The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 22


__ADS_3

Rahmad meraup wajahnya dengan kasar. Isak tangis mulai terdengar, bahunya pun mulai bergetar.


" Den,,,. Tanpa Aden minta maaf, Paman sudah memaafkan mu, Nak. Inikah yang membuatmu koma selama dua bulan lebih dan tidak bisa pergi dengan tenang,,? " ucap Rahmad pada kursi kosong sebelah Alish.


Air mata Zehan pun mulus mengalis di pipinya. Zehan menatap sendu kearah Rahmad.


" Terimakasih, Paman. " ucap Zehan pelan dan dengan suara yang bergetar.


Alish menoleh sekilas kearah Zehan dan melihat Zehan yang sedang menangis. Alish menghela nafasnya, dan dadanya menjadi sesak.


" Sebentar lagi,,, ya,, sebentar lagi dia akan pergi dan menghilang. Aku sedikit tidak rela, karena harus sendirian lagi. Tapi apa dayaku,, apalah diriku ini,, tidak ada artinya bagi dia. Entah mengapa, tetap saja hatiku terasa sakit dan sedih,,? " batin Alish lirih.


" Paman,,, " panggil Alish dan Rahmad pun menoleh kearah Alish.


" Kak Zehan bilang terimakasih. " lanjut Alish.


Rahmad terdiam dan hanya bisa mengangguk. Rahmad pun teringat terakhir kali melihat Zehan.


Flashback on,,


Rahmad Pov,


" Aden mau pergi lagi,,? " tanyaku lembut.


" Iya, Paman. Dan malam ini Ze ga pulang. " sahutnya.


" Kenapa Den,,? Bertengkar lagi dengan Nyonya,,? " tanyaku masih dengan suara lembut.


" Ya, begitu deh. " jawabnya cuek.


" Jangan begitu atuh, Den. Bagaimana pun juga Nyonya adalah Ibu kandung Aden. Tidak baik kasar pada orangtua. " ujarku menasehati.


" Ckk,, Paman ga usah ikut campur urusan Ze, Paman urusin aja tuh mobil. " sahutnya kesal dan kasar. Aku tersenyum.


" Itu memang tugas Paman, Den. Dan sudah menjadi tugas Paman juga untuk menasehati Aden untuk tidak bertindak kasar pada Nyonya. Dosa besar, Den,, bila kita menyakiti hati seorang Ibu, apalagi sampai membuatnya menangis. Seburuk-buruk seorang Ibu, dia tetaplah orang mulia bagi seorang anak, karena surga ada ditelapak kaki Ibu, Den. " nasihatku bijak.


Aku yang melihatnya sudah emosi dan kesal, semakin bertambah emosi dan kesal mendengar nasihatku .


Plakkk,,,

__ADS_1


Dia menamparku kencang hingga membuat tubuhku terdorong mundur beberapa langkah.


" Minggir,,!! Ze mau pergi. Sekali lagi Ze peringatkan Paman, jangan ikut campur urusan Ze. Ingat,,!! Posisi Paman disini hanya seorang sopir,, jangan terlalu ikut campur urusan majikan. Mengerti,,,!! " bentaknya kasar lalu masuk kedalam mobil.


Aku tersentak mendengar ucapan Zehan. Hatiku terasa sakit dan nyeri. Anak majikan yang aku asuh selama bertahun-tahun, tiba-tiba saja bertindak kasar. Bahkan menghinaku. Mataku mulai berkabut, dan dengan langkah gontai, aku membawa kakiku masuk kedalam dan menuju kamar.


Disaat akan menuju kekamar, tanpa sengaja aku melihat istriku yaitu Minah yang sedang menenangkan Nyonya Sabilla.


" Sampai kapan Ze akan seperti itu, Nah,,?" tanya Nyonya Sabilla sambil menangis.


" Sabar, Nyonya." jawab Minah.


