
***Awalnya cerita kisah cinta William dan Rayhan mau othor pisah,, tapi berhubung ga ada yg comment dan yang read juga cuma sedikit,, jadi othor putuskan untuk terus berlanjut disini.
Happy reading All***,,
*
*
*
Beberapa bulan kemudian,,
Sejak kemarin, kesibukan terjadi di Mansion milik Mark Lee. Banyak orang lalu lalang mengerjakan banyak hal.
Ya,, hari ini adalah hari dimana acara tujuh bulanan kehamilan Alish. Walaupun Mark dan Sabilla berbeda keyakinan dengan Alish dan Zehan, namun mereka berdua tetap menghormati keinginan Zehan.
Disaat Zehan memberitahu kan rencana membuat acara pengajian untuk tujuh bulanan Alish, kedua orangtua nya begitu antusias ingin ikut dalam acara tersebut.
Bahkan, Mark sendiri yang menginginkan acara itu dilangsungkan di Mansion miliknya. Zehan mengundang anak yatim dan piatu untuk acara tersebut.
Zehan memilih Yayasan milik Bunda Ani, sementara Mark menyuruh Rahmad untuk mengundang anak-anak yatim-piatu yang berada di kampung yang berada di belakang Mansion miliknya.
Alish dan Zehan memilih nuansa putih untuk acara tersebut. Bahkan Sabilla ikut menggunakan sebuah Gamis berwarna putih, walaupun sederhana namun masih terlihat elegan.
Keluarga Choi pun ikut hadir dalam acara itu. Mereka juga menggunakan baju berwarna putih untuk menghormati Tuan rumah. Bahkan Mommy Sarah sudah tidak sabar menanti kelahiran anak Alish.
Mommy Sarah juga sudah beberapa kali memaksa William untuk segera menikah. Karena dia juga ingin segera mempunyai cucu. Namun William masih bersikeras menolaknya dengan berbagai alasan.
Kita kembali ke acara,,,
Zehan dan Alish membagikan bingkisan berupa perlengkapan sekolah, nasi box dan sebuah amplop, saat acara pengajian sudah selesai. Bahkan Alish dan Zehan membelai lembut kepala anak-anak tersebut dengan penuh kasih, setelah mereka bersalaman.
Wajah keduanya terlihat sangat bahagia. Senyuman menghiasi bibir keduanya. Begitu pun juga dengan Papa Mark dan Mama Sabilla.
William yang sejak tadi gelisah, perlahan mendekat kearah Zehan. Mulutnya sudah gatal ingin bercerita pada Kakak Sepupunya itu.
" Hyeong,,, " bisik William saat sudah berada di samping Zehan.
" Hmm,,, " sahut Zehan singkat, tangannya masih sibuk bersalaman dan membelai kepala anak-anak yatim-piatu tersebut.
" Aku ingin bicara. " bisik William lagi.
" Oke,, tapi nanti. " William mendengus kesal. Dia pun kemudian menjauh, sambil menanti acara itu benar-benar selesai.
Wajah William menekuk kesal. Matanya menatap tajam Zehan, sementara yang ditatap hanya masa bodo. Rayhan hanya melihat William sambil mengulum senyumnya.
Beberapa saat kemudian,, acara pun selesai. Anak-anak yatim-piatu sudah pulang, kembali kerumah masing-masing. Begitu pun juga dengan Bunda Ani.
Walaupun sebenarnya Mama Sabilla masih ingin mengobrol dengan Bunda Ani. Namun karena anak-anak sudah terlihat lelah, mau tidak mau, Mama Sabilla pun mengijinkan mereka untuk pulang.
Wajah William langsung berubah sumringah. Dia kang menarik tangan Zehan dan membawanya ke ruang kerja milik Papa Mark.
" Kakak ipar,,. Aku pinjam Hyeong sebentar. " seru William sambil terus menarik tangan Zehan.
Alish hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia sedang mengobrol dengan Mommy Sarah dan Mama Sabilla.
" Ada apa,,? " ketus Zehan dengan kesal setelah mereka masuk.
William tidak menjawab, dia justru duduk disofa yang berada didalam ruangan kerja Papa Mark. Zehan menghela nafas panjang lalu ikut duduk disofa tersebut.
" Ada apa,,? " Zehan mengulang pertanyaan nya setelah dia duduk.
" Apa Hyeong masih ingat dengan kejadian saat aku hampir kecopetan,,? " William balik bertanya dan Zehan mengangguk.
" Hyeong masih ingat saat aku menghubungi Hyeong dan bicara tentang seorang gadis yang menolongku,,? " lagi-lagi Zehan mengangguk.
__ADS_1
" Lalu,,,? " tanya Zehan, William menghela nafas.
" Aku sepertinya jatuh cinta padanya. " ucap William pelan.
Zehan terdiam untuk sesaat, namun tak lama, tawanya memenuhi ruangan tersebut. Membuat William kesal dan merengut.
" Jinjja,,? " ( Benarkah,,? )
William segera mengangguk dengan tegas membuat Zehan menghentikan tawanya.
" Ceritakan,,. " William pun menceritakan awal kisah kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu, tepat dua bulan sebelum acara tujuh bulanan Alish.
