
***
**Assalamu'alaikum,, dan selamat pagi reader's.
Mohon maaf karena baru bisa update hari ini. Kemarin Kak Ull lagi kesel karena Kak Ull update novel Kak Ull yang lain, tentang '***-***' juga, udah empat kali ngetik, empat kali review,, dan empat kali juga ditolak. Kesel kan,,,?! Padahal kalau menurut Kak Ull, masih banyak tulisan lain yang lebih vulgar tapi bisa lolos. Jadi ngambek kan Kak Ull nya....
Jadi bikin Kak Ull down and males ngetik lagi selama beberapa hari ini. Sekarang Kak Ull mau coba ketik lagi tentang '***-***', ditolak lagi apa engga. Kita liat aja nanti ya,,
Happy reading aja eperybadeh**,,,
*****
" Sejak awal aku bertemu denganmu, saat masih dalam bentuk jiwa ataupun raga, hatiku sudah terpaut padamu. Namamu sudah terpatri disini dan wajahmu selalu ada disini. " ucap Zehan sambil menunjukkan ke dada dan kepalanya.
" Saat ini, aku benar-benar ingin kita menjalani kehidupan rumah tangga kita dengan sebagaimana semestinya. Seperti pasangan suami istri lainnya. Maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku,,? " jelas Zehan lalu bertanya pada Alish.
Alish terdiam untuk sesaat dan terus dengan menatap Zehan lekat. Dilihat keseriusan dalam tatapan maupun ucapan Zehan. Tanpa ragu lagi, Alish mengangguk lalu tersenyum.
" Aku mau. " jawab Alish dengan malu-malu lalu menundukkan kepalanya, membuat Zehan mengulum senyumnya.
" Kita bisa mulai malam ini,,,? " tanya Zehan dan lagi-lagi Alish hanya bisa mengangguk.
" Ta,, tapi, bukankah tadi Kakak bilang kalau kita mau belanja keperluan dapur malam ini,,? " tanya Alish dengan gugup, mengingatkan membuat Zehan menepuk dahinya pelan dan terkekeh.
" Maaf,,, aku lupa. Ya sudah,, ayo kita belanja dulu. " Zehan berdiri seraya mengulurkan tangannya.
Alish mengadahkan wajahnya dan menerima uluran tangan Zehan. Dia pun ikut berdiri. Zehan menggenggam tangan Alish.
Setelah membawa tas kecil yang berisikan dompet dan ponsel, Zehan menggandeng tangan Alish dan menuntun nya keluar dari kamar.
Zehan membukakan pintu mobil untuk Alish, setelah dia memastikan semua pintu dan jendela rumah terkunci.
Zehan membawa Alish ke salah satu supermarket terdekat. Bukan apa-apa, Zehan tidak mau kalau Alish sampai kecapean kalau jaraknya jauh dan membatalkan niatnya untuk melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri.
Satu jam kemudian,, setelah semua barang keperluan mereka terbeli, Zehan segera mengantri dikasir, sementara Alish masih sibuk melihat-lihat.
Zehan berharap, Alish juga membeli sesuatu untuk keperluan pribadinya sendiri. Tapi harapan hanya tinggal harapan, Alish hanya tertarik untuk melihat tanpa membeli.
__ADS_1
" Kamu tidak ingin membeli sesuatu,,? " tanya Zehan begitu dia sudah sampai didepan kasir, saat Alish menghampiri nya.
Alish menggeleng dan tersenyum.
" Aku tidak tertarik. " jawab Alish membuat Zehan menarik nafas panjang.
Setelah membayar, Zehan membawa banyak paperbag hingga membuatnya sedikit kesulitan. Alish pun tidak tinggal diam, dia mengambil beberapa paperbag dan membawanya.
Zehan menoleh kearah Alish sementara Alish hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun pergi menuju mobilnya. Dengan sedikit susah payah, Zehan akhirnya dapat membuka pintu bagasi mobil dan memasukan semua barang belanjaanya.
" Kenapa Kakak belanja begitu banyak,,,? " tanya Alish begitu mereka masuk kedalam mobil.
