
**
***Hai,, Hai,, jumpa lagi sama othor,,,.
Kemarin-kemarin othor nya kehabisan kuota internet,, jadi ga bisa up. Hari ini othor bisa up lagi walau dikit,, maklum,, dapet hotspot gratisan,, itu juga cuma bentaran. Harap reader's,, pada maklum ye,, he,, he, he,,
Happy reading***, **
*
*
*
Wajah Sarah sangat sendu. Dia sangat marah sekaligus sedih. William duduk tegak menghadap sang Mommy.
" Mom harus segera bicara dengan Papa. Mom harus berusaha agar Papa menerima pernikahan Hyeong dan membawa kembali Hyeong dan Kakak ipar ke Mansion Papa. " William berubah serius.
" Kau benar. Kapan kau akan kembali ke Indonesia,,? Mom akan ikut, dan bicara dengan Oppa. Berani sekali dia telah mengusir anak kesayangan ku dan membuatnya kembali menderita. Tidak akan Mom biarkan Oppa terus bertindak semaunya sendiri. " tegas Sarah membuat William tersenyum.
" Misi sukses,,,!! " batin William.
" Will akan kembali ke Indonesia sekitar dua minggu lagi, Mom. " William menahan tawanya.
" Baiklah,,. Mommy akan bilang pada Daddy, Mommy harus ikut. Mommy ingin melihat anak kesayangan Mommy yang disia-siakan Oppa. Mommy harus benar-benar melihat dengan kepala Mommy sendiri, benarkah Ze bahagia dengan pernikahannya atau tidak. " Mommy Sarah mengepalkan tangannya, menahan emosi pada sang Kakak.
" Baiklah, Mom. Will nanti akan menyuruh asisten Will untuk memesan tiket tambahan. " Mommy Sarah mengangguk.
" Ya sudah,,. Mommy kedalam dulu. Mommy benar-benar emosi mendengar ceritamu tadi. " Mommy Sarah beranjak dari duduknya lalu masuk kedalam.
" Sabar, Mom. Jangan terlalu emosi,, nanti wajah cantikmu penuh kerutan. " ledek William.
" Aishh,,, anak ini benar-benar,,,. " Mommy Sarah masuk kedalam rumah dan meninggalkan William yang masih terkekeh.
" Kau tenang saja, Hyeong. Mom pasti akan bisa membantu mu. Semoga kau selalu bahagia. " batin William senang.
*
*
*
Dua bulan kemudian,,,
Proyek yang lakukan bersama dengan William dan Rayhan, Zehan benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dia ingin membuktikan pada sang Papa, yang lagi-lagi menghina dan meremehkannya.
Pembangunan perumahan elit itu sudah berjalan,, dan sudah ada beberapa rumah yang berdiri. Walau belum sepenuhnya selesai,, namun sudah sangat terlihat, kalau rumah itu sangat besar dan mewah.
Saat ini, Zehan sedang istirahat makan siang bersama Rayhan. Mereka berniat pergi ke salah satu cafe dekat proyek pembangunan. Zehan meraih ponselnya karena ingin menghubungi Alish.
" Tuan,, maaf. Saya terima panggilan telepon dulu. " pamit Rayhan saat ponselnya berbunyi. Zehan hanya mengangguk sementara Rayhan berjalan sedikit menjauh dari Zehan.
Zehan masih sibuk dengan ponselnya, tanpa dia sadari, kaki nya sudah melangkah masuk ke jalan raya, untuk menyebrang.
Tiba-tiba saja,,,
*Ckiiittt,,,
Braakkk*,,,,
Rayhan seketika langsung menoleh,, matanya membelalak melihat kejadian yang ada dihadapannya.
" Tuaannn,,,,!!!! " Rayhan berteriak sambil berlari mendekat kearah Zehan yang tubuhnya terpental jauh.
Kepalanya mengeluarkan banyak darah, dan matanya terpejam rapat. Mata Rayhan memerah menahan airmatanya.
Rayhan lalu menoleh ke arah asal proyek, dan berteriak dengan kencang.
" Ardii,,,,!!. Cepat keluarkan mobil,,,!!! " .
__ADS_1
Sementara mobil yang menabrak Zehan, sudah melarikan diri. Tubuh dan kaki Rayhan terasa lemas, tak bertenaga.
