
Masih Zehan Pov,
Aku akui,, dulu aku sangat tidak berbakti. Kasar pada orangtua dan tidak ada sopan santun sama sekali. Setelah kecelakaan itu, entah kenapa, aku merasa sadar. Aku ingin berubah, aku merasa malu dengan semua sifat dan sikap buruk ku dulu.
" Terimakasih, Tuhan. Kau sudah memberikan kesempatan kedua untukku kembali hidup dan berubah. Aku janji, akan menjadi manusia dengan kepribadian yang baik dan sabar. " ucapku dalam hati.
Aku kembali memejamkan mata dan tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur,, saat mataku terbuka, sudah ada Bi Minah dan Paman Rahmad.
" Bi,, " panggil ku lirih.
Kulihat Bi Minah menoleh kearahku dan mendekat keranjangku.
" Udah bangun, Den,,. "
Aku tersenyum kecut mendengar Bi Minah memanggilku dengan sebutan Aden, seperti para pelayan yang lain.
" Jangan panggil Ze seperti itu, Bi. Kalian bukan pelayan bagi Ze. "ucapku masih dengan suara lirih.
Bi Minah tersenyum bahagia.
" Akhirnya,, anak yang ku asuh sejak dulu, telah kembali. Terimakasih,, sudah mau bertahan, Nak. "
Bi Minah mengusap pucuk kepalaku lembut,, seperti dulu. Aku memejamkan mataku, kembali merasakan kasih sayang yang sudah lama tidak kurasakan.
" Papa dan Mama kemana, Bi,,? " tanyaku karena melihat tidak ada mereka disini.
" Tuan dan Nyonya baru saja pulang, Ze. Gantian biar mereka yang beristirahat, dan kami yang menjagamu. " jawab Bi Minah seraya meletakkan makanan yang dibawanya diatas nakas.
" Paman mana, Bi,,? " tanyaku lagi.
" Ze,, " panggil Paman Rahmad seraya menghampiri ranjangku.
Aku berusaha untuk duduk, tapi masih terasa lemas. Tanpa ku beritahu, Paman Rahmad membantuku sedikit menaikkan ranjangku.
" Terimakasih, Paman. " ucapku tulus.
Paman Rahmad tersenyum.
" Bagaimana keadaanmu, Nak,,? " tanya Paman Rahmad lembut.
" Badanku terasa sakit dan ngilu semua, Paman. " jawabku sambil meringis menahan nyeri dan ngilu yang kembali datang.
" Yang sabar ya, Nak. " ucap Paman Rahmad dan aku hanya bisa mengangguk.
" Ze mau makan,,? " tanya Bi Minah. Dan aku kembali mengangguk.
__ADS_1
" Boleh, Bi. Rasanya sudah lama sekali, Ze tidak makan masakan Bibiku yang tersayang ini. " jawabku dan sedikit menggoda Bi Minah.
" Aih,,, anakku sudah bisa menggoda. Berarti kau sudah sembuh, Nak. " Bi Minah terkekeh, aku hanya bisa tersenyum.
" Mau Bibi suapin, Nak,,? " Aku mengangguk.
Aku ingin kembali merasakan dimanja dan disayang seperti masa kecil dulu. Bi Minah mulai menyuapi ku perlahan. Walau mulutku terasa pahit, tapi makanan itu masih tetap ku kuyah dan kutelan.
Bi Minah memberikan air minum begitu aku selesai makan. Bi Minah tersenyum padaku dan aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum pula.
" Paman,, " panggil ku.
Paman Rahmad kembali mendekat dan duduk di kursi samping ranjangku.
" Paman,, Bibi,, Ze minta maaf. Karena selama ini, Ze sudah banyak berbuat salah dan kasar pada Paman dan Bibi. Maafkan Ze yang sudah menyinggung dan menyakiti hati kalian berdua. " ucapku pelan dan lirih.
Aku menahan air mataku yang sudah mulai menggenang.
