
Lagi-lagi, Alish menghela nafas panjang.
" Baiklah,,,. Tapi bila Kakak merasa lapar, Kakak bisa masuk dan mencariku atau Andi. " sahut Alish dan Zehan hanya mengangguk.
Alish pun beranjak pergi meninggalkan Zehan masih terus termenung, kembali masuk kedalam yayasan. Alish bingung dengan apa yang terjadi dengan Zehan setelah tadi berbicara dengan Andi.
Waktu beranjak dengan cepat dan hari sudah petang saat Alish dan Zehan pergi dari Yayasan dan kembali kerumah. Selama dalam perjalanan pulang, Zehan masih tetap terdiam hingga sampai dirumah.
" Kakak mau makan malam,,,? " tanya Alish begitu mereka sampai didalam rumah.
" Tidak. Aku hanya ingin istirahat. Aku merasa sangat lelah. " sahut Zehan pelan.
Alish tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia hanya membantu Zehan dengan menggelar selimut tebalnya sebagai alas tidur untuk Zehan. Begitu selesai, Zehan langsung merebahkan tubuhnya.
" Terimakasih,, " ucap Zehan lalu memiringkan badannya menghadap dinding.
Alish menghela nafas dan beranjak menuju dapur, membuat makan malam. Alish memisahkan sedikit makanan, takut-takut Zehan terbangun tengah malam dan merasa lapar.
Begitu selesai makan, Alish membersihkan diri sebentar lalu ikut merebahkan tubuhnya diatas kasur tipisnya. Tak butuh waktu lama, Alish pun mulai tertidur.
Tengah malam, Zehan terbangun. Lagi-lagi karena mimpi buruknya. Ingatan dari masa lalunya kembali datang dan kali ini lebih jelas.
Zehan merasa lapar karena sejak siang, dia tidak makan apa-apa.
Zehan beranjak bangun dan melangkahkan kakinya kearah dapur. Zehan mengernyitkan dahinya, melihat diatas meja ada makanan yang tertutup tudung saji.
Zehan menoleh kearah Alish yang tengah tertidur. Matanya berkabut karena merasa terharu dengan perhatian dari Alish. Zehan pun mulai makan makanan yang sudah disiapkan Alish saat Zehan tertidur tadi.
__ADS_1
Begitu selesai makan, Zehan menghampiri Alish. Zehan duduk disamping tubuh Alish. Masih seperti kemarin-kemarin,, Zehan tak pernah puas memandangi wajah cantik Alish yang sedang tertidur.
" Terimakasih,,,. Selama ini kau selalu baik dan perhatian padaku. Benar kata Andi, kau berhati mulia. Dan aku beruntung bisa bertemu dengan mu. Terimakasih, kau sudah mengajarkanku tentang kebaikan dan menolong sesama. Kau mengajarkanku belajar ikhlas dan sabar. Sebentar lagi aku akan segera pergi. Jika aku benar-benar pergi, apa yang akan kau lakukan, Lish,,? Apakah kau akan sedih,,,? Apakah kau masih akan mengingat ku,,? Entah mengapa disudut hatiku yang terdalam, aku tidak rela bila harus berpisah denganmu. Dan aku pun tidak tau, disaat aku sadar nanti, apakah aku akan bisa bertemu denganmu lagi,,? Apakah aku masih akan mengingat siapa dirimu,,? Aku benar-benar tidak tau, dan aku merasa berat meninggalkanmu sendirian lagi. " gumam Zehan seakan sedang berbicara dengan Alish.
Mata Zehan kembali berkabut. Entah kenapa, hatinya benar-benar berat dan terasa sesak jika harus membayangkan berpisah dengan Alish. Tangan Zehan menggantung didepan pipi Alish, dia merasa ragu untuk menyentuhnya. Air matanya menetes, membuat Zehan semakin tidak sanggup.
Zehan kembali ke tempatnya tidur. Dia menutup matanya dengan lengannya dan air mata masih menetes dari sudut matanya. Walaupun hanya sesaat, tapi kebersamaannya dengan Alish, menorehkan sedikit rasa yang berbeda dihatinya. Dan dia benar-benar berharap, saat dia sadar nanti, dia tidak akan melupakan Alish.
Tak lama kemudian, Zehan pun mulai terlelap.
Keesokan harinya,,
Zehan kembali mengikuti Alish yang berangkat kerja. Mereka berangkat setelah sarapan. Dan pagi itu, cuaca tidak terlalu bagus. Mendung dan gerimis mengawali hari itu. Zehan berjalan dibelakang Alish yang sedang memayungi dirinya dengan payung agar terlindungi dari air hujan. Zehan menatapnya dengan rasa yang sulit untuk diungkapkan.
Seketika Alish menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, membuat hati Zehan semakin tidak karuan. Merasa kagum, senang sekaligus sedih.
" Kenapa, Kak,,? " tanya Alish.
Zehan mendekat ke Alish. Zehan sangat ingin memeluk erat Alish, berharap untuk tidak berpisah dengannya. Tetapi ternyata dia hanyalah seorang pengecut, semua hanya angan-angan saja.
" Aku ingin bertanya. Seandainya,, ini seandainya lho. Seandainya suatu hari nanti, tiba-tiba saja aku menghilang, apa yang kau rasakan,,? " tanya Zehan pelan.
" Jika memang suatu hari nanti Kakak menghilang, dan itu merupakan tempat yang terbaik untuk Kakak, aku tidak apa-apa,aku ikhlas." jawab Alish.
__ADS_1
" Apakah kau akan sedih,,? " tanya Zehan lagi.
" Tentu saja aku sedih. Aku akan sendirian dan kesepian lagi. Tapiiiii,,,, bila memang tempat yang baru itu adalah yang terbaik untuk Kakak, aku merasa senang, karena setidaknya Kakak akan merasa lebih baik dan bahagia. " jawab Alish, menekankan kata tapi dan berusaha untuk tetap tersenyum. Walau dalam hatinya sedih dan sangat berat.
" Apakah kau akan melupakanku disaat aku sudah menghilang nanti,,? " tanya Zehan lirih dan dengan suara yang sedikit tercekat, menahan sedihnya.
Alish menggeleng pelan dan tersenyum dengan lirih.
" Aku tidak akan pernah melupakan Kakak. Do'a ku, dimana pun nanti Kakak berada, semoga itu adalah yang terbaik untuk Kakak. Dan semoga Kakak selalu bahagia. " ucap Alish dengan suara yang bergetar, berusaha menahan untuk tidak menangis.
" Terimakasih,,, " sahut Zehan parau.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju toko tempat Alish bekerja. Mereka diam selama sisa perjalanan ke toko. Tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing.
****
~~ **Bersambung,,
Jangn lupa mainkan jari kalian untuk menekan like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir di karya receh ku ini.
Jangan menghina bila tidak suka, karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor, karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
__ADS_1
❤❤❤✌✌✌**