
" Saya terima nikah dan kawinnya Ghaziyah Alishbah binti Abdullah dengan mas kawinnya tersebut dibayar tunai. " ucap Zehan dengan lantang dalam satu tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi,,? "
" SAH,, "
" SAH,, "
" SAH,,, "
" Alhamdulillah,,, "
Mereka pun membaca do'a yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Selesai membaca do'a, Alish meraih tangan Zehan dan mencium punggung tangannya, sementara Zehan membalasnya dengan mengecup pucuk kepala Alish lembut.
Zehan segera memakaikan cincin yang sudah dibelinya mendadak saat Alish sedang dirias. Alish pun sebaliknya, dia juga memakaikan cincin di jari manis Zehan.
Mereka saling melempar senyuman. Alish dan Zehan mendekat ke Bunda Ani dan Sabilla duduk. Mereka salim meminta do'a dan restu pada kedua wanita yang sangat berarti dalam hidup Alish dan Zehan.
" Bunda,,. Do'a kan yang terbaik untuk Alish dan Kak Zehan. Do'a kan kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Maafkan Alish, karena Alish belum bisa membantu banyak dan belum bisa membahagiakan Bunda. " ucap Alish sambil menunduk, mengecup punggung tangan Bunda Ani.
" Do'a Bunda selalu bersamamu, Nak. Kedua orangtua mu juga pasti bahagia apabila mereka melihatmu saat ini dan berbahagia. Pesan Bunda, Saat ini kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu. Surgamu ada di ridho suamimu. Hargai dia, layani dia, cintai dia dengan tulus dan ikhlas. Apabila ada masalah, bicarakan baik-baik. Jangan ikuti emosi sehingga menjadi negatif thingking. Jujurlah apa yang ada dalam hatimu, ungkapkan bila memang perlu untuk ditanyakan. Jangan memendam apalagi berpikiran buruk, itu hanya akan membuat rumah tanggamu justru seperti neraka. " nasihat Bunda Ani sukses membuat Alish meneteskan airmata.
" Ma,,. Terimakasih sudah menjadi Mama Ze. Terimakasih sudah mau datang merestui dan mendukung Ze. Mohon do'akan Ze dan Alish, semoga kami selalu bahagia. Selalu bersama dalam suka dan duka. Do'a kan semoga kami selalu mampu menghadapi setiap masalah dan cobaan yang datang dalam rumah tangga kami. Love you, Ma,,. " ucap Zehan sambil menatap sang Mama setelah dia mengecup punggung tangannya.
" Kau anak Mama satu-satunya, Ze. Mama selalu mendo'akan ynag terbaik untukmu. Jaga, lindungi dan sayangi Alish dengan sepenuh hati. Jangan pernah sekalipun bermain api walau sedikit, karena lama-lama api itu akan semakin besar. Hargai setiap perbuatan yang dilakukan istrimu. Puji dia walau dia hanya melakukan hal yang sederhana dan sepele. Karena itu akan membuat dia yakin kalau kau benar-benar tulus mencintai dia dan menerima apa adanya. Love you more, Ze... " Zehan mengangguk lalu memeluk san Mama. Air mata lolos begitu saja dari sudut matanya.
Alish dan Zehan juga menghampiri Paman Rahmad, Bi Minah, Pak RT, Pak Ustadz dan beberapa warga yang datang disana. Mereka berdua meminta do'a dan restu kepada semua yang ada dirumah Pak RT itu.
Zehan juga memberikan bingkisan dan amplop berisikan uang untuk Pak RT, Pak Ustadz dan beberapa warga lainnya. Untung saja, bingkisan yang dibawanya tadi cukup untuk semua.
" Terimakasih, Pak RT,, Pak Ustadz,,,. Maaf,,, apabila kami semua sudah merepotkan Bapak-bapak semua. Sekali lagi, terimakasih sudah mau hadir dan merestui pernikahan dadakan kami. Setelah semua berkas-berkas selesai, kami akan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Mohon do'a nya. " ucap Zehan dengan tulus dan sedikit membungkukkan badannya.
" Sama-sama, Nak Zehan. Kami justru senang, karena kamu mau tinggal disini dengan niat baik tanpa ingin menimbulkan fitnah. Jarang lho ada anak muda yang berpikiran seperti itu. Benarkah Pak Ustadz,,? " Ustadz Mahmud mengangguk sambil tersenyum.