" Tidak apa-apa,,, untuk stok. " jawab Zehan dengan entengnya sambil melajukan mobilnya.
Alish terdiam, menurut nya Zehan terlalu boros. Sementara Zehan berpikir, dia tidak mau kalau Alish sampai hidup kekurangan dan berhemat seperti dulu lagi.
Sepanjang perjalanan, hingga mereka sampai rumah dan merapikan barang belajaan, Alish tetap diam, membuat Zehan menghela nafas saat memasuki rumahnya.
Setelah merapikan dan memasukkan barang belanjaan mereka pada tempatnya, Zehan menghampiri Alish yang sudah masuk duluan kedalam kamar.
Zehan memeluk Alish dari belakang dan mengecup bahu Alish dengan lembut. Dagunya bersandar dibahu Alish.
Ucapan dan perhatian Zehan membuat Alish terharu. Matanya mulai berkaca dan Alish menganggukkan kepalanya.
Zehan tersenyum dan membalik badan Alish. Diusapnya pelan airmata yang sudah menggenang dimata Alish. Zehan mengecup kedua mata Alish dengan lembut.
" Mulai detik ini, aku tidak mengijinkanmu mengeluarkan air mata. " ucap Zehan dan lagi-lagi membuat Alish terharu.
Kedua tangan Zehan menangkup dipipi Alish. Netral mereka bertemu dan saling menatap. Zehan kembali mengecup, dari mata, kening, hidung, pipi dan yang terakhir menempel dibibir Alish.
Untuk sesaat, Zehan mengecup bibir Alish. Dan merasa tidak cukup, Zehan kembali menempelkan bibirnya di bibir Alish. Dari mulai mengecup, men cium, hingga me ***** bibir itu dengan lembut.
Alish yang memang belum berpengalaman, hanya bisa terdiam tanpa membalas cium an Zehan.
Zehan menggigit bibir bawah Alish pelan membuat Alish sedikit membuka mulutnya. Merasa ada kesempatan, lidah Zehan segera masuk kedalam dan menyusuri rongga mulut Alish. Cium man yang panjang dan cukup panas.
Alish menepuk pelan dada Zehan saat dia merasa kehabisan nafas. Zehan segera melepaskan cium an nya dan tersenyum melihat Alish yang menghirup nafas banyak-banyak, seakan takut kehabisan.
__ADS_1
" Bernafas lah saat nanti kita melakukannya lagi. Kamu bisa mati kehabisan nafas kalau kamu menahannya. " ucap Zehan membuat wajah Alish merona.
Zehan kembali melanjutkan cium an nya setelah melihat Alish bernafas dengan normal. Walau masih kaku, Alish tidak merapatkan bibirnya seperti tadi hingga membuat lidah Zehan dengan leluasa masuk kedalam rongga mulut Alish.
Zehan melingkarkan tangannya dipinggang Alish, sementara tangan Alish melingkar di leher Zehan.
Suasana mulai memanas, saat tangan Zehan mulai berkelana menyusuri tubuh Alish. Dengan perlahan, Zehan menuntun Alish mendekat kearah ranjang tanpa melepaskan tautan bibirnya.
Zehan merebahkan tubuh Alish dengan perlahan diatas ranjang. Zehan berada diatas tubuh Alish dan menopang tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya.
Zehan melepaskan cium an nya untuk sesaat, nafas mereka saling memburu. Zehan menatap lekat Alish, membuat Alish kembali merasa malu. Zehan membelai lembut pipi Alish.
" Kamu yakin sudah siap melakukannya malam ini,,? " tanya Zehan dengan suara bergetar, karena menahan gai rah nya.
Alish mengangguk dengan wajah yang semakin memerah. Zehan tersenyum dan merapikan anak rambut Alish yang sedikit berantakan.
Zehan mengecup mata, kening, hidung, pipi dan berakhir di bibir. Zehan kembali ******* bibir Alish dengan lembut. Alish kembali mengalungkan lengannya dileher Zehan.
******
~~ **Bersambung ah,,,
Nanggung ya,,,,??? Emang sengaja, kan biar penasaran,, he,, he,, he,,
Besok Kak Ull lanjut ya,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌**
__ADS_1
****