The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 42


__ADS_3

" Kita ke butik sebentar lalu mampir ke salon. Walaupun hanya nikah secara agama, tapi aku mau kau tetap terlihat cantik seperti para pengantin lainnya. "


Alish hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Alish masih terlalu terkejut, karena sebentar lagi, dia akan segera menikah.


" Apa kau tidak ingin memberitahu Bunda,,? " tanya Zehan membuat Alish menepuk pelan dahinya. Zehan terkekeh melihatnya.


Alish segera menghubungi Bunda Ani dan memintanya untuk segera datang. Karena memang jarak yang agak lumayan jauh kalau dari Yayasan kerumah Alish.


Setelah menghubungi Bunda Ani, mereka pun segera berangkat ke butik lalu ke salon. Zehan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memilih butik yang berada tidak terlalu jauh dari toko Alish, karena waktu yang mepet.


Sesampainya dibutik, Zehan menggenggam tangan Alish saat masuk kedalam. Alish sedikit merasa canggung karena memang belum terbiasa.


" Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu,,? " sapa salah satu karyawan butik itu.


" Malam, Mba. Saya mau mencari kebaya pernikahan untuk calon istri saya ini, dan akan dipakai saat ini juga. Apakah ada,,? " jelas Zehan.


" Ada, Tuan. Mari silahkan ikut saya, Nona. " ajak karyawan itu.


" Dengan jas nya sekalian untuk saya, ada Mba,,? " tanya Zehan.


" Ada, Tuan. Mari,, silahkan. " karyawan itu membawa masuk kedalam dan memperlihatkan beberapa model kebaya modern dan terlihat sederhana namun elegan.


Zehan memperhatikan satu persatu, hingga pilihannya jatuh pada sebuah kebaya putih panjang.



Zehan juga memilih jas untuk dirinya sendiri. Walaupun dia sudah mempunyai banyak jas, tapi hanya beberapa saja yang dibawa kerumah Alish. Yang lainnya ditinggal dirumah orangtuanya.



Zehan memilih jas berwarna hitam, warna serupa untuk kain bawahan kebaya Alish. Mereka pun mencobanya di kamar ganti.


Begitu mereka keluar dari kamar ganti, baik Alish maupun Zehan sama-sama saling mengagumi.


Zehan mengagumi kecantikan alami yang dimiliki Alish, sementara Alish mengagumi ketampanan Zehan. Zehan memang sudah tampan dan dia semakin tampan saat menggunakan jas.


" Saya mau ini dan ini. " ujar Zehan.


" Baik, Tuan. Silahkan membayar dikasir. " sahut karyawan itu.


Zehan segera menghampiri kasir sementara Alish menunggu salah satu karyawan yang sedang memasukkan baju ganti mereka kedalam paperbag.


Zehan membayarnya dengan menggunakan kartu ATM yang diberikan oleh sang Mama, karena memang itu alasannya dia mau menerima kartu dari sang Mama. Untuk keperluan Zehan menikah.


Setelah membayar, Zehan kembali menggenggam tangan Alish saat keluar dari butik, berjalan menuju mobilnya.


Zehan kembali menjalankan mobilnya menuju salaon yang berada tidak begitu jauh dari butik tersebut. Zehan sengaja tidak berjalan kaki, karena melihat Alish yang sedikit kerepotan saat berjalan.


Zehan dan Alish masuk kedalam salon. Dan disambut oleh karyawan pria yang terlihat sangat gemulai.

__ADS_1


" Malam, Cin. Ada bisa eike bantu,,? " tanya pria gemulai itu.


" Malam, Mas. Saya mau calon istri saya ini di make-up, tipis saja tapi tetap harus cantik. " jawab Zehan.


" Aduhhh, Cinn. Masa eike udah cantik begindang masih dipanggil Mas, sih,,? Panggil eike Marisa. " sungut pria gemulai itu.


" Ohh, Oke,,Marisa. Bisa kan calon istri saya ini di make-up,,? " sahut Zehan sedikit bergidik geli.


" Bisa dong, Cin. Yuk say,, capcus. " Marisa meraih tangan Alish dan mendudukannya disalah satu kursi.


Tangan gemulainya, mulai memake over wajah Alish. Dengan lincah, tangan gemulai itu membersihkan wajah Alish terlebih dahulu, baru kemudian diikuti dengan yang lain.