*
*
Flashback on,,
*
*
" Terimakasih untuk kerjasamanya, Tuan Choi. " William dengan terpaksa menjabat tangan kliennya.
Mereka baru saja menandatangani kerjasama. Proyek mereka memang bagus, hanya saja William sedikit kesal dengan tempat pertemuan nya itu.
Kliennya memilih tempat yang jauh dari kata mewah atau pantas untuk meeting. Saat ini, Williams berada di sebuah restoran kecil yang berada jauh dari pusat kota.
Dengan terpaksa, William datang karena memang harus tanda tangan. Senyum pun dia lakukan dengan sangat terpaksa.
" Chris,,, " William memanggil asistennya.
" Ya, Tuan,,? ".
" Baik, Tuan. "
" Baru kali ini aku menemukan klien yang benar-benar pelit. Memilih tempat seperti ini. " gerutu William kesal. Sementara sang asisten hanya bisa diam.
" Kau duluan saja, aku ingin ke toilet dulu. " lanjut William.
" Baik, Tuan. " sahut Chris.
Dia pun kemudian keluar dari restoran itu lalu menunggu didalam mobil, sementara William pergi ke kamar mandi.
Dan lagi-lagi, William kembali merasa kesal, karena toiletnya hanya ada satu. Itupun terlihat kotor, menurut William.
Daripada kantung kemihnya penuh dan sakit, dengan terpaksa William tetap menggunakan toilet tersebut.
" Benar-benar sial,,. " gerutu William sambil keluar dari restoran itu.
William mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas. Baru saja William ingin menekan nomer di ponselnya, tiba-tiba saja,,
Sreett,,,
Seseorang merebut ponselnya dengan sangat cepat dan kemudian berlari, membuat William bengong untuk sesaat.
" Sial,,,!! " ucap William saat dia sadar.
Dia pun mulai berlari mengejar orang yang mengambil ponselnya.
" Jambret,,,,!! " teriak William sambil berlari.
Chris keluar dari mobil saat dia melihat dari kaca spion William berlari menjauh dari restoran itu. Awalnya Chris bingung,, namun saat mendengar teriakan sang Bos, Chris pun ikut mengejar.
William tertinggal cukup jauh, dan dia terus saja menggerutu. William mendadak menghentikan larinya, saat dia melihat jambret itu terjatuh karena dihalangi kaki seseorang.
__ADS_1
William hanya diam dan melihat orang itu berkelahi dengan sang jambret. Perlahan, William mulai mendekat.
William terkejut saat jambret itu kalah dari orang yang berkelahi dengannya. Orang yang memakai topi dan berambut panjang itu, merebut ponsel William dari tangan penjambret.
Penjambret itu langsung lari, saat orang yang memakai topi berbalik badan. William berhenti saat orang itu menghampiri nya.
" Ini hapenya, Tuan. " William tersentak kaget saat mendengar suara orang itu.
Suara seorang gadis muda. Gadis itu menyerahkan ponsel William, sementara William masih diam karena kaget.
Gadis itu menjentikkan jarinya, berusaha menyadarkan William.
" Ehh,, terimakasih. " ucap William sambil menerima ponselnya dari tangan gadis itu.
" Lain kali, hati-hati Tuan. Tempat ini cukup rawan penjambretan dan pemalakan. " gadis itu menasehati. William mengangguk.
William menatap gadis itu untuk sesaat. Wajah yang cantik walaupun kulitnya sedikit gelap. Dan gadis itu membawa gitar dipunggung nya.
William kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan menyerahkan nya pada gadis itu.
" Ini untukmu, sebagai tanda terimakasih dariku. " Tapi gadis itu justru menggeleng sambil tersenyum membuat William terpukau melihat senyumannya.
" Tidak usah, Tuan. Saya ikhlas menolong anda. Lagi pula, saya hanya mencari pahala bukan mencari sedekah. " ucap gadis itu yang lagi-lagi membuat William tersentak.
" Saya permisi, Tuan. " pamit gadis itu.
William masih terdiam, dan saat gadis itu masuk kedalam sebuah bis, William baru tersadar.
" Ahh,, dasar bodoh. Aku lupa menanyakan namanya. " gerutu William.
" Anda tidak apa-apa, Bos,,,? " tanya Chris yang baru sampai dengan nafas yang terengah-engah.
" Benar-benar hari yang sial,,!! " maki William lalu berlalu meninggalkan Chris yang masih mengatur nafasnya.
Chris bengong melihat William yang terus menggerutu dan meninggalkannya. Dia kembali mengejar William, yang sedang menghubungi seseorang dari ponselnya.
" Hyeong,,,!! " seru William dengan kencang, membuat orang yang berada di seberang telepon menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Apa,,,??!! " balas Zehan tak kalah kencang.
" Hari ini aku benar-benar sial. Aku baru saja dijambret. " adu William sambil masuk kedalam mobilnya, diikuti oleh Chris.
Bukannya merasa prihatin, Zehan justru tertawa, membuat William semakin kesal.
" Bagaimana bisa,,,? " tanya Zehan.
" Aku ke kantormu, dan akan aku cerita kan disana. "
" Baiklah,,. " sahut Zehan lalu memutuskan panggilan telepon nya sepihak, membuta William kembali menggerutu.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌**
**
__ADS_1