
** ***Maaf,,,kalau up nya telat.
Udah beberapa hari ini, badan lagi ga enak banget, mata bawaannya mau merem aja. Ga bisa diajak kompromi.*
~ Happy reading*** ~
***********
" Beberapa hari yang lalu, Kakak lewat sini, dan Kakak merasa sangat ingin masuk kedalam. Perasaan familiar dan nyaman saat melihat Yayasan ini, tapi lagi-lagi, sakit dikepala dan sesak didada Kakak kembali menyerang. "
" Hingga akhirnya, hari ini, Kakak memantapkan hati Kakak untuk datang kesini dan mencari tahu sendiri. Dan lagi-lagi, kamu,,, Andi. Baik dulu atau sekarang, kamu yang selalu membantu Kakak. Terimakasih,, " jelas Zehan panjang lebar.
Andi kembali tersenyum, kali ini terlihat hangat. Andi mengangguk.
" Sebenarnya beberapa hari yang lalu, saat Andi melihat Kakak melintas dan berhenti didepan Yayasan ini, Kak Alish sedang ada didalam. Hatinya sedang kacau dan tidak fokus. Saat Andi bertanya, Kak Alish berpura-pura kuat dan tegar. Padahal tanpa Andi tanya, Andi sudah tahu apa yang sedang Kak Alish pikirkan. "
" Saat itu sebenarnya Andi ingin memberitahu kan kalau Kakak akan segera datang, tapi Kak hanya bilang kalau dia tahu kabar Kakak baik-baik saja, Kak Alish sudah merasa tenang. "
" Kak Alish menyembunyikan perasaan nya yang sebenarnya. Andi tahu, Kak Alish sangat merindukan Kakak. Tapi Kak Alish berusaha untuk berpositif thinking, kalau Kakak sudah berada ditempat yang seharusnya. "
" Apa Kakak tahu, semenjak Kakak pergi, sikap Kak Alish berubah. Menjadi lebih tertutup dan pendiam. Lebih banyak melamun dan tidak fokus. Dan yang pasti, berat badan Kak Alish turun drastis. "
Mata Zehan berkaca-kaca mendengar penjelasan Andi. Hatinya terasa sakit dan nyeri mendengar keadaan Alish saat ini.
" Kakak merasa sangat bersalah, Ndi. Sebelum Kakak pergi, Kakak pernah mengatakan pada Alish, supaya dia jangan pernah melupakan Kakak. Tapi sungguh miris, justru Kakak sendiri yang melupakan nya. "
" Kakak sangat merindukan nya, Ndi. Sangat rindu. Apakah selama Kakak pergi, Alish kesepian? Bagaimana dengan makannya,? Apakah teratur,,? Hahh,,, maafkan aku, Lish. " ucap Zehan sendu.
Andi tersenyum kecil mendengar ucapan Zehan.
" Apa Kakak menyayangi Kak Alish,,? Kakak cinta Kak Alish,,? " tanya Andi tiba-tiba, membuat Zehan tersentak karena nya.
Zehan terdiam untuk sesaat. Untuk sesaat Zehan merasa ragu. Tapi mengingat kejadian beberapa bulan ini, Zehan menjadi yakin.
" Awalnya Kakak merasa tidak yakin, Ndi. Tapi kemudian, Kakak kembali mengingat kejadian selama beberapa bulan ini. Dan saat ini, Kakak merasa yakin. "
" Ya,,, Kakak menyanyanginya, dan mencintainya. Kakak merindukannya. Kakak sangat ingin bertemu dengan nya dan segera memeluknya. " jawab Zehan dengan yakin nya.
Andi tersenyum lebar. Dia juga merasa bahagia apabila Kakak angkatnya itu bahagia. Tapi untuk sesaat kemudian,,
" Lalu bagaimana dengan keluarga Kakak,,? " tanya Andi tiba-tiba.
" Maksud Andi,,,? " Zehan mengerutkan dahinya hingga kedua alisnya menyatu.
__ADS_1
" Kakak tahu sendiri, kalau Kak Alish anak yatim piatu dan hanya anak asuh di Yayasan Bunda ini. Apakah keluarga Kakak bisa menerima keadaannya itu,,? Apakah mereka akan membuka pintu rumah mereka dan menerima Kak Alish dengan tangan terbuka,,? Dapatkah mereka juga menyayangi Kak Alish dengan tulus, bukan karena paksaan dari Kakak,,? " tanya Andi.
Zehan terdiam terpaku. Benar-benar tidak menyangka kalau Andi akan mengungkit hal itu. Hatinya membenarkan apa yang ditanyakan Andi.
" Andi benar,,. Bisakah Mama dan Papa menerima keadaan Alish yang yatim piatu dan hanya anak asuh di Yayasan ini,,? Aku melupakan hal itu. " ucap Zehan dalam hati.