" Alhamdulillah,,. Setidaknya kalian sudah halal kalau mau apa-apa, tidak takut dosa dan digerebek warga. " sahut Ustadz Mahmud.
__ADS_1
Semua yang ada disana tersenyum mendengar ucapan Ustadz Mahmud.
" Berhubung hari semakin larut, kami permisi dulu, Pak RT, Pak Ustadz, dan Bapak-bapak sekalian. Assalamu'alaikum,,,. " pamit Zehan.
" Wa'alaikumsalam,,,. " sahut mereka semua.
Zehan, Alish dan keluarga pun pergi meninggalkan rumah Pak RT. Mereka berjalan menuju lapangan, tempat mobil mereka terparkir.
" Mama tidak mau mampir,,,? " tanya Alish sopan. Sabilla tersenyum dan memegang pipi Alish.
" Lain kali saja, Nak. Ini sudah malam, lagipula Mama tadi pergi kesini tidak bilang pada Papa. Maafkan Papa Ze ya, Nak. " Alish mengangguk dan tersenyum.
" Alish mengerti, Ma. Mama hati-hati dijalan. Paman,, titip Mama ya. Jangan ngebut bawa mobilnya. " ujar Alish pada Rahmad.
" Iya, Nak. Sekali lagi, selamat ya, Nak. Semoga kalian bahagia, dan kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. " do'a Rahmad tulus.
" Aamiinn,,,. Terimakasih, Paman. " sahut Alish.
" Ze,, sekarang kau sudah menjadi seorang suami. Tanggung jawab mu bertambah. Senyum dan do'a seorang istri akan mendatangkan rezeki yang tidak terduga. Jangan pernah sekalipun menyakiti hati dan membuatnya meneteskan airmata. Karena dia terbuat dari tulang rusuk mu, yang berada dekat dengan hati. Yang harus selalu disayangi dan dicintai. Jaga dan lindungi dia. " nasihat Bi Minah.
" Terimakasih, Bi. " ucap Zehan dan dibalas Bi Minah dengan usapan lembut di punggungnya.
" Bunda,, pulangnya biar diantar Kak Zehan ya. " ucap Alish pada Bunda Ani.
" Tidak usah, Nak. Kasihan Zehan, dia pasti lelah karena mengurus semuanya sendiri tadi. Biar Bunda naik taxi saja. " jawab Bunda sambil tersenyum.
" Jangan dong, Bun. Ini sudah malam. Bunda diantar saja ya. " rengek Alish.
" Biar Bunda barena Mama saja, Lish. Kasihan Zehan kalau harus dipaksa anter Bunda. " ucap Sabilla sambil mengelus bahu Alish lembut.
" Benar, Ma,,? Apa ga ngerepotin Mama nantinya,,? " tanya Alish karena tidak enak dengan sang mertua.
" Tida apa-apa, sayang. Bunda ini sahabat lama Mama. Kami mau mengobrol dulu sebentar nanti di mobil, sambil mengenang masa lalu. " jawab Sabilla.
" Ya udah, deh. Makasih ya, Ma. Sudah mau anterin Bunda. "
__ADS_1
" Iya, sayang. Sama-sama. Sudah sana, kalian kembali kerumah, kalian pasti lelah. Istirahat dan jangan lupa makan malam dulu. Kalian pasti belum makan kan,,? " Zehan menepuk dahinya pelan.
" Maaf, Ma. Tadi Ze lupa mau beli makan sebelum acara akad. Saking semangatnya Ze, malah lupa. " Zehan cengengesan.
" Ihh,, kamu nih. Cepat pesan online saja, kasihan mantu Mama pasti lapar. " omel Sabilla sambil memukul lengan Zehan pelan.
" Iya, Ma."
" Ya sudah. Mama sama Bunda pulang dulu ya, Nak. Lain kali kami datang lagi. " pamit Sabilla.
" Iya, Ma,, Bun,, Hati-hati. " sahut Alish.
" Assalamu'alaikum,,, " ucap Bunda Ani sebely masuk kedalam mobil.
" Wa'alaikumsalam,,,. " sahut Alish dan Zehan.
Mereka berdua menatap mobil Sabilla yang beranjak pergi. Zehan menggenggam tangan Alish, dan menoleh kearahnya. Alish pun menatap Zehan dan tersenyum.
******
~~ **Bersambung lagi ya guy's,,,,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌**
****
__ADS_1