" Tuan,,,? Jangan lagi, Tuan. " Rayhan benar-benar takut, kejadian yang sama terulang lagi.
Sebuah mobil mendekat kearah Rayhan yang memangku kepala Zehan yang sudah berlumuran darah.
Rayhan dibantu para pekerja proyek mengangkat tubuh Zehan dan membaringkannya di kursi belakang mobil. Sementara Rayhan duduk dikursi depan.
Dengan kecepatan tinggi, Ardi, supir kantor Rayhan melajukan mobilnya kearah rumah sakit. Dan untung saja, ada rumah sakit dekat pembangunan proyek tersebut.
Mereka sampai dirumah sakit dalam waktu sepuluh menit saja. Beberapa perawat mendekat sambil mendorong brankar. Mereka bersama mengeluarkan dan mengangkat tubuh Zehan ke atas brankar.
Para perawat mendorong brankar tersebut dengan setengah berlari masuk kedalam ruang IGD. Sementara Rayhan menunggu didepan pintu. Tangan dan tubuhnya masih bergetar.
Walau wajahnya terlihat pucat dan ketakutan, namun Rayhan masih ingat untuk segera menghubungi William dan Alish.
William yang mendengar kabar itu, benar-benar terkejut hingga ponselnya terjatuh, lepas begitu saja dari genggaman nya.
Sementara Alish yang sedang bersiap untuk berangkat kerja, mendadak hatinya diliputi gelisah. Ditambah lagi, bingkai foto pernikahan mereka tiba-tiba saja jatuh, membuat Alish semakin gelisah dan khawatir.
Baru saja Alish ingin membersihkan serpihan kaca bingkai foto tersebut, ponsel Alish berdering. Begitu Alish mengangkat panggilan teleponnya, bagaikan tersambar petir dia mendengar berita yang disampaikan oleh Rayhan.
Alish jatuh terduduk karena tubuh dan kakinya terasa lemas. Air matanya seketika mengalir deras. Bahunya sampai bergetar, dan is akan tangis pun terdengar.
" Innalillahi,,,. Ya Allah,,, kuatkanlah hamba menghadapi ujian dari Mu ini. " lirih Alish pelan.
Alish berusaha untuk bangun dan meraih tasnya. Dia pun pergi menuju rumah sakit. Dengan setengah berlari, Alish bergegas menuju jalan raya untuk naik ojek, agar lebih cepat sampai.
Namun begitu Alish sampai didepan gang,, ternyata pangkalan ojek itu sepi. Alish memejamkan matanya, menahan air mata dan menekan rasa gelisahnya.
" Neng Alish,,,,? " panggil seseorang membuat Alish membuka matanya.
" Bang Bejo,,. "
" Mo kemana, Neng,,,? Kayaknya gelisah amat. " tanya Bejo yang masih nangkring duduk diatas motornya, lengkap dengan jaket dan helm berwarna hijau.
Memang setelah Bejo selesai membantu Zehan merenovasi rumah Alish, uang yang didapat dari Zehan cukup banyak. Mampu untuk membeli sebuah motor untuk usaha ojek online.
" Tolongin apaan, Neng,,? " tanya Bejo lagi, melihat wajah Alish yang panik.
" Anterin Alish kerumah sakit XXX,,, " Rayhan memang memberitahu Alish untuk segera datang kerumah sakit tersebut.
" Kerumah sakit,,,? Emang siapa yang sakit, Neng,,? " tanya Bejo lagi.
" Suami saya, Bang. Dia kecelakaan, dan sekarang masih didalam IGD. "
Sontak Bejo terkejut, dan dengan tergesa, Bejo memberikan helm pada Alish.
" Ayo, Neng. Cepetan Abang anterin. " Alish segera meraih helm tersebut dan memakainya.
Alish pun naik keatas motor Bejo dan mencengkram besi bagian belakang motor itu.
" Neng,,,. Pegangan ujung jaket Abang aja,, soalnya Abang mo ngebut,, biar cepet sampe. " seru Bejo.
Tanpa pikir panjang lagi, Alish pun memegang ujung jaket Bejo. Bejo pun segera melajukan motornya kencang.