" Aku tau, aku dan Ayah Ze sudah salah karena meninggalkannya dan aseakan tidak peduli padanya. Andai dia tau, kami pun terpaksa karena perintah dari Kakek Ze sendiri. Kami sangat menyanyangi nya, karena dia anak kami satu-satunya, Nah. " ujar Nyonya Sabilla masih terisak.


Minah hanya bisa terdiam, karena dia tau semuanya. Aku menarik nafas dan berjalan menghampiri Nyonya Sabilla yang masih menangis sementara Minah mengelus pelan punggung Nyonya Sabilla.


" Nyonya,,. " sapaku sopan.


Nyonya Sabilla dan Minah mengangkat wajah mereka dan melihat pipiku yang sedikit membengkak dan memerah. Kedua wanita paruh baya itu sedikit terkejut.


" Ze kemana, Mad,,? " tanya Nyonya Sabilla.


" Den Zehan pergi dengan mobilnya, Nyonya. " jawabku masih sopan.


Aku dan Minah memang suami istri hanya saja kami tidak mempunyai anak walaupun sudah puluhan tahun menikah. Oleh karena itu, kami sangat menyanyangi Zehan dan mengurusnya dengan telaten dan sabar seperti mengurus anak kandung kami sendiri.


" Tidak apa-apa, Bu. " jawabku.


" Kau tidak usah menutupinya, Mad. Aku tau, itu pasti anakku yang melakukannya, kan. " tebak Nyonya Sabilla.


Aku terdiam dan hanya menunduk. Sakit di pipiku tidak seberapa bila dibandingkan dengan sakit dihatiku.


" Maafkan anakku, Mad. " lanjut Nyonya Sabilla lirih. Aku tersenyum kecut dan menggeleng.


" Tidak apa-apa, Nyonya. Saya tau, Den Ze dalam keadaan emosi dan marah. Saya juga salah karena sudah lancang menasehati nya. " sahutku.


" Ckk,, sejak dulu kau selalu saja membela anak itu. Walaupun dia sudah salah, tapi kau tidak pernah marah ataupun kesal. " Nyonya Sabilla berdecak kesal.


" Itu karena saya tulus menyanyangi nya, Nyonya. Sejak masih kecil, saya membantu mengurusnya bersama Minah. Dia memang sangat manja. " jawabku tersenyum.

__ADS_1


" Terimakasih, Mad, Nah. Kalian sudah sangat membantuku mengurusnya. Menggantikan tugas yang seharusnya adalah tugasku sebagai seorang Ibu. " ucap Nyonya Sabilla kembali terisak.


" Anda meninggalkannya karena terpaksa, Nyonya. Dan bukan sepenuhnya salah Nyonya, keadaan lah yang membuatnya seperti ini. " ujar Minah.


" Sebaiknya kau mengantar Nyonya kembali ke kamarnya, Bu. " perintahku pada Minah.


Minah mengangguk dan menuntun Nyonya Sabilla kembali menuju kekamarnya. Sementara aku berjalan menuju kamar belakang sambil menghela nafas dengan kasar.


Tiba-tiba saja, aku merasa dadaku terasa sesak dan mendadak ada perasaan yang tidak enak. Pikiranku tiba-tiba saja langsung teringat pada Zehan. Karena tadi Zehan pergi dengan emosi dan melajukan kendaraan yang dengan kecepatan tinggi.


Dan benar saja,,


Disaat aku baru saja duduk diranjang, tiba-tiba saja telepon rumah berdering kencang.


Seketika, aku langsung berlari dan mengangkat telepon itu.


" Halo selamat malam,, dengan kediaman Lee. Ada bisa saya bantu,,? " sapaku sopan.


".... "


" Ya, benar. Zehan Lee putra tunggal keluarga ini. Ada apa ya, Pak,,? " tanyaku kembali merasa tidak enak.


".... "


Aku terdiam mematung, airmataku mengalir tiba-tiba. Gagang telepon itu terlepas seketika dari tanganku. Dadaku sesak dan hatiku sakit,, sangat sakit. Kepalaku menggeleng, tak percaya dengan apa yang kudengar.


****


~~ Bersambung,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌


****


__ADS_2