaruk tengkuk lehernya.
__ADS_1
" Kakak ipar kenapa menangis,,? Apa Kakak tidak bahagia dengan kehamilan Kakak,,,? " tanya Waktu bingung.
" Kakak bahagia, Will. Sekaligus Kakak sedih,, karena harus mengurus kehamilan ini seorang diri. " Alish terisak.
" Kenapa seorang diri,,,? " William semakin bingung dan semakin menggaruk tengkuk lehernya.
" Kakak tadi pingsang karena Kakakmu tiba-tiba,,,, " Alish kembali menangis sambil menunduk.
" Hyeong,,,? Hyeong kenapa,,,? Dia bahkan sudah melewati masa kritisnya. Dan sekarang sudah pindah ke ruang perawatan VVIP. " sahut William dengan polosnya.
Alish seketika langsung menoleh dan menatap William dengan tajam. Tangisnya seketika berhenti.
" Apa maksud mu, Will,,? " tanya Alish bingung sementara William tersenyum.
" Hyeong sudah membaik Kakak ipar,, dan dia sudah melewati masa kritisnya. Saat ini Hyeong sudah pindah ruangan ke ruang VVIP satu. Mama dan Rayhan sedang menunggu nya. Mama menyuruhku untuk menjagamu. " jelas William.
Alish kembali menangis,, namun kali ini tangisan bahagia sekaligus lega. Suaminya tidak jadi pergi.
" Tapi tadi,,,, "
" Memang tadi detak jantung Hyeong sempat menghilang,, namun ternyata keajaiban datang. Hyeong kembali bahkan sadar dari komanya. Saat ini dia masih tertidur. " William memotong ucapan Alish.
Seakan mendapat kekuatan, Alish pun turun dapat turun dari ranjang lalu berjalan mendekat kearah William berdiri. William sempat terkejut.
" Antar Kakak kesana, Will. "
" Tapi,,, "
" Kakak Mohon,,, " pintar Alish lirih.
William menghela nafas panjang. William harus bisa lebih sabar menghadapi suami istri yang sangat keras kepala tersebut.
" Baiklah,, Kakak ipar tunggu sebentar disini. "
Alish mengangguk,, lalu William keluar dari ruangan. William kembali masuk beberapa saat kemudian dengan membawa kursi roda.
" Kakak ipar naik,, Will akan membawa Kakak kekamar Hyeong. "
" Tapi Kakak masih kuat berjalan, Will. " protes Alish.
" No,,!!. Naik ke kursi roda atau tetap dikamar. " tegas William.
Dengan terpaksa,, Alish pun duduk di kursi roda tersebut. Dengan perlahan, William mendorong nya dan membawanya ke kamar Zehan dirawat.
Jantung Alish berdetak sangat kencang. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suami tercintanya. Seminggu lebih, Alish menunggunya.
Bahkan tangan Alish perlahan mengusap lembut perutnya yang sedikit menonjol. Alish benar-benar lupa, kalau dia sudah dua bulan tidak datang bulan.
" Will,,, "
" Hemm,,, "
" Berapa usia kandungan Kakak,,? " tanya Alish.
" Dokter tadi belum bisa memastikan, karena harus USG terlebih dahulu untuk lebih jelasnya. Namun menurut Dokter tadi, perkiraannya kurang lebih hampir tujuh minggu. " jawab William jujur,, sesuai ucapan Dokter tadi yang memeriksa Alish. Alish tersenyum lebar.
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa untuk like, Vote dan comment nya. Masukkan juga kedalam favorit dan tekan bintang lima,, sebagai dukungan untuk othor.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌***
__ADS_1