Bejo ikut merasa cemas, bagaimana pun juga, kehidupan nya sedikit berubah karena bantuan dari Zehan. Dan Bejo merasa berhutang budi pada Zehan.
Setengah jam kemudian,, Alish dan Bejo sampai dirumah sakit tersebut. Niat Alish ingin membayar ditolak Bejo.
" Tidak usah, Neng. Abang do'a in semoga, Bang Zehan segera lekas sembuh. Semoga keadaan nya, tidak parah dan baik-baik aja. "
Alish mengangguk walau merasa tidak enak hati, karena tidak membayar.
" Terimakasih untuk do'a nya, Bang. Dan terimakasih sudah mau nganterin Alish. "
" Sama-sama, Neng. Udah,, buruan Neng masuk,, Abang kagak bisa masuk ya, Neng. "
" Iya, Bang. Ga apa-apa,, sekali lagi terimakasih. "
__ADS_1
Bejo mengangguk, dan Alish pun segera masuk kedalam rumah sakit. Alish setengah berlari, menuju ruang IGD setelah dia bertanya pada salah seorang perawat.
Alish melihat Rayhan dari kejauhan, yang masih mondar-mandir didepan pintu ruang IGD. Rayhan duduk sebentar,, lalu bangun lagi.
" Kak Ray,,, " panggil Alish begitu dia mendekat.
Rayhan menoleh dan wajahnya kembali semakin khawatir karena melihat mata Alish yang sembab.
" Non Alish,,, " suara Rayhan sangat lirih dan pelan.
" Bagaimana keadaannya, Kak,,? " Rayhan menggeleng lemah.
" Masih didalam,, entah apa yang terjadi,, mengapa lama sekali. "
Air mata Alish kembali keluar. Belum sempat Alish bertanya lagi,, suaranya derap langkah mendekat kearah mereka, membuat Alish menguringkan niatnya untuk bertanya.
" Ray,,,,!! Hyeong,,,? " Rayhan hanya menoleh kearah ruang IGD tanpa menjawab.
William merasakan tubuhnya kembali lemas. Dia pun memilih duduk dikursi, diikuti oleh Alish, yang tubuhnya pun merasa lemas.
" Kakak ipar,,, " panggil William lirih.
Alish menoleh,, dan air mata nya kembali deras keluar. Bahunya bergetar, menahan isak tangisnya. William benar-benar merasa hatinya hancur, melihat Kakak iparnya menangis. Sementara Kakaknya sedang berjuang didalam sana.
" Hyeong,,,. Kuatlah,, dan jangan pergi. Kakak ipar bisa benar-benar hancur tanpamu. " ucap William dalam hati.
Tak lama kemudian,, pintu ruang IGD terbuka. William dan Alish beranjak dari duduknya dan segera menghampiri dokter yang keluar.
" Bagaimana keadaan suami saya, Dok,,,? " tanya Alish cemas.
Dokter tersebut menghela nafas lalu menunduk kemudian menggelengkan kepalanya.
" Pasien mengalami benturan hebat dikepalanya,, dan banyak kehilangan darah. Ada bekas luka juga yang cukup parah dibagian belakang kepala,, apa pasien pernah kecelakaan sebelum nya,,? "
" Pernah Dok,, beberapa bulan lalu dan sempat koma selama dua bulan lebih" sahut William.
Dokter itu kembali menghela nafas panjang.
" Dan kecelakaan kali ini, membuat bekas luka tersebut kembali terbuka, dan pasien sempat mengalami kritis dan saat ini, pasien koma. "
DEG,,,,
Alish merasa dunianya berhenti berputar. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga hanya untuk sekedar berdiri. Alish jatuh terduduk,, dan tangisnya kembali pecah.
William dan Rayhan pun merasakan hal yang sama, namun mereka memaksakan diri untuk tetap kuat.
" Pasien sudah dipindahkan di ruang ICU. Dan untuk sementara waktu tidak boleh dijenguk. "
" Baik, Dok. " jawab William pelan.
" Kalau begitu, saya permisi. "
" Terimakasih,, Dokter. " ucap Rayhan dan William bersamaan.
Dokter itu mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa like, vote, comment dan hadiahnya. Ditunggu ya,, dan terimakasih.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌***
__ADS_1
***