" Andi tahu, Kakak berasal dari keluarga berada. Bahkan sangat berada. Berbeda jauh dengan kami. Kakak berasal dari keluarga kaya raya dan sangat terpandang, bisakah keluarga Kakak menerima Kak Alish yang bukan siapa-siapa,,? " tanya Andi lagi.
Zehan kembali terdiam dan merenung.
" Bisakah Kakak meyakinkan keluarga Kakak? Dan bisakah Kakak menjanjikan hal itu pada Andi,?" tanya Andi lagi.
" Kak Alish adalah keluarga Andi. Andi ingin melihat Kak Alish bahagia dengan orang yang sangat disayanginya. Dan keluarga laki-laki itu bisa menerima Kak Alish apa adanya. Bisakah Kakak berjanji, ? " tanya Andi dengan suara parau.
Zehan menatap Andi yang juga balik menatapnya dengan tatapan memohonnya. Zehan pun meyakinkan hatinya, untuk berjuang mempertahankan cintanya pada Alish dan membuat keluarga nya mau menerima Alish apa adanya.
Zehan mengangguk pasti dan meyakinkan Andi.
" Kakak janji. Kakak akan membahagiakan Alish. Dan Kakak juga akan berusaha agar keluarga Kakak mau menerima Alish apa adanya. " janji Zehan, dan Andi tersenyum.
" Baiklah,,. Andi pegang janji Kakak. Sekali saja, Kakak menyakiti Kak Alish dan membuatnya menangis, Andi pastikan, Kakak tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Kak Alish. Ingat itu,,?! " ancam Andi.
Zehan mengangguk lalu berdiri.
Andi mengangguk, lalu menggandeng tangan Zehan dan membawanya masuk kedalam Yayasan, untuk menemui Bunda Ani.
Zehan memberikan sumbangan berupa uang untuk membantu Bunda Ani mengurus Yayasan. Dan juga mengatakan akan menjadi donatur tetap untuk Yayasan Kasih Bunda itu.
Bunda Ani terharu, menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Terimakasih, Tuan. " ucap Bunda Ani.
" Sama-sama Bunda. Dan jangan panggil saya, Tuan. Panggil saja saya Zehan. "
" Baiklah,,. Terimakasih Nak Zehan. Ayo anak-anak,, bilang sama Om ini,,? " tanya Bunda Ani pada anak-anak asuhnya.
" Terimakasih,,, Om,,!! " seru mereka kompak.
" Sama-sama,,. Tapi panggilnya jangan Om. Panggil aja, Kakak. Sama seperti kalian memanggil Alish dengan sebutan Kakak. Oke,,? " sahut Zehan.
" Oke, Kakak,,!! " seru mereka lagi dengan kompaknya.
Bunda Ani terkejut mendengar Zehan menyebut nama Alish.
__ADS_1
" Nak Zehan kenal Alish,,,? " tanya Bunda Ani.
Zehan tersenyum dan mengangguk.
" Saya kenal Alish, Bun. Dan dia adalah malaikat penolong saya. Kalau begitu, saya permisi, Bunda. Saya ingin menemui Alish. " jawab Zehan.
" Baiklah, Nak. Salam untuk Alish. Sekali lagi terimakasih, dan hati-hati dijalan. " sahut Bunda Ani seraya tersenyum.
Zehan mengangguk dan beranjak pergi sambil melambaikan tangannya pada anak-anak. Anak-anak itu membalasnya sambil berseru,,
" Bye, Kak. Hati-hati,,, dan jangan lupa main lagi kesini. " Zehan mengangguk.
Zehan masuk kedalam mobil dengan senyum sumringah nya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alish.
Zehan melajukan mobilnya menuju rumah sederhana milik Alish. Zehan berlari menuju rumah Alish begitu turun dari mobilnya. Mobilnya terpaksa diparkir dilapangan, agak lumayan jauh dari rumah Alish.
Zehan berhenti didepan rumah Alish dengan nafas yang terengah-engah. Dengan sedikit membungkukkan badannya, Zehan meluruskan kakinya dan menunduk sambil mengatur nafasnya.
Zehan kemudian berdiri tegak didepan rumah Alish dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Rumah yang selalu hadir dalam mimpinya. Rumah yang ditempati nya beberapa bulan lalu saat jiwanya masih berkelana. Rumah yang sangat dirindukan nya.
Dengan tidak sabar, Zehan mengetuk pintu rumah Alish. Setelah menunggu beberapa saat, pintu masih tidak terbuka, yang menandakan tidak ada orang dirumah itu.
Zehan bergegas pergi, menuju toko tempat Alish bekerja. Toko yang pernah dilewatinya beberapa waktu lalu dan menatapnya saat dia berhenti di depan toko itu.
****
~~ *****Bersambung dulu ye,,
Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.
Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.
Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.
Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌*****
__ADS_1
****