" Tanpa kau minta maaf, kami sudah memaafkan mu, Nak. Kau masih muda, masih labil emosimu, dan kami memahami itu. Kami senang karena saat ini kau sudah sadar, dan kau kembali seperti Ze kecil kami dulu. Lagipula,, bukankah sebelum ini, kau juga sudah minta maaf pada Paman,,? ".
Aku tersentak kaget, karena aku merasa tidak pernah melakukan nya. Ku lirik Bi Minah mendelik tajam pada Paman dan Paman menutup mulutnya dengan keempat ujung jari tangannya.
" Maksud Paman apa,,? " tanyaku bingung.
Tampaknya Paman Rahmad menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak mau memaksanya. Aku menuruti ucapan Paman Rahmad untuk minum obat lalu kembali beristirahat. Aku memejamkan mataku dan kembali lagi kedunia mimpiku.
****
Author Pov,,
Minah mendekat kearah Rahmad, dan menyenggolnya pelan. Rahmad terkekeh seraya menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.
Seminggu kemudian,,
Zehan sudah boleh pulang kerumah dengan syarat masih belum boleh melakukan kegiatan yang berat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran.
Rahmad mendorong kursi roda Zehan pelan masuk kedalam rumah. Rumah yang terakhir kali dia pergi setelah bertengkar dengan sang Mama.
Air mata kembali menggenang dimata Zehan. Rahmad terus mendorong masuk kedalam kamar Zehan, yang untuk sementara dipindah kebawah.
Rahmad membantu Zehan pindah ke ranjang tidurnya. Zehan bukannya lumpuh, hanya saja dirinya masih terasa lemas bila terlalu lama berdiri.
" Kamar ku yang diatas masih seperti dulu, Paman,,? " tanya Zehan seraya menyandarkan punggungnya di dashboard ranjang. Rahmad tersenyum.
" Masih sama seperti sebelum kau pergi malam itu. " jawab Rahmad.
__ADS_1
" Kalau jaket dan kaos kesayanganku apakah masih ada Paman,,? "
Untuk sesaat, Rahmad terdiam. Raut wajahnya berubah.
" Maafkan Paman. Jaket dan kaos itu sudah rusak. Banyak bagian yang sobek dan terkena darah. Kami terpaksa membuangnya. " jawab Rahmad pelan.
Zehan menundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang. Jaket kesayangan nya sudah tidak ada.
" Ini semua kesalahan ku. Aku tidak berhak lagi untuk marah. Aku benar-benar sangat menyesalinya. " batin Zehan sedih.
" Maafkan Paman ya, Ze. " ucap Rahmad, merasa bersalah. Zehan menggeleng pelan.
" Tidak apa-apa, Paman. Ini bukan salah Paman, ini semua salah Ze. Paman jangan minta maaf. Yang lalu biarlah berlalu, saat ini, Ze hanya ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar. " jawab Zehan.
" Ya sudah,, Paman tinggal dulu. Kau istirahat saja ya. "
Zehan mengangguk dan Rahmad pun keluar dari dalam kamar Zehan. Tak lupa juga, ditutup pintu kamar itu.
Zehan kembali menghela nafas penuh penyesalan. Zehan kembali mengingat mimpinya selama seminggu ini. Mimpi yang sama dan gadis yang sama.
Semakin lama, wajah gadis itu semakin jelas dalam mimpi Zehan. Hanya saja, sampai sekarang Zehan masih belum bisa mengingat siapa gadis itu.
Sementara itu,, keadaan Alish setelah sepuluh hari ditinggal Zehan pergi, dia berubah menjadi sosok yang pendiam.
Hanya dengan orang tertentu saja, Alish bersikap ramah dan ceria. Salah satunya Bunda dan adik-adik nya di yayasan.
Alish masih tetap melakukan kegiatannya membantu Nenek Iyum, si penjual sayur dan Yoga, siapa anak kecil pemulung. Semua Alish lakukan untuk tetap terus teringat dengan Zehan.
****
~~ **Bersambung
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌****
****
__ADS_1