Setengah jam lebih, Zehan menunggu. Dan waktu isya sudah lewat sejak tadi. Zehan sedikit gusar karena merasa tidak enak, karena dia sudah berjanji dengan Pak RT.


Tak lama kemudian,,


Alish berdiri dihadapan Zehan yang sedang fokus melihat jam dari ponselnya.


" Ehemm,,, " Marisa berdehem membuat Zehan mengangkat wajahnya.


Zehan terpana seketika. Matanya tak berkedip saat menatap wajah Alish, membuat Alish menjadi malu.


" Hello,,,!!! " suara gemulai Marisa menyadarkan Zehan.


" Gimana, Cin,,? " tanya Marisa.


" Oke. Saya suka, terimakasih untuk kerja sama nya. " ucap Zehan.


" Saya akan membayar. "


" Cuss,,, ikut eike. " Zehan mengikuti Marisa.


Zehan kembali menggunakan kartu ATM dari sang Mama. Terlihat Marisa memencet beberapa angka lalu menggesekan kartu ATM milik Mama Zehan.


" Ini, Cin. Makasih ya, udah mau mampir ke salon eike. " ucap Marisa seraya menyerahkan kartu itu kembali ke Zehan.


" Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi. " Marisa mengangguk.


Zehan pun kembali menggandeng tangan Alish yang masih menunduk karena malu dan tidak betah karena wajahnya terasa berat. Maklum, Alish tidak pernah menggunakan make-up. Sehari-hari dia hanya menggunakan bedak bayi dan pelembab bibir.


Zehan membukakan pintu mobil dan menuntun Alish masuk kedalam mobil. Zehan sedikit berlari, memutar agar bisa masuk dan duduk di kursi pengemudi.


Zehan kembali menjalankan mobilnya kembali pulang kerumah Alish. Tak berapa kemudian, Zehan tiba dilapangan dekat rumah Alish dan sudah ada sebuah mobil mewah terparkir disana.


Zehan turun dan menghampiri mobil mewah tersebut. Zehan mengetuk pelan kaca belakang mobil tersebut.


" Ma,,. " panggil Zehan begitu kaca mobil itu terbuka.


Sabilla segera turun dari mobilnya dan langsung memeluk Zehan dengan erat.

__ADS_1


" Ze.. " panggil Sabilla lirih.


Paman Rahmad dan Bibi Minah pun ikut turun dari mobil dan menghampiri Zehan.


" Paman,, Bibi,,. " panggil Zehan setelah dia melepaskan pelukannya.


" Ze,,. " balas Rahmad dengan tersenyum.


" Mana calon menantu Mama,,? " tanya Sabilla membuat Zehan menepuk pelan keningnya.


Zehan melupakan Alish yang masih duduk didalam mobil. Zehan membuka pintu mobil dan membantu Alish turun dari mobil.


Dengan perlahan, Zehan menuntun Alish mendekat kearah sang Mama. Zehan juga membantu Alish memegang ekor kebayanya ynag cukup panjang.


" Ma,,. Ini Alish, calon mantu Mama. " Zehan memperkenalkan Alish pada sang Mama.


Sabilla menatap Alish dengan hangat dan lembut. Alish tersenyum, menambah cantik wajahnya. Alish segera meraih tangan Sabillan dan mengecup punggung tangannya dengan sopan, membuat Sabilla terharu.


" Malam, Tante. " ucap Alish lembut.


" Cantiknya calon mantu, Mama. Jangan Tante, sayang. Panggil Mama, sama seperti Zehan. " sahut Sabilla seraya membelai pipi Alish dengan lembut.


" Baik, Ma. " sahut Alish.


" Kamu masih ingat Paman Rahmad kan, Lish,,? Dan yang ada disamping nya itu, Bi Minah. Istri Paman Rahmad. "


Rahmad dan Minah mendekat ke Alish, dan lagi-lagi, Alish meraih tangan mereka berdua dan mengecup punggung tangan mereka secara bergantian. Sabilla memandang Alish dengan takjub.


" Selain cantik, dia juga ramah dan sopan. Semoga saja dia juga tidak matre. " ucap Sabilla dalam hati.


Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil juga berhenti tak jauh dari mereka. Bunda Ani turun dari mobil itu dan mendekat menghampiri Alish.


" Lish,,,. " panggil Bunda Ani.


******


~~ ****Bersambung lagi ah,,,,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌✌******

__ADS_1


****


__ADS_2