The Ghost Handsome

The Ghost Handsome
TGH 37


__ADS_3

Zehan menarik nafas lega, dan mulai melajukan mobilnya lagi.


" Masalah yang satu sudah selesai, kini tinggal satu lagi. Masalah menghadapi orang rumah. Sepertinya akan sedikit sulit. " gumam Zehan.


Zehan menghentikan mobilnya digarasi rumahnya. Dilihatnya Rahmad tengah mencuci salah satu mobil milik keluarganya.


Zehan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


" Paman,,! " panggil Zehan pada Rahmad dari dalam mobil.


Rahmad menoleh lalu berjalan menghampiri mobil Zehan, setelah dia meletakkan kanebo dan mencuci tangannya.


" Masuk lah, Paman. Ze mau bicara sebentar. " ucap Zehan setelah Rahmad berdiri disampingnya.


Rahmad masuk kedalam mobil dan duduk di kursi disamping Zehan duduk.


" Ada apa, Nak,,? " tanya Rahmad.


Zehan menarik nafas lagi dan membuangnya perlahan. Tatapan Zehan lurus kedepan, tampak kosong dan penuh beban.


" Akhirnya Ze sudah bertemu dengan Alish, dan sudah mengingat semuanya, Paman. " jawab Zehan.


" Alhamdulillah,,,. Lalu,,? " tanya Rahmad.


" Ze merasa sangat senang, dan ingin kembali bersamanya. Hanya saja, Alish merasa sedikit ragu. Begitu juga dengan Ze. "


" Kenapa,,? " tanya Rahmad lagi. Zehan menghela nafasnya kasar.


" Selama ini, Ze merasa hampa, walaupun Ze berkecukupan dalam materi. Tapi saat Ze ingat kembali tentang Alish dan ingin kembali bersamanya, Ze merasa hidup Ze lebih berarti dan berwarna. " jawab Zehan. Rahmad tersenyum.


" Kau mencintai nya, Nak,,? " tanya Rahmad. Zehan tersenyum tipis.


" Dia adalah gadis pertama yang selalu hadir dalam ingatanku dan mengganggu hariku. Dia gadis pertama yang membuatku merasakan apa itu cinta dan kasih sayang. Dia adalah penerang dalam gelapnya hidupku. Bersamanya Ze selalu bisa tersenyum dan tertawa. Bersamanya, Ze merasa nyaman. Ze selalu ingin bersamanya, Paman. " jelas Zehan.


Rahmad kembali tersenyum dan mengusap pelan bahu Zehan.


" Lalu apa masalahnya, Nak,,? " tanya Rahmad lagi.


Pertanyaan Rahmad membuat Zehan kembali menghela nafas panjang.


" Masalahnya gadis itu yatim piatu yang diasuh di Yayasan Kasih Bunda. Saat ini, di hanya bekerja di salah satu toko waralaba yang cabangnya ada di mana-mana. Dia pun hanya mengontrak sebuah rumah yang sangat sederhana, karena separuh gajinya dia berikan pada Yayasan itu. Dia merasa minder bila bersama Ze. Dia tidak yakin, bila kedua orangtua Ze akan merestui kami. Ze sendiri pun tidak yakin. " jelas Zehan sambil tersenyum kecut.


Rahmad menepuk-nepuk pelan bahu Zehan.


" Coba dibicarakan dulu dengan Tuan dan Nyonya, Nak. Dengarkan apa pendapat mereka, karena bagaimana pun juga, mereka adalah orangtua kandungmu. " nasihat Rahmad dengan bijak.

__ADS_1


" Ze tahu, Paman. Yang membuat Ze kalut adalah Alish tidak mau bersama dengan Ze apabila kami tidak mendapatkan restu dari mereka. Hahh,, Ze bingung, Paman. "


" Sabarlah, Nak. Dan banyaklah berdoa. Kalau Paman dan Bibi mu akan selalu mendukung dan merestui dengan siapapun nanti nya kau bersama. Selama kau merasa bahagia, kami pun akan bahagia dan mendo'akan yang terbaik untuk kalian. "


Lagi-lagi Zehan menghela nafas dan mengangguk.


" Terimakasih, Paman. " ucap Zehan pelan.


" Masuklah,,, dan bicarakanlah dengan Tuan dan Nyonya. Ingat,, bicaralah dengan pelan dan lembut. " ujar Rahmad.


Zehan mengangguk lalu keluar dari dalam mobil diikuti oleh Rahmad. Rahmad pun kembali melanjutkan pekerjaannya sementara Zehan masuk kedalam rumahnya, untuk menemui kedua orangtua nya.


" Ma,, Pa,,. " sapa Zehan begitu dia melihat kedua orangtuanya tengah duduk diruang keluarga.


Sabilla sedang menonton TV ditemani oleh Mark yang sibuk dengan ponselnya. Mereka pun menoleh kearah Zehan yang sedang berjalan menghampiri mereka.


" Kau sudah pulang, Ze,,. " Sabilla menyapa balik Zehan.


" Ma,, Pa,,. Ada yang ingin Ze bicarakan, apa Mama dan Papa bisa,,? " tanya Zehan.


" Sekarang, Ze,,? " Mark bertanya balik.


" Iya, Pa. ".


" Baiklah,, kita bicara diruang kerja Papa. " sahut Mark seraya berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya. Diikuti oleh Zehan dan Sabilla.


" Ze ingin segera menikah, Pa. " jawab Zehan to the point.


Mark dan Sabilla terkejut dengan ucapan Zehan yang tiba-tiba.


" Benarkah, Nak,,? Dengan siapa,,? " tanya Sabilla yang tidak dapat menutupi rasa bahagianya walau sedikit terkejut.


" Mama ingat, saat Ze baru sadar dari koma, Ze menyebutkan nama seseorang,,? " tanya Zehan.


" Tentu saja, Mama ingat. " jawab Sabilla sambil mengangguk.


" Ze akan menikah dengan gadis itu, Ma. " jawab Zehan tegas.


" Tunggu,,,. Bukannya waktu itu, saat Mama tanya, kau bilang tidak ingat siapa dia,,? " tanya Sabilla sedikit bingung.


" Ya.. saat itu Ze memang tidak mengingatnya, tapi Ze sekarang sudah ingat siapa gadis itu dan Ze ingin kembali bersamanya, Ma. " jelas Zehan.


" Alish,,. Benarkan itu namanya,,? Zehan mengangguk.


" Memang siapa dia,,? " tanya Sabilla. Zehan tersenyum sumringah sambil membayangkan sosok gadis dalam hatinya.

__ADS_1


" Dia hanya gadis biasa, yang hidup dengan bekerja keras melawan kejam nya dunia. Dia gadis penerang dalam hidup Ze. Dia gadis yang bisa menghilangkan semua sifat buruk Ze dan mengajarkan Ze menjadi lebih sabar dan manusiawi. Dia yang membuat dunia Ze lebih berwarna dan Ze nyaman bersamanya. Dia pula lah yang bisa membuat Ze selalu tersenyum dan tertawa. Ze mencintai nya, Ma. " jelas Zehan panjang lebar.


" Dimana dia tinggal,,? " tanya Sabilla lagi. Sejak awal pembicaraan, Mark hanya diam dan menyimak dengan wajah sedikit tegang.


" Dia tinggal di sebuah rumah sederhana, agak jauh dari sini. " jawab Zehan.


" Lalu bagaimana dengan keluarganya,,? " tanya Sabilla, membuat menghela nafas.


Pertanyaan inilah yang sangat ditakutkan Zehan. Zehan terdiam untuk sesaat. Matanya terpejam dan Zehan kembali mengatur nafasnya. Zehan membuka matanya perlahan, Ya,, dia harus siap menghadapi resiko apapun saat bicara tentang Alish.


" Dia hanya seorang gadis yatim piatu yang diasuh disebuah Yayasan. Tempatnya lumayan dari sini, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. " jawab Zehan lirih.


" Kau yakin ingin bersamanya, Nak,,? " tanya Sabilla sambil meraih tangan Zehan dan menggenggam nya.


Zehan mengangguk dan menatap Sabilla dengan memohon.


" Ze mencintai nya, Ma. Dan Ze ingin selalu bersama nya, melindunginya, menemani kesendirian nya. " jawab Zehan memelas.


" Kau yakin ini cinta, Nak,,? Bukan sekedar kasihan atau simpati,,,? " tanya Sabilla lagi. Zehan menggeleng pelan.


" Tidak, Ma. Ze benar-benar mencintainya dan ingin menikah dengan nya, bersama selamanya. " jawab Zehan yakin.


Brraakkk,,,


Mark menggebrak meja kerjanya dengan kencang, Zehan menutup matanya. Hal yang sudah dapat diduganya.


" Tidak bisa,,!!! Kau sudah Papa jodohkan dengan anak dari rekan bisnis Papa. " seru Mark dengan suara menggelegar.


Seketika Zehan membuka matanya dan membelalak karena terkejut. Begitu juga dengan Sabilla, dia tidak menyangka kalau suaminya sudah melakukan perjodohan anaknya tanpa memberitahu nya.


****


Makin seru nih kayaknya,,, yang sabar ye bang Zehan..


~~ **Bersambung dulu ye,,


Jangan lupa mainkan jari kalian untuk menekan tombol like, vote, comment and hadiahnya.


Ditunggu ya,, dan terimakasih untuk yang sudah mau mampir dikarya recehku ini.


Jangan menghina bila tidak suka karena menulis itu tidak mudah.


Hargai karya pemikiran othor karena othor berpikir dengan susah payah dan penuh dengan kehaluan.


Salam love and peace dari othor,,

__ADS_1


❤❤❤✌✌✌*****


****


__